
Di tengah keramaian pusat perbelanjaan, Universitas Petra menggelar bincang-bincang santai. Bincang-bincang santai di kala siang menjelang sore ini diperuntukkan bagi 64 siswa-siswi SMA. Mereka mendapatkan asupan berupa ilmu terkait cyberbullying yang akrab dengan milenial era kini.
Jejeran kursi di atas karpet hitam terisi penuh oleh para finalis Communiphoria 2019. Ratusan pasang mata telah siap mendengarkan talkshow berbalut himbauan dengan sorot antusias. Bertajuk "Berani Beraksi Berantas Cyberbullying", sosok laki-laki selaku volunteer Komunitas Sudah Dong berada di atas panggung dengan gelagat meyakinkan penuh percaya diri. Dia adalah Adiyat Yori Rambe (27). Keberadaan komunitas yang telah berdiri sejak tahun 2014 ini dipilih tentu bukan tanpa alasan. "Pembicaranya sudah pasti ditentukan dengan pertimbangan. Komunitas Sudah Dong ini kan sesuai banget dengan subtema kita cyberbullying," kata Magdeline Priscilia Purwanto (19) selaku divisi acara Communiphoria 2019 bersemangat.
Ditemani pemandu acara, Adiyat Yori mulai menjelaskan ranah-ranah yang dikategorikan sebagai bullying. Terangnya cahaya lampu dalam LG Atrium, Ciputra World Mall Surabaya pada Jumat (15/3), selaras dengan binar-binar keingintahuan yang besar, tak hanya finalis, bahkan juga para panitia. Pancaran enam buah lighting, tepat mengenai setiap sudut panggung menjadikan talkshow berjalan apik ditambah penyampaiannya yang sama sekali tak terkesan kaku, justru atraktif. Selama satu setengah jam lamanya, diusut tuntas dan diberikan pemecahan masalah ala Komunitas Sudah Dong.
Tagline 'crack it break it' sesuai dengan misi anak-anak muda yang bernaung dalam komunitas tersebut. "Kegiatan kami itu secara semangat menyuarakan penolakan-penolakan terhadap aksi bullying dan lumrahnya sekarang terjadi melalui media sosial," ujar laki-laki yang juga bekerja sebagai pegawai swasta di Jakarta. Secara gamblang, Adiyat Yori menuturkan bahwa tema besar ajang Communiphoria, crack, pernah ia alami. "Sebenarnya dulu saya sering dibully. Udah capek akhirnya coba cerita ke orang-orang yang dipercaya dan juga coba cari kelebihan diri. Dan ya, mereka yang bully gak ada apa-apanya sekarang," terang lulusan IPB itu. Dari sini awal keberadaannya di komunitas ini. Ingin meminimalisasi orang-orang yang merasakan posisinya dulu.
Berbekal pengalamannya itu, berkali-kali diutarakan untuk berhenti melakukan aksi cyberbullying. Mereka yang tak menangis belum tentu tak terpukul atas tindakan yang diterima. Sama-sama merangkul, bahu-membahu membangun citra persahabatan yang sesungguhnya, bukan pelanggaran berdalih persahabatan akrab, itulah yang digencarkan generasi penerus lewat Sudah Dong. Dipenghujung, teriakan penuh ambisi menyeruak ke seisi mall. Pemandu acara berkata "Stop bullying", seruan pun pecah,"Sudahhh dongggggg!!!!!!!". (rik)

