
Melangkah ke depan gunjingan semakin kuat. Menengok ke arah kanan dan kiri, sekitar sibuk berbisik-bisik. Orang-orang tersenyum sinis. Dunia seakan ingin menelan. Kekacauan dunia maya terbawa dan menghantui dalam ranah pergaulan.
Cyber-bullying dipicu oleh perasaan dalam diri seseorang. Tidak diakui, tidak nyaman, tidak diterima, dan tidak diberi aktualisasi diri ialah cikal-bakalnya. Hari Imam Wahyudi, S.Psi., Psikolog, C.Ht ketika diwawancarai (21/05) mengungkapkan bahwa banyak orang yang lupa atau tidak sadar di sekeliling mereka tidak seluruhnya memiliki mental tangguh. "Bagi orang yang biasa digojlok seperti atlet misalnya, itu tidak akan ada masalah. Tapi di sisi lain, tak sedikit orang yang mudah tersinggung, rapuh. Nah di sini, yang sering diabaikan," ujar Hari.
Tanpa tahu sebab, korban mendapat cemooh. Pelaku yang seakan dibutakan rasa puas, membabi buta, mengumpulkan sekawan untuk menyakiti perasaan orang lain. "Aku gak merasa melakukan kesalahan. Tiba-tiba aja semua nyindir-nyindir, tiba-tiba jelek-jelekin aku," tutur salah seorang remaja berinisial A. Hujatan, hinaan, fitnah, seperti santapan yang rutin ditelannya. Segalanya dianggap buruk. Ada saja kesalahan yang ditemukan dan akan dijadikan umpan segar untuk melancarkan aksi. "Di grup Line semua asumsi negatif dari pihak sana (pelaku) diumbar-umbar seakan itu bener. Sampe segala cara dudukku diungkit-ungkit, katanya gak sopan sebagai cewek. Masalah suci gak suci digembar-gemborin di grup itu," terang A.
Beranak-pinak, cacian makin menyudutkan. Sekitar kian menjauh, menyisakan kesangsian mendalam. Sejumlah tatapan arogan diterima, tak nampak wajah-wajah empati. "Temen yang biasa aku ajak, mereka bilang itu hasil dari merebut biar jadi temenku, padahal gak gitu," katanya terheran-heran. Seruan untuk tidak bergaul dengan A bagai wabah.
Ekor permasalahan ini bukan tak mungkin terbawa pada keseharian. Dalam kondisi di bawah tekanan seperti ini, korban tidak salah bila melakukan pengaduan pada pihak yang siap menerima keluh kesah siswa, yakni Bimbingan Konseling (BK). Namun tidak bagi A. Rasa tak percaya menghujam tatkala mendengar pengakuan A. "Aku gak ada niat buat ngelapor ke BK. Bahkan aku juga gak cerita ke siapa-siapa. Tapi setauku mereka (sosok-sosok pelaku-red) justru yang mau ngelaporin aku ke BK," akunya. Walau memang hanya niatan saja, tetapi sampai detik ini pun tanda tanya besar belum terpecahkan terkait apa kesalahan yang diperbuat dan mengapa seakan ia yang menjadi dalang mencuatnya pertikaian dunia maya ini.
Media sosial bak saksi bisu. Menyediakan lahan selama dua puluh empat jam penuh. Entah mendukung pelaku atau hendak membela korban. Tetapi sejatinya tetap hanya perantara. Para pengguna yang keliru. "Aku yakin setiap orang pernah buat salah. Di Bali ada yang namanya karma dan aku percaya itu," tegas A. Dalam realita dan pada media sosial terdapat beberapa orang yang menunjukkan sikap sedikit berbeda. "Dalam grup itu gak semuanya, kebanyakan ikut-ikutan. Dalam pandanganku, kalau gak ikut bully, justru akan ikut kena hinaan-hinaan itu. Jadi kalau ada yang ribut, ya ribut semua. Nyatanya, kayak acuh tak acuh aja gitu," lanjutnya.
Setali tiga uang, pengalaman tak mengenakkan dialami oleh Luh Putu Mia Jayanti pada media sosial. Video yang dibuat dengan maksud memperoleh kesenangan pribadi malah disebarluaskan secara sepihak atau tanpa izin darinya. "Malu pasti malu. Kesel pasti kesel. Pertanyaan semacam 'Kenapa cuma videoku yang disebar kayak gini? 'Kenapa yang lain enggak?' sempet ada," ucap Gek Mia sapaan akrabnya.
'Diam itu emas' menjadi semboyan penguatan. Ada titik krusial dan tiap korban memegang skalanya masing-masing. "Video yang disebar itu gak sampe aku laporin ke BK. Tapi kalau sifatnya udah menghina, menyakiti secara mendalam, baru gak bisa ditolerir, aku akan lapor ke BK," jelas siswi yang kini duduk di kelas XII ini. (rik)

