
Dalam balutan setelan berwarna hitam putih, sosoknya amat menyemarakkan pertemuan itu. Pemaparan singkat namun padat, memunculkan rasa penasaran yang kian berkobar. Aktivitasnya sederhana, tetapi semburat rasa bahagia tak dapat dibohongi setelahnya.
Selang sekitar 10 menit dari acara talkshow, laki-laki berkacamata didampingi perempuan cantik dengan rambut terurai telah siap menyambut satu lagi pembicara yang tengah hangat diperbincangkan. Memasuki area panggung dengan begitu anggun, sorot-sorot mata menyiratkan tanya yang baru saja menemui titik terang, 'Oh ini orangnya'. Memiliki rambut pendek kurang lebih sebahu, dialah Karlina Chandra (30).
Merupakan lulusan Universitas Kristen Petra tahun 2006, sosoknya begitu dinantikan. Pasalnya ketika ditanya perihal apa yang mengingatkan orang-orang akan dirinya, kebanyakan menjawab makanan. Kenapa? Lantaran pekerjaan sampingan yang ditekuni yakni food photography atau food stylish. Medianya simpel, dimiliki semua orang, ialah gadget.
"Tema besarnya kita kan teknologi. Banyak yang menggunakan teknologi ke arah yang negatif bukannya positif. Misalnya kamera HP, udah pada bagus-bagus sekarang, itu kan bisa digunain buat hal-hal yang positif," ujar Anindya Vika Desinta (21) selaku ketua panitia Communiphoria 2019. Berlanjut dari tema tersebut, maka sesuailah KC, sapaan akrab Karlina Chandra, menjadi pengisi workshop sebagai rangkaian acara final hari pertama, Jumat (15/3) di LG Atrium, Ciputra World Mall Surabaya. Dari sisi sebelah kiri barisan finalis, panitia lain dari divisi acara pun menuturkan hal yang sama. "Jadi sosok Karlina Chandra itu kita undang untuk berbagi pengalaman sekaligus mengedukasi. Teknologi dapat bermanfaat buat temen-temen semua," tutur Magdeline Priscila Purwanto (19).
Ditekuni sejak tahun 2015, tak dapat ditampik diawal-awal perintisan karirnya komentar buruk mengarah padanya. 'Ih kamu gak berseni', begitu kata teman-temannya. Namun, sesantai pembawaannya kala workshop, ditanggapinya pun dengan 'cuek'. Karena ini bermula dari hobi kulinernya serta senang menyaksikan suatu keindahan, maka dijalaninya dengan suka cita. "Perlahan-lahan orang-orang kenal saya. Dari situ mulai dah kayak kafe-kafe gitu minta ke saya buat nata makanan trus difoto. Nah ini kan jadi penghasilan tambahan yang pastinya menguntungkan, dan terkategori menjanjikan," terang wanita yang hobi berolahraga ini.
Usai berbagi tips dan trik dalam mengambil foto makanan, para finalis semakin tertarik tatkala sesi praktek. Diberi kesempatan bagi 3 kloter, masing-masing 5 orang, untuk mencoba mengambil foto, yang sore kemarin objeknya adalah donut. Wajah-wajah serius dalam penataan komposisi, angle, dan properti menunjukkan titik kesadaran bahwa teknologi gunanya bukan sekadar berselancar di dunia maya tanpa tujuan. Selama tekun, teknologi akan membantu.(rik)

