Ada satu malam di Kota Surabaya, dimana tangisan Madyapadma pecah (16/03). Satu demi satu pundak jadi basah, dijadikan tempat membekap suara dadakan. Namun sayang itu bukan tangis haru yang meletup. Nyatanya mereka terjatuh, mengaduh, lantas suara laranya bergemuruh.
Setelah satu tahun lamanya menanti, akhirnya Lomba Communiphoria telah kembali. Di tahun 2019 ini, Communiphoria memutuskan untuk memilih kata CRACK! Sebagai tema yang akan dilagakan. Sama seperti di tahun-tahun sebelumnya, Tim Madyapadma kembali berjumpa dengan perwakilan-perwakilan dari empat kota besar lainnya. Kembali pula terbang ke Kota Surabaya untuk bersaing sehat di acara final. Berjuang di sana menampilkan aksi terbaik untuk mempertahankan kursi nomor satu mereka.
Suara wanita melantun anggun dan menggema di ruang tunggu pemberangkatan domestik Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Menyatakan pesawat dengan tujuan Kota Surabaya sebentar lagi akan mengudara. Dua puluh dua pasukan Madyapadma lantas grasak-grusuk mendengarnya. Dari yang buru-buru membungkus kembali makanan ringannya, mengantongi ponsel, menyiapkan kartu identitas, atau bahkan masih setengah sadar dengan kondisi mata merah baru saja kembali dari ruang mimpi. Kemudian semua kembali tenang sesaat telah berhasil menduduki kursi penumpang pesawat yang nyaman betul. Rapalan doa diam-diam dipanjatkan saat pesawat itu mulai menembus kapas tipis di langit. Selain memohon keselematan, terselip pula harapan agar tugas mereka tuntas menjaga nama Madyapadma di posisi puncak.
Sebab, waktu melihat hasil finalis delapan besar sebelumnya saja, nyali sudah semakin ciut dan hati mendadak cemas. Begitu banyak pesaing-pesaing berat yang muncul dan bahkan berhasil mencuri posisi di atas nama Madyapadma. “Kalau bedakan sama yang tahun lalu, jelas yang tahun ini lebih ketat persaingannya dan tim pesaing cukup banyak yang bidangnya lengkap lolos semua. Jadi artinya kesempatan menang mereka juga hampir sama dengan kita,” papar Putu Puan Maharani (17). Bayang-bayang kegagalan pun selalu mendominasi benak, rasa pesimis muncul meski tak diminta untuk datang. Walau begitu, saat laga dimulai, tepatnya tanggal 15 Maret, Madyapadma tetap berusaha memberikan kemampuan dan penampilan terbaiknya. Raut wajah panik dan lelah bercampur jadi satu dalam suasana sunyinya penginapan di tengah malam, ketika mempersiapkan pengumpulan tugas masing-masing. Rasa kantuk seakan tak pernah menyergap, sebab mereka tampak saling melempar canda, mencairkan suasana. Bahkan rela manik mata itu tak terpejam barang semenit pun, demi menatap layar kaca laptop semalam suntuk.
Hasil kerja lembur itu pun terbalas sudah dengan keluarnya nama Madyapadma sebagai juara tiga. Namun, ada rasa kecewa yang perlahan-lahan menyelimuti diri. Tanpa diminta air mata mulai menumpuk, kaburi pandangan. Tak siap menerima kenyataan, dekapan kawan pun jadi pelarian untuk berteduh sejenak. Satu sama lain saling menepuk punggung penuh makna, menguatkan hati tanpa perlu bicara panjang lebar. Ada bisik-bisik rasa bersalah yang penuhi benak, terus menerus berbisik dan lama-lama berubah jadi jeritan. Kamu salah, karena sudah kalah. Kalah mempertahankan bendera Madyapadma di posisi puncak. “Kenapa kita cuma bisa sampai di juara tiga? Menurutku itu karena salahku. Ada kesalahan fatal di bidang videonya dan itu karena salahku,” ujar Kadek Putra Puja Wirawan (17) dengan nada seolah hari-harinya selalu didekap oleh mendung. Tak hanya itu, laki-laki dengan kumis tipis itu juga mengungkap ada banyak kesalahan yang dilakukan di bidang lainnya. “Aku salah milih bidang dari awal. Nggak niat dari awal, nggak pakai hati. Jadi merasa bersalah gitu, di akhir-akhir baru sadar. Salah satu kebiasaan burukku memang,” kata Ni Putu Ayu Susanthi Pradnyani Putri (17) sambil tertawa miris. Meski tim Ayus, sapaan akrabnya, berhasil membawa pulang piala juara tiga Communiphoria, nyatanya rasa puas itu kosong. Mengaku jujur, usaha tim Madyapadma masih belum total, kurang konsisten pula dalam menarik keputusan. Maka Ayus tak heran, bila hasilnya begitu. Kursi nomor satu itu direbut sudah. Dan perjuangan Madyapadma hanya dapat berhenti sampai di urutan ketiga saja.
Madyapadma boleh saja mengutuk diri pada malam itu. Namun mereka tak larut melulu dalam awan kelabu itu. “Harus dapat posisi juara satu lagi, kalau perlu borong semua kategori best,” harap Yadnya Cakra Cyntia Dewi (15) salah satu peserta Lomba Communiphoria yang masih duduk di bangku kelas sepuluh. Dirinya berharap, tahun depan akan datang kembali kesempatan itu. Kesempatan untuk mendaki puncak dan menancapkan bendera Madyapadma lagi. Malam itu, biarlah Madyapadma jatuh satu kali. Agar di waktu nanti mereka akan bangkit kembali. (kar)

