
Lorong sempit rumah sakit Sanglah tetap tampak kelam, meski kala itu mentari masih menari. Rengekan, tangisan, dan dengkuran pulas bocah-bocah itu kompak berpadu penuhi lorong. Memang benar bila mental dan fisik mereka beragam. Namun satu yang sama, mereka semua berada dalam hangatnya dekapan orang tua.
Pria muda bermasker hijau baru saja keluar dari salah satu bilik kaca. Sambil membawa dua atau tiga lembar kertas, sosoknya berhasil curi perhatian ibu-ibu muda yang duduk berderet menunggu kehadirannya. Satu nama disebut oleh pria itu, membuat salah satu wanita dengan balita digendongannya sontak bangkit. “Ayo, ayo terapi dulu,” ucap pria tadi sambil menuntun mereka ke dalam ruangan. Ruangan terapi khusus bagi penderita disabilitas di Rumah Sakit Sanglah
Persis setelah pintu itu tertutup, para ibu muda itu kembali mengobrol. Seketika menyulap lorong itu bak ruang arisan. Walau raut sendu sama sekali tak tempeli rupa mereka, namun lingkaran hitam di bawah bola mata tak dapat bohongi bila sejujurnya lelah telah menyergap. I Gusti Ayu Eka Novianti (31) pun tak dapat mengelak lagi. Satu tahun hampir berlalu. Sejak putra pertamanya lahir dengan virus rubella yang menyerang kondisinya. Satu tahun pula dirinya lakoni peran antara menjadi seorang ibu siaga dan perawat. Meski benang kusut kerap penuhi benak, Novianti tak pernah menghakimi Tuhan ataupun garis tangannya. “Ya namanya juga titipan dari Tuhan, makin banyak cobaan, berarti Tuhan percaya saya ini orang tua yang kuat,” ujar wanita bertubuh subur itu sambil pamerkan deretan rapi gigi putihnya.
Melangkah keluar dari lorong itu, halaman belakang dengan satu pohon besar di tengahnya menyambut lensa mata. Daun-daun hijau itu seolah tak cukup jadi tameng dari sinar mentari. Belum lagi hawa panas rasanya memeras habis bulir-bulir keringat. Membuat beberapa orang tua yang menunggu di sana tak jarang mengusap dahi. Lembaran kertas dilipat asal dijadikan kipas KW sebelas, memberi kesejukan untuk buah hati mereka yang tertidur pulas di dekapan. Salah satu di antaranya, bernama Wayan Belayani. Gadis berusia 16 tahun pengidap Cerebral Palsy (Kelumpuhan otak) itu terlihat antara tidur dan rebah tak berdaya di atas bale bengong. Ayahnya, I Nyoman Sudira (44), setia mendampinginya di sana. Satu tangannya bergerak lincah mengganti lantunan lagu religi selanjutnya untuk hiasi tidur siang putrinya. Gerakannya terkesan sangat hati-hati. Seolah Belayani akan terbangun dan menangis hanya dengan lalat yang hinggap di hidungnya. Namun nyatanya, pria dengan tiga anak itu, memang pernah melewati masa-masa itu. Masa dimana tangisan Belayani tak pernah absen di telinganya selama nyaris 6 tahun lamanya. “Mau siang, mau malam, nangis saja kerjaannya. Mau bagaimana lagi, saya dan istri harus jalani ini, tiap malam gantian jaga. Selama enam tahun itu saya tidak pernah bisa tidur nyenyak,” tutur parau I Nyoman Sudira.
Mengintip kisah Cerebral Palsy lainnya, Rama Gerald Jade (17) tampak begitu santai berbagi cerita tentang adik bungsunya yang harus menerima kenyataan pahit tersebut. Meski banyak yang bilang, hanya orang tua saja yang peduli seluk beluk kondisi buah hati mereka. Berbeda dengan Rama, remaja dengan kumis tipis itu tampak begitu merekam jelas segala kondisi dan perlakuan khusus untuk Rafa, adiknya. Dua adik dengan beda kondisi, berusaha selalu ia pantau semampunya. “Di keluargaku, kami selalu menganggap Rafa itu bocah yang normal. Jadi nggak ada perbedaan yang aku rasa di antara kedua adikku. Bedanya, justru sama Rafa aku beri perhatian yang lebih,” ujar remaja berseragam putih abu itu seolah memberi bukti, walau dengan kekurangan yang saudaranya miliki, kasih sayang sebagai seorang kakak tidak akan berkurang untuk adik kecilnya. (tik)

