
Jangan mau rugi merogoh kocek mahal-mahal. Tak hanya nikmat di lidah, kini nikmati juga keseksian makanan melalui lensa food photography (13/03)
Senyuman manis dan nada garang dari seorang Karlina Chandra (31), merupakan satu paduan yang menarik dalam workshop food photograpy, Comunniphoria 2019. Tak jauh berbeda pula dengan tangan mungilnya yang siap meracik makanan lewat teknologi. Dihadapkan oleh dua kotak donat di atas meja, wanita alumni universitas Kristen Petra ini dengan sigap menyulap tampilan monotonnya. Dibekali dengan property indah dan unik miliknya, beberapa peserta Comunniphoria 2019 saling berebut mencoba mengupas sisi tampilan seksi makanan.
Di samping itu, jangan membayangkan bila akan terlilit manis kamera digital canggih di sekitar leher Karlina. Hebatnya, sederetan foto indah hasil jepretan tangannya hanya bermodal satu smartphone dan cahaya natural mentari, juga pastinya permakan cantik dari aplikasi editor foto. Namun, bekerja menjadi seorang food stylist bukan perkara mudah yang dapat dilalui dengan mulus. Beberapa makanan terkadang sukar untuk mengulik dengan tepat sisi keindahannya. “Makanan yang paling sulit untuk difoto itu, makanan lokal. Kenapa? Ya karena bentuknya yang kurang menarik,” ungkap tajam Karlina, saat ditemui seusai workshop yang dipandunya berakhir. Tak hanya itu, wanita berambut sebahu itu juga mengaku sempat beberapa kali berada di titik jenuhnya dalam bekerja dengan lensa dan makanan.
Namun kembali lagi jiwanya telah merekat erat dengan nama food stylist. “Menurutku tujuan food photography itu dimana kita menampilkan keindahan makanan, menampilkan keseksian makanan. Dan memang dasarnya aku ini suka keindahan, itu saja,” ucap wanita kelahiran tahun 1988 itu dengan gaya khasnya yang serba santai. Lantas, sebagai seorang yang mendalami bidang food photography, Karlina angkat bicara mengenai hubungan dekat antara keindahan makanan dan teknologi. “Sekarang sudah ada handphone yang baru, yang semakin canggih, canggih, dan canggih. Itu sangat membuat orang yang pakai kamera digital jadi panas gitu kan, kalau bisa gimana caranya biar nggak pakai kamera lagi,” ujarnya dengan gelak tawa mengutarakan isi hatinya yang tak ingin dibawa pusing oleh rumitnya kamera digital.
Di lain sisi, siapa sangka Anindya Vika Deswinta, selaku ketua panita Comunniphoria 2019 juga miliki kegemaran menikmati lezatnya makanan dari sudut kaca lensa. Sayangnya, dalam pandangan Vika, generasi milennials cenderung asal jepret dan langsung mengunggahnya ke halaman media sosial. Padahal menurutnya para remaja masa kini, rata-rata telah menggenggam ponsel-ponsel canggih ternama. Dengan kenyataan miris itu, Comunniphoria 2019 pun lahir dengan mengadakan workshop food photography guna memeriahkan serangkaian acara final yang tentunya sarat akan manfaat. “Oh jadi anglenya seperti ini, oh porsi cahayanya seperti ini. Jadi handphone kalian yang canggih-canggih itu lebih berguna, lebih bermanfaat. Intinya harga yang kamu bayar itu, akan sesuai dengan hasil yang kamu dapat,” tuturnya dengan seulas senyum manis di penghujung obrolan. Dengan adanya Communiphoria 2019, kini makanan tak lagi hanya dinikmati dengan indra pengecap saja, namun jangan lupa untuk nikmati sisi lezat makanan lewat kreativitas teknologi! (kar)

