
Di atas panggung dan di bawah temaram lampu sorot warna-warni, Adiyat Yori Rambe berujar lantang, “Kebanyakan dari kami adalah victim atau pelaku. Nah, kalau saya victim. I’m proudly say, I was a victim of bullying.” (15/03)
Mau tidak mau, kita semua mulai mengakui bila cyberbullying kini semakin menggila. Hal itu pun juga diakui oleh Adiyat Yori Rambe (27), tatkala membawakan talkshow anti cyberbullying di kawasan Ciputra World Mall, Surabaya. Dengan dibalut jaket bernuansa hitam, laki-laki yang akrab disapa Yori itu, datang di tengah acara final Communiphoria 2019 bersama senyum ramah yang selalu melekat di rupanya. “Untuk sekarang cyberbullying cenderung meningkat. Karena awareness orang itu masih kurang. Oleh karena itu, kita mengajak teman-teman semua gimana caranya mengurangi cyberbullying,” tutur Yori, yang merupakan salah satu sosok relawan dari komunitas anti bully, Sudah Dong.
Komunitas Sudah Dong hadir di tengah-tengah dunia kaum milennials yang tumbuh bersama kecanggihan teknologi. Seiring mereka beranjak bertambah usia, maka teknologi pun bertambah canggih pula. Namun, bisik-bisik sana situ kerap kali menunjuk kecanggihan teknologi tersebut sebagai kambing hitam dari adanya tindakan cyberbullying. Sebab, tanpa sengaja dunia maya menjadi lapak bebas para pelaku untuk puas menindas. “Kita tidak bisa menghindari pertumbuhan teknologi. Apa yang bisa kita lakukan adalah how to create a good environment or a good friendship,” ungkapnya tegas dengan raut wajah yang serius. Bergabungnya Yori ke dalam Komunitas Sudah Dong ini pun guna ikut terjun menyuarakan dengan lantang semangat anti bullying. Namun siapa sangka dibalik tirai aksi heroiknya, nyatanya seorang Adiyat Yori Rambe sempat menjadi korban tindak penindasan.
Tanpa memasang gurat malu, kisah kelamnya larut begitu saja dan menggema di seantero Ciputra World Mall. Dirinya mengaku, detik-detik gelap itu selalu membekas dalam memori. Terekam jelas bagai putaran film, yang siap ditonton kapan saja. Tersadar dirinya tak tahan lagi dibekap segala tekanan, Yori memilih untuk berani bicara. “Saya sudah capek dibully, dan saya merasa harus keluar dari circle itu. The most important thing is that you have to speak up, itu yang pertama, karena dengan speak up kita dapat membuka cara-cara yang lain,” papar laki-laki berwajah teduh itu dengan sorot mata meyakinkan.
Berbeda waktu, namun hal serupa pun juga dilontarkan oleh Anindya Vika Desinta, selaku ketua panitia Comunniphoria 2019. “Memang buat speak up itu pasti malu, aku sendiri pun begitu. Nah, kita mengadakan talkshow anti cyberbullying ini untuk membuka pikiran, bahwa itu bukanlah hal memalukan buat dilaporkan. Tapi itu sudah benar,” kata gadis bersurai hitam panjang itu dengan nada santai. Baik Yori maupun Vika, mereka berdua percaya, diam bukanlah solusi yang tepat bagi mereka yang selama ini menangis menjerit kata tolong dalam hati. Melalui Comunniphoria, remaja diharapkan dapat bicara dengan lantang. Berani gebrak mereka yang ingin menjebak ke dalam lingkaran gelap cyberbullying. (kar)

