Delapan bulan tanpa hujan, mata air mati, warga menangis. Kini satu rumpun bambu menyimpan 3.500 liter air untuk mereka.
Banjar Sandan, Desa Bangli, Baturiti, Tabanan. Pagi itu udara di lereng Gunung Batukaru terasa basah. Rimbun bambu menjulang di kiri dan kanan jalan setapak, daunnya bergesekan pelan seperti bisikan. Sulit dibayangkan bahwa dua dekade lalu, tempat ini adalah kawasan yang gundul, tandus, dan haus.
Sebelum hutan bambu ini ada, kehidupan di Banjar Sandan jauh dari kata mudah. Kawasan hutan di atas desa gundul habis. Kayu-kayu ditebang untuk bahan bangunan dan bahan bakar, kebiasaan yang sudah berlangsung lama, jauh sebelum ada kesadaran bahwa hutan adalah penyangga kehidupan. Akibatnya merambat ke bawah, mata air yang selama puluhan generasi menghidupi subak basah mulai mengecil, bahkan ada yang mati sama sekali. "Sebelum ada bambu ini, air yang di bawah jelas mengecil. Masyarakat susah mencari air," kenang I Made Sudoarnayo, Ketua Kelompok Pengelola Hutan Bambu Sandan.
Untuk memahami betapa dalamnya krisis itu, perlu dipahami dulu apa arti subak bagi masyarakat Bali. Subak basah adalah sistem irigasi tradisional yang mengaliri sawah padi, urat nadi pertanian yang sudah ada selama berabad-abad. Sistem ini sepenuhnya bergantung pada debit air yang stabil dari hulu. Ketika hutan di atas gundul, tidak ada lagi yang menahan dan menyerap air hujan. Air langsung mengalir ke bawah tanpa tersimpan. Dan di musim kemarau, sumber air di hulu tidak punya cadangan apapun untuk dilepaskan. Warga pun mulai merasakan dampaknya satu per satu. Mereka harus berjalan jauh hanya untuk mendapat air minum dan memenuhi keperluan hidup seperti memasak, mandi, dan mencuci. Sudoarnayo ingat betul bagaimana ia harus menyeberang ke Banjar Munduk Andong dengan jerigen di tangan, dan yang lain menampung air hujan menggunakan terpal seadanya.
Sama halnya dengan I Wayan Joko, buruh tani yang lahir di Sandan tahun 1973, kesulitan itu bukan sekadar kenangan, itu adalah seluruh hidupnya. Ia tidak pernah mengenal Sandan dengan air cukup. Setiap hari, ia menuruni jalan panjang menuju Banjar Munduk Andong hanya untuk pulang dengan satu jerigen. "Jaraknya jauh. Satu hari mengambil air, hanya dapat satu jerigen," kenang Joko. Satu jerigen untuk minum, memasak, mandi, dan mencuci sekeluarga. Situasi itu akhirnya memaksa masyarakat bergerak, mereka meminta petunjuk dari pemerintah setempat tentang apa yang harus dilakukan agar air dapat kembali.
Jawaban pertama yang dicoba adalah menanam pohon rasamala pada 2002. Namun hal itu sia-sia, tanaman dirusak oleh orang-orang yang masih menebang di kawasan itu. Hutan tetap gundul, dan harapan mulai pudar. Pada tahun 2005 menjadi titik paling kelam sebab Banjar Sandan didera kekeringan panjang hingga delapan bulan tanpa hujan. Subak basah kekeringan, para petani saling berebut sisa-sisa aliran yang ada. Air, yang seharusnya menjadi berkah bersama, berubah menjadi sumber perselisihan. Baru setelah melihat kebiasaan leluhur yang selalu menanam bambu di pinggir-pinggir lahan dekat sumber air, masyarakat sadar bahwa jawaban itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Bambu bukan pilihan baru, ia adalah pilihan yang terlupakan. Bambu yang masuk dalam jenis rumput dipilih bukan tanpa alasan yang kuat. Ia tumbuh jauh lebih cepat dari pohon kayu. Dalam empat tahun sudah dapat dimanfaatkan, delapan tahun sudah mencapai ukuran maksimal. Jika dipotong, tunasnya tumbuh berlipat ganda, sesuatu yang tidak dimiliki oleh pohon berkayu. Dan yang terpenting dari semuanya, sistem akar bambu yang menjalar luas dan dalam sangat efektif menyerap dan menyimpan air hujan jauh di dalam tanah.
Tahun 2004 hingga 2007, lewat program Gerakan Revitalisasi Hutan (Gerhan), bambu ditanam massal di kawasan ini bersama pemerintah Kabupaten Tabanan. Masyarakat Banjar Sandan turun tangan langsung. Bukan untuk wisata dan bukan untuk keuntungan. Murni agar air dapat kembali mengalir ke sawah dan dapur mereka. "Kita waktu itu cuman tanam, tanam, tanam. Tidak ada pikiran mau bikin wisata. Kita cukup tanam supaya hutannya tetap terjaga, tidak terlalu kering," ujar Sudoarnayo.
Penanaman bambu juga dilakukan di banjar-banjar lain sekitar Sandan hingga Angseri. Namun hasilnya tidak ada yang serimbun Sandan. Padahal bibit yang ditanam sama, tanah yang digarap pun tidak jauh berbeda. Rahasianya ternyata bukan pada jenis bibit atau teknik tanam. Rahasianya ada pada satu hal yang sering dianggap sepele yaitu awig-awig. Awig-awig adalah aturan adat yang mengikat seluruh warga dalam satu komunitas, diwariskan turun-temurun dan dihormati bukan karena takut hukum negara, melainkan karena rasa hormat pada leluhur dan sesama.
Banjar Adat Sandan mengeluarkan aturan yang tegas bahwa siapa pun yang mengambil bambu tanpa izin dari pengelola akan dikenai sanksi adat. Tidak pandang bulu. Bahkan untuk keperluan upacara sekalipun, warga harus meminta izin terlebih dahulu. "Siapapun yang mencuri atau mengambil tanpa izin yang mengelola, dikenakan sanksi adat. Mecaru. Makanya bambunya tetap terjaga seperti sekarang. Kalau di tempat lain mungkin tidak sebanyak ini," jelas Sudoarnayo. Inilah yang membedakan Sandan dari banjar yang lain. Ketika hutan tidak dijaga oleh aturan yang mengikat, orang-orang dengan mudah masuk dan mengambil sesuka hati. Tapi di Sandan, awig-awig menjadi pagar tak kasat mata yang jauh lebih kuat dari pagar fisik mana pun. Bambu tumbuh tanpa gangguan, tahun demi tahun, hingga perlahan menjadi hutan lebat seperti yang ada sekarang.
Delapan tahun setelah penanaman, perubahan mulai terasa. Akar-akar bambu yang sudah menjalar jauh ke dalam tanah bekerja diam-diam dengan menyerap air hujan, menyimpannya di dalam lapisan tanah, lalu melepaskannya perlahan ke bawah begitu terus, bahkan di musim kemarau sekalipun. Rizka Fitriani, fasilitator desa dari Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) yang mendampingi pengelolaan hutan ini, menjelaskan cara kerja bambu sebagai penyimpan air alami. "Satu rumpun bambu ini dapat menyimpan air sekitar 3.500 liter. Di sini ada berapa rumpun, itu dikali lah. Jadi mencadangkan air berliter-liter, berjuta-juta liter. Itu beneran jadi sumber air," jelas Rizka.
Bambu bukan menghasilkan air dari batangnya. Ia bekerja seperti spons raksasa yang tertanam di dalam bumi, menyerap saat hujan turun, menyimpan di dalam sistem akarnya yang rapat dan dalam, lalu melepaskannya kembali secara perlahan ke dalam tanah. Di musim kemarau, cadangan itulah yang menjaga mata air di bawah tetap mengalir, stabil, dan tidak mati. "Makanya di kebanyakan kawasan tanaman bambu itu pasti ada mata airnya. Dari mata air, air mengalir ke sungai," tambah Rizka. Hasilnya nyata dan dapat dirasakan langsung oleh warga. Mata air di bawah Banjar Sandan yang dulu mengecil dan mati, kini mengalir kembali. Subak basah tidak lagi kekurangan air. Tidak ada lagi rebutan irigasi antar petani. Serta kini dengan dukungan CSR dari PT PLN Indonesia Power berupa sistem pompanisasi dan tandon air serta YBLL juga turut membantu dalam proses penyaluran air berupa pipanisasi, 50 kepala keluarga di Banjar Sandan yang sebelumnya menampung air hujan dengan terpal sudah menikmati air bersih yang mengalir langsung ke rumah mereka.
Saat ini, Hutan Bambu Sandan telah berkembang menjadi kawasan seluas 100 hektar dengan 57 jenis bambu, 24 jenis lokal dan 33 jenis hasil pendataan bersama Universitas Gadjah Mada. Kawasan ini tengah dalam proses menjadi ekowisata resmi di bawah skema Perhutanan Sosial, sebuah pengakuan bahwa apa yang dibangun warga Sandan selama dua dekade memiliki nilai yang jauh melampaui sekadar pohon. Namun bagi Sudoarnayo, tujuan utamanya tidak pernah berubah sejak 2004. "Harapan kami satu yaitu hutan ini tetap lestari. Tidak boleh berubah jadi modern, tidak boleh gundul lagi," kata Sudoarnayo.
Sudoarnayo mewanti-wanti soal bahaya jika hutan ini suatu hari jatuh ke tangan investor dan berubah menjadi kawasan modern. Ketika bangunan beton menggantikan pepohonan, air hujan tidak lagi terserap, ia langsung mengalir ke permukaan dan menjadi banjir. Pelajaran sudah ada di depan mata seperti di Denpasar, banjir kian sering terjadi karena hamparan beton yang terus meluas mengurangi kemampuan tanah menyerap air. Jika Sandan mengalami nasib yang sama, banjar serta desa di bawahnya yang akan menanggung akibatnya.
Akhirnya, di bawah bambu yang tinggi dan rapat, tetes-tetes embun jatuh pelan dari daun-daun di atas. Udara terasa basah, seperti pagi itu ketika kaki pertama kali menginjak jalan setapak di lereng Gunung Batukaru. Dua dekade lalu, tidak ada embun di sini dan tidak ada daun yang saling berbisik. Yang ada hanya tanah kering, langit terik, dan jerigen kosong. Kini bambu menjadi jawaban atas tangis yang pernah menggantung di udara kering Sandan. Ibarat pepatah “siapa yang menanam padi, akan memanen padi”. Begitu pula dengan warga Sandan. Kini dari sela-sela rumpun. Bambu mulai mengalir beningnya air di selingi suara gemercik air. Air sumber kehidupan! (cpm/dvn)

