Perayaan hari Ibu menjadi batu pijakan kaum hawa dalam menyetarakan diri dan martabat. Hal ini yang ingin disampaikan presiden pertama republik Indonesia bapak Ir. Soekarno dalam Dekrit Presiden No.316 tahun 1959 yang disahkan pada tanggal 22 Desember sebagai cikal bakal hari Ibu di Indonesia.
Deru angin menerpa wajah pemuda yang kini tengah termenung di bawah rindangnya pohon Buni. Dengan langkah terayun-ayun seorang gadis berjalan menghampiri pemuda tersebut dan duduk disampingnya dengan sorotan penuh harap. Namun pemuda itu tak terusik dengan kehadiran gadis tersebut. Walau demikian, tak memathakan semangatnya untuk bertanya pada pria yang kini tengah berada di dekatnya. Dengan hembusan nafas panjang pemuda itu bertanya akan kehadiran gadis itu yang terkesan mendadak. “Kesini untuk tanya itu aja? Hmm...Kalau aku cowok paling bawain cokelat aja, sama makan masakan Ibu di rumah,” ujar I Gede Abhicanika Pranata Dyaksa. Sesaat kemudian, datang dua anak laki-laki mendatangi pemuda dan gadis yang sedang berbincang di bawah pohon Buni. Sebuah pertanyaan pun terlontar dari pria berbadan tambun. “Kenapa engga ada hari ayah ya?,” tanya-nya dengan gestur guyonan. Tak jauh dari sana seorang laki-laki menjawab pertanyaan tersebut. “Karena Ibu adalah sosok yang utama sekaligus memiliki peran penting dalam kehidupan,” jawab pria dengan rambut ikalnya. Melanjutkan perbincangan mengenai Ibu. Abhi berpandangan bahwa “Hari Ibu adalah waktu yang tepat untuk memberikan kasih sayang dan perhatian kepada ibu, walaupun setiap hari kita lakukan itu. Tapi di hari ibu kita bisa memberikan hal yang lebih Istimewa. Layaknya perayaan ulang tahun yang jadi tonggak pengingatnya,” terangnya.
Di tempat yang berbeda, Tjokorda Laksamana Putra Pemayun juga memaparkan hal yang senada. Namun lebih melihat dari sisi seorang wanitanya, ia beranggapan bahwa wanita itu adalah segalanya. Yang harus dihargai martabatnya, dan tak menutup kemungkinan jika wanita bisa menjadi pengarah untuk bangsa Indonesia. “Ya kayak menteri perikanan Indonesia sekarang,ibu Susi Pudjastuti. Beliau contoh wanita tangguh yang keren abis,” terangnya dengan senyum yang tersirat tipis, saat dijumpai (12/12) di depan ruang kelas XI MIPA 3-Trisma. Wanita sosok yang memiliki martabat yang lebih tinggi bahkan merekalah yang melahirkan orang-orang yang hebat dan cerdas sebagai penerus bangsa ini. Namun faktanya, banyak kasus yang mengancam dan menyerang martabat seorang wanita. Dengan adanya hal ini membuat prihatin semua orang, salah satunya Tjok Ama ia mengatakan “Jika seseorang telah menjatuhkan bahkan melecehkan harkat dan martabat wanita, berarti ia tidak bisa mencintai dan menghargai ibunya sendiri,” paparnya dengan wajah geram mendengar kasus tersebut. Menyikapi kegeraman Tjok Ama, ia pun berkata. “Dari hal ini kita belajar, untuk bisa menghargai seorang wanita Tjok. Apalagi ternyata Presiden Soekarno telah mengeluarkan Dekrit Presiden tahun 1959 mengenai hal ini. Jadi lebih belajar dari kasus-kasus yang ada juga, bukan ini aja. Tapi segala aspek kehidupan, kayak belajar tentang ibu,” terangnya denga lugas. Hingga tak terasa bel jam masuk kelas pun berdering. Akhir perbincangan yang menemukan jalannya, layaknya wanita yang menemukan jalannya sebagai seorang Ibu kedepannya. (Anj)

