We have 58 guests and no members online
- GANI ARISTA
- Laporan Khusus
Menyusuri Jalanan Denpasar, Merajut Kepedulian tanpa Batas
Pada Minggu, 23 Agustus 2026, tumpukan sembako diangkut menyusuri sudut-sudut Kota Denpasar. Bersama Madyapadma, perjalanan ini merekam cerita riuh di jalanan, rasa canggung yang mencair, hingga senyum hangat warga yang menerima uluran tangan.
Perjalanan hari itu digerakkan oleh kerja sama tim yang kompak. Di balik kemudi mobil operasional, Made Anantawijaya Giriwidya Hantana atau yang akrab dipanggil Giri, menemani mobilitas tim menyusuri berbagai sudut kota Denpasar. Menurut Giri, berkeliling Denpasar sudah jadi hal yang biasa dinikmatinya dengan santai.
Rutenya pun mengalir tanpa sekat. Berawal dari kawasan Puputan, mobil bergerak menuju ke Jalan Gajah Mada, melipir ke Renon, lalu kembali lagi ke sekolah untuk mengambil tambahan paket sembako. Tak berhenti di sana, perjalanan berlanjut ke Pertokoan Udayana dan Kampung Jawa, sebelum akhirnya berputar kembali ke Jalan Gajah Mada dan menutup rute di Pasar Badung. Mengenai penentuan sasaran penerima bantuan, Giri menuturkan bahwa segalanya berjalan spontan tanpa alur yang kaku. "Rasanya diajak keliling Denpasar sih jujur biasa aja ya, karena emang udah sering juga diajak muter-muter, dan yang aku rasain sih enjoy aja, fun-fun aja," tutur Giri. "Kalau buat target penerima itu emang bener-bener spontan, nggak ada yang direncanain," tambahnya. Sebelum akhirnya turun ke jalan, proses persiapan di balik layar dijaga ketat oleh Putu Gita Kartika Sari Anjani bersama tim MP Berbagi lainnya. Meski sempat diwarnai sedikit rasa pusing saat proses pengemasan paket, dinamika tersebut berhasil diatasi dengan baik berkat solidaritas tim.
Bertatap muka langsung dengan masyarakat di ruang publik memberikan pengalaman dan dinamika emosional tersendiri bagi para remaja ini. Dwi Engela Cristabel Andika atau Lala, salah satu anggota Madyapadma yang terjun membagikan bantuan, menyimpan kenangan yang sangat membekas. Lala tidak bisa melupakan kenangan saat menyerahkan paket sembako di Jalan Gajah Mada kepada seseorang yang duduk termenung dengan raut wajah murung. Perubahan ekspresi yang terjadi seketika setelah menerima bantuan itu sukses membuat hati Lala tersentuh.
"Jujur, aku ada sempat ngasih di Gajah Mada, itu lumayan kepikiran karena dia kayak emang lagi duduk-duduk aja, tapi ya mukanya agak sedih aja. Terus langsung terima, se-senang itu mukanya," kenang Lala. Bahkan, saat rombongan mereka melintas lagi di tempat yang sama, Lala melihat kantong sembako tersebut masih digenggam erat oleh sang penerima. Namun, turun ke jalan raya juga memiliki tantangan mental tersendiri. Lala sempat merasa kaget dan berdebar sewaktu ada warga yang tiba-tiba berteriak mendekati mobil di kawasan Puputan, maupun saat ada warga lain yang ikut meminta di luar perkiraan. Namun, rasa canggung dan ketegangan itu seketika sirna berganti kehangatan saat menyaksikan senyum tulus dari para penerima bantuan."Kesan berharga ya? Mungkin pas ngelihat orang-orang tuh kayak bilang makasih, terus mukanya tuh emang senang. Itu tuh kayak ada rasa bangga, karena MP udah mau berbagi dan peduli terhadap mereka yang emang membutuhkan," tutup Lala.
Menyusuri jalanan Denpasar hari itu akhirnya mengendapkan satu makna bagi para relawan muda ini. Di balik setiap kantong sembako yang berpindah tangan, ada pesan hangat dari Madyapadma yang ingin mereka sampaikan bahwa memberi tak sebatas menyerahkan barang semata. Lebih dari itu, ini tentang keberanian untuk hadir, merawat empati, dan memastikan sesama tidak pernah merasa sendirian di tengah keriuhan kota. (cpm/erl)