Sembari memeluk erat tas jinjing bernuansa hitam, Putu Ristia Amandari setengah menjerit mengeluh di emperan teduh Padmasana Trisma, “Lagi mikir USBN, belum lagi UN, terus ada UTBK, kan aku bingung.”
Saat itu (12/03), rintik hujan baru saja usai membelai bumi. Sementara itu langit kini tak bersedih lagi, wajah mendungnya begitu cepat menguap hilang. Dua gadis tengah berlenggang santai menyusuri rumput hijau SMAN 3 Denpasar. Dengan ransel yang masih bertengger manis di punggung, raut keduanya tampak tak jauh berbeda dengan langit sendu tadi. Bahkan, Putu Ristia Amandari (18) mengawali obrolan dengan helaan napas lesu. Tanpa perlu ditebak lagi, siapa pun tahu apa derita yang harus dijalani gadis itu. Awal Bulan Maret nyatanya bagai mendung tersendiri bagi para siswa yang nyaris lewati tiga tahun di bangku SMA. Tepat satu hari lagi, USBN (Ujian Sekolas Berstandar Nasional) akan segera menyapa mereka.
Katanya, badai pasti berlalu. Namun rasanya derita siswa tertua tak kunjung-kunjung berakhir melihat pelangi. “Besok sudah mulai USBN, awal April nanti ada UN, lanjut 13 April nanti ada UTBK,” ujar gadis bertubur subur itu dengan senyum masam. Bernasib jadi seorang siswa, mau membantah dan membangkang seperti apa pun sudah tidak ada gunanya lagi. Sederetan macam ujian sudah mencuat berbentuk jadwal resmi. Seolah benak Ristia menjerit dipenuhi benang-benang kusut tak berujung. Kebingungan, diantaranya siapa yang pantas tempati posisi prioritas utama. “Ada UN, ada UTBK, aku mikir yang mana jadi prioritas. Belum lagi USBN itu, gimana ya, rasanya nggak seserius ngerjain soal PTN,” ungkap gadis berambut keriting itu dengan kerutan dahi yang muncul beberapa kali.
Meski begitu, USBN tak pernah dipandang sebelah mata. Kenyataannya USBN merupakan laga pernyataan kelulusan sekolah bagi siswa. Tak ingin memberikan rasa malu bagi pihak sekolah, bila bau kegagalan nantinya dihendus publik. Pelajari setumpuk kisi-kisi soal pun telah dilalui. Namun, entah mengapa Ristia dan sahabatnya Ni Made Maya Candayani (18) merasakan sekolah pun turut kebingungan tentukan prioritas. Antara UNBK dan USBN yang satu kedipan mata telah menanti di depan. Maya pun tak bisa membendung keluhannya lagi akan pihak sekolah. Simulasi UNBK yang direncanakan pagi tadi, tak sesuai ekspetasi awal. “Simulasinya dikejar waktu. Disuruh cepat-cepat ngerjain sama guru, jadi kita jawab itu ngga serius, akhirnya ngawur aja. Baru lima menit sudah selesai,” tutur gadis itu sembari mengurut dahi sekejap. Maya mengungkap pihak sekolah memberi saran lebih baik fokus mempersiapkan USBN. Nyatanya, tak hanya siswa yang dibendung rasa bingung, sekolah pun juga.

