Melawan nyeri lambung yang belum pulih, I Wayan Aditya Tangsa tetap berdiri mengatur lomba sejak subuh tanpa banyak keluhan.
Pagi itu, lapangan dipenuhi simpul tali dan rangka bambu yang perlahan menjulang. Di satu sisi terdengar aba-aba penuh semangat, di sisi lain dua siswa sibuk memastikan rekaman vlog mereka tersimpan rapi sebelum tenggat waktu. Sekilas, semuanya tampak seperti perlombaan biasa. Namun jika diperhatikan lebih dalam, ada perjuangan-perjuangan kecil yang berjalan diam-diam di baliknya.
Di bawah matahari yang mulai meninggi, I Wayan Aditya Tangsa berjalan bolak-balik mengatur distribusi bambu untuk lomba pioneering dan bivak. Ia adalah panitia kelas X yang baru pertama kali terlibat dalam kepanitiaan. Dua minggu terakhir ia berjuang melawan GERD, bahkan sempat masuk UGD sehari sebelumnya. Tapi pagi itu, sejak pukul empat subuh ia sudah bersiap. Tak ada yang benar-benar tahu rasa perih yang sesekali datang. Yang terlihat hanya seorang siswa yang bekerja tanpa banyak bicara. “Saya ingin panitia pertama saya jadi yang terbaik,” katanya sederhana.
Adit mengaku bukan penggemar pramuka. Ia lebih menikmati KIR dan bulu tangkis. Namun ketika dipercaya, ia memilih datang. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa diandalkan. Di tengah kondisi tubuh yang belum sepenuhnya stabil, ia belajar menahan diri, menghindari kopi dan makanan yang bisa memicu sakitnya. Sebuah keputusan kecil, tetapi penuh makna.
Tak jauh dari sana, I Putu Ari Krisna Putra berdiri mengamati rangka pioneering yang dibangun timnya. Ia adalah pradana putra dari SMA Negeri 1 Sukawati. Keinginannya untuk berkecimpung di pramuka sebenarnya sudah ada sejak SMP, meski baru terwujud saat SMA. Kini, sebagai pradana, ia tidak hanya memastikan simpul-simpul terikat kuat, tetapi juga menjaga semangat timnya tetap utuh. Di awal latihan, perbedaan pendapat sempat muncul. Waktu persiapan terasa singkat. Di luar sekolah, Ari juga aktif dalam kegiatan desa dan kesenian, membuatnya harus pandai membagi tenaga. Namun ia memilih untuk tidak berlama-lama dalam masalah. “Di dalam setiap masalah pasti ada solusi,” ujarnya. Ia belajar bahwa memimpin bukan soal menjadi yang paling dominan, melainkan mampu menyatukan tujuan di tengah perbedaan. Ketika ditanya apakah ia puas, ia menjawab mantap, “Puas.” Karena bagi dirinya, usaha yang maksimal sudah menjadi kemenangan tersendiri.
Di sisi lain lapangan, Syahnaz Intan Mardiana guru IPS sekaligus pembina dari SMP Negeri 2 Amlapura, berdiri setia mendampingi dua siswanya yang mengikuti lomba vlog. Tahun lalu sekolahnya meraih juara umum. Tahun ini, harapan itu kembali dibawa. Lomba vlog menjadi tantangan baru. Semua proses dilakukan di tempat, pengambilan gambar, dubbing, hingga editing. Waktu yang sempit dan kendala teknis sempat membuat suasana tegang. Namun ia tetap berada di samping anak-anaknya sejak pagi. “Yang penting mereka berproses,” katanya tenang. Sejak Desember, latihan sudah dimulai. Ada evaluasi rutin, ada pengorbanan waktu, ada dukungan orang tua. Ia percaya bahwa kehadiran adalah bentuk motivasi yang paling sederhana, namun paling berarti.
Di hari itu, peran mereka berbeda. Ada yang bekerja di balik layar sambil menahan sakit. Ada yang memimpin tim sambil menahan lelah. Ada yang mendampingi sambil menahan cemas. Namun semuanya melakukan hal yang sama: memilih untuk tetap hadir. Yang satu hadir meski tubuh belum sepenuhnya pulih. Yang satu hadir sebagai pemimpin yang belajar meredam ego. Yang satu lagi hadir sebagai pendamping yang tak meninggalkan siswanya berjuang sendirian.
Mungkin tidak semua perjuangan itu terlihat oleh penonton. Tidak semua rasa lelah terdengar. Namun justru di situlah makna perlombaan ini terasa lebih dalam. Ketika nanti nama pemenang diumumkan, mungkin hanya satu tim yang akan menjadi pemenang. Tetapi pagi itu telah menunjukkan bahwa nilai terbesar bukan hanya pada hasil akhir, melainkan pada kesediaan untuk bertahan, berproses, dan tetap bertanggung jawab, apa pun peran yang dijalani. (cpm)

