Kebijakan baru tak kunjung henti menyapa penontonnya. Prevalensi para petinggi, nampaknya mulai merambat ke ruang lingkup yang lebih kecil, seperti dunia pendidikan.
"Bagaimana jika optimasi dijadikan esktrakurikuler?" usulan dari kepala sekolah baru yang belum genap menjabat selama setahun ini tentu menuai perdebatan. Akan tetapi, dengan dukungan dari berbagai pihak, ekspetasi Ida Bagus Sudirga pun terealisasikan. Ekstrakurikuler bernama Olimpiade Sains pun masuk ke dalam daftar ekstrakurikuler, dan dipublikasikan saat orasi ekstra, Jumat (20/07) lalu.
Berdiri sebagai ekstrakurikuler yang baru, tidak membebankan pelopornya terutama dalam mencari anggota. Bahkan, sebagai ekstrakurikuler rintisan, dapat dibilang Olimpiade Sains ini kebanjiran anggota. "Iya, banyak juga ternyata yang minat," tutur Delilah, saat ditemui di Bale Bengong SMAN 3 Denpasar, Jumat (21/09). Gadis berzodiak Aquarius ini menambahkan bahwa peminatnya dua kali lipat lebih banyak, jika dibandingkan dengan angkatan yang sebelumnya. Padahal, tahun lalu, optimasi masih bergerak sebagai club.
Belum genap dua bulan berjalan, anggota optimasi dikumpulkan di luar jam ekstrakurikuler. Bukan tanpa alasan, mereka bertatap muka karena ada syarat yang tak terpenuhi dari segi anggota. Mungkin bagi orang yang hanya tau kulitnya saja, mengira ekstra ini kebanjiran anggota. Bahkan, batas minimum tak terpenuhi. “Harusnya 20 orang per bidang, tapi ga kesampean,” jelas Ni Putu Ayu Finansya Saptarini, saat ditemui di Ruang Prajna Paramita, Jumat (21/09). Gadis kelahiran 24 April 2002 ini mengungkapkan bahwa setelah berdebat cukup lama, optimasi kembali menjadi club.
Namanya juga hasil kebijakan, tentu tidak ada yang sempurna. Ada kelebihan, juga ada kekurangan. “Menurutku lebih bagus jadi club sih,” ujar Delilah. Anggota optimasi angkatan 41 ini menganggap dengan adanya optimasi sebagai club, anggota dapat memilih ekstrakurikuler lain yang diinginkan tanpa melupakan hal yang ditekuninya sejak SMP di bidang olimpiade. Hal senada diungkapkan oleh Wiliiam Kosasih. Laki laki berzodiak Aries ini senang jika optimasi tetap menjadi sebuah club, karena ia dapat menekuni dua hobinya yang berbeda.
Berbeda dengan Delilah dan William, Ni Putu Ayu Mandalay justru berpendapat berbeda, “lebih bagus jadi ekstra menurut saya,” ungkapnya. Gadis ini menambahkan, jika optimasi bergerak sebagai ekstrakurikuler, karantina pun tidak perlu diadakan. Sehingga, tidak ada lagi masalah antara guru yang mengajar dengan murid yang bersangkutan akibat terlalu lama mengambil dispensasi.
Bergerak sebagai club ataupun ekstrakurikuler, Finansya berharap agar optimasi tetap ada di SMAN 3 Denpasar. “Semoga apapun keputusannya, itu yang terbaik buat opti,” harapnya diakhir wawancara. (mhr)

