Kembalinya kegiatan budaya ditengah pergantian pemimpin baru di SMAN 3 Denpasar tersebut menjadi sorotan utama, khususnya bagi siswa-siswi yang satu darah dalam hal tersebut “Bagus dehh kegiatan positif itu balik lagi,” tutur gadis ketika mendengar pengumuman diadakan kembali kegiatan budaya di SMAN 3 Denpasar.
Adalah Putu Sri Werdiasih (16), gadis kelas XI MIPA 6- SMAN 3 Denpasar ini sangat kegirangan saat diberitahukan bahwa kegiatan budaya pada tahun ajaran 2018 ini hadir kembali ketika sedang duduk manis dipojok ruang kelasnya. “ Aku sudah biasa membuat seperti ini toh ini juga adalah tugasku sebagai gadis bali,” lanjutnya sembari memperlihatkan hasil dari busung yang buatnya.
Kegiatan Budaya Trisma yaitu acara budaya yang diluncurkan untuk semua siswa-siswi SMAN 3 Denpasar. Dimana Kegiatan Budaya Trisma ini adalah wadah untuk menyalurkan konsep budaya yang ada di Bali untuk diajarkan kepada siswa-siswi. Kegiatan Budaya yang dilaksanakan setiap hari Purnama ini guna untuk mengajak semua siswa-siswi SMAN 3 Denpasar turut melestarikan budaya Bali. Hal ini diakui oleh I Wayan Phala Suwara,Guru Pendidikan Agama Hindu SMAN 3 Denpasar ini. “ Adanya kegiatan ini untuk menjalankan visi yang sudah dicetuskan Trisma yaitu berbudaya,” ungkap yang akrab disapa Kak Phala ini. Ia juga menambahkan bahwa kegiatan budaya ini juga berjalan sebagai penyeimbang otak kanan dan kiri siswa. “ Selain itu, kegiatan ini juga agar siswa mendapatkan refreshing ditengah pelajarannya,” tambahnya dengan senyum.
Adanya kegiatan Budaya Trisma inipun mengundang berbagai pandangan dari beberapa siswa-siswi SMAN 3 Denpasar. Beberapa dari mereka menerima dengan baik kegiatan tersebut. “ Menurutku itu penting, apalagi yang beragama non hindu karena mau dimana lagi mereka mempelajari tentang budaya Bali selain kegiatan yang diadakan Trisma ini,” ungkap Kadek Dwi Trisna Larasati, siswa kelas X MIPA 2-Trisma. Selaras dengan Trisna, Cokorda Istri Divananda Saraswati (15), mengungkapkan bahwa kegiatan budaya tersebut dapat memupuk rasa kebersamaan dan kekeluargaan. “Aku baru pertama kali ikut kegiatan budaya disini dan terbukti adanya kepedulian satu sama lain. Misalnya saat tadi aku kesulitan dalam pengerjaan, temanku dengan senang hati membantu menyelesaikannya,” paparnya dengan mata berbinar. Namun berbeda dengan pengakuan Iqbal Bahriansah (16), ia mengungkapkan bahwa kegiatan budaya ini kurang efektif bagi umat non hindu. “ Aku kurang setuju, karena kegiatan budaya ini membuat aku dan keluargaku menjadi sedikit kebingungan dalam mempersiapkan bahan yang dibawa itu,” jelas pria yang beragama muslim ini.
Apapun penerapan kegiatan yang ada di sekolah haruslah diterima dengan tulus hati. Hal ini diakui oleh Kak Phala, mengakui bahwa semua kegiatan yang dikeluarkan sekolah itu bersifat positif. “Sebenarnya kegiatan budaya ini bukan untuk menjadikan ia sebagai umat hindu. Namun dengan adanya kegiatan budaya ini mengajak umat non hindu yang ada untuk tahu apa sih kebudayaan Bali supaya mereka juga tidak kudet (kurang update) akan budaya yang ada,” jelasnya dengan tegas. Pria berkulit sawo matang ini juga mengharapkan kedepannya kegiatan budaya ini dapat berjalan lancar. “Kegiatan ini sudah berjalan lancar namun semoga kedepannya makin lancar dan ada hal yang baru,” tutupnya diakhir wawancara. (Sa/dyt)

