
Setelah memasuki gang penuh kerikil, dongkrak motor tim Madyapadma akhirnya menyentuh tanah YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat) Bali, tepatnya di kawasan Jimbaran. Satu gadis kecil mengintip malu-malu dari dalam. Senyumannya tampak manis. Namun siapa yang tahu kisah hidupnya tak semanis itu.
Kala itu senja baru saja menyapa. Langit Jimbaran tampak anggun dengan warna ungu dan jingga yang jadi satu paduan. Masih termasuk cukup terang, sebab plang YPAC Bali dapat dibaca dengan jelas tanpa bantuan cahaya lampu. Begitu banyak karya lukisan yang dibiarkan menyebar di sepanjang dinding koridor asrama yang bernuansa putih dan biru langit itu. Hanya membutuhkan waktu kurang dari semenit, kedatangan tim Madyapadma akhirnya dirasakan oleh mereka. Satu per satu anak mulai keluar dari kamar. Raut penasaran begitu ketara. Antara senyum ramah dan tatapan linglung, menyapa lensa mata kami. Tak lama kemudian sosok pria tua berkacamata bergabung di antara mereka. Mulai mengobrol akrab, ternyata namanya, Drs. I Putu Nitiyasa. Ketua Yayasan YPAC Bali, yang kadang sehari-hari dapat jadi tukang sapu, dapat pula jadi supir bagi mereka.
Suara halus Nitiyasa mempersilakan duduk di sofa nyaman, menjadi awal dibukanya obrolan serius. Dengan tenang bak miliki banyak waktu untuk tim Madyapadma, pria berpenampilan baju rumahan sederhana itu mengupas habis YPAC Bali. Berdiri semenjak tahun 1975, membuat mata merasa terbohongi sebab bangunannya yang masih cukup kokoh berkat disulap renovasi beberapa kali. Berawal dari empat orang anak saja yang dibimbing, hingga kini YPAC Bali telah menampung sebanyak 40 anak, dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Salah satu di antara mereka bernama Dewa Ayu Yuliantari (15). Penari kecil asal Gianyar yang kehilangan gerak lincah kedua kakinya sebab penyakit Guillain-Barre Syndrome (Gejala kelemahan anggota gerak tubuh). Tak pernah Jupe, panggilan istimewanya di YPAC Bali, bayangkan bila akibat suntikan campak gratis dari sekolah akan merenggut mimpi-mimpinya. “Gimana ya, kaget pastinya, kan gimana sih caranya saya bisa nari lagi kalau sudah begini?” ujar gadis berkepang dua itu dengan sorot mata yang meredup. Namun memilih bergabung menjadi bagian keluarga besar YPAC merupakan pilihan yang tidak pernah ia sesali. Segenap dorongan dan dukungan didapatkannya dari sana. Sukses besar bangkit dari bayang-bayang rasa putus asa, dibuktikan saat nama indahnya keluar jadi pemenang kompetisi menari di atas kursi roda tingkat provinsi.
Tidak hanya Jupe yang dapat mengukir prestasi walau dengan kondisi yang dibatasi, Putu Azis Saputra (22) lebih dulu pernah menyumbang prestasi emas. Dari pernah mewakili Bali dalam ajang Jambore Pramuka nasional, sampai perlombaan balap kursi roda di Makasar, pernah laki-laki berperawakan kurus itu lalui. Di tengah mengingat rekaman masa lalunya, remaja yang juga kehilangan fungsi gerak kaki itu, sama sekali tak keberatan membagi kondisinya dalam lingkungan rumah dulu. “Dulu, walaupun orang-orang sekitar rumah bilang gapapa kita semua sama, tapi rasa minder itu pasti ada,” tutur laki-laki yang bagai kakak tertua di YPAC Bali itu. Lantas sempat ada jeda yang cukup lama ketika dirinya bingung memilih YPAC Bali atau lingkungan rumah. Namun dengan mantap, remaja yang bermimpi menjadi seorang pengacara itu menyebut YPAC Bali ketimbang dengan lingkungan rumahnya dulu. “Begitu masuk ke sini, begitu mengikuti lomba-lomba, temen-temen di rumah itu jadi kita yang ditonton, bukan kita lagi yang cuma bisa menonton,” paparnya tegas di bawah remang-remang cahaya lampu.
Sudah pasti suka dan duka pernah para bocah dan remaja itu cicipi selama menetap dan mengecap YPAC Bali sebagai dunia baru penuh warna. Namun untuk selamanya YPAC Bali tak akan pernah berhenti menjadi payung teduh bagi mereka. (tik)

