“Kita juga ga expect, menang kalah biasalah,” tutur 3 orang remaja berseragam putih biru dari Singaraja, kota pendidikan Bali.
Sabtu, 14 Februari 2026, bertepatan dengan hari penuh cinta, SMA Negeri 3 Denpasar lagi dan lagi ramai dipenuhi ricuh suara dan aktivitas remaja. Kali ini, anggota ekstrakurikuler PMR dan KSPAN Trisma, berjuang keras untuk event Eksebisi Praja Trisma (EPT) yang ke-11 kalinya.
“EPT ini sudah dipersiapkan sejak lama, aku harap besok berjalan lancar, tanpa hujan,” cerita Chelsiana Putri Sihaloho, koordinator lomba fasilitator sebaya. Harapan itu ia panjatkan sehari sebelum acara besar dimulai, bekerja hingga larut malam pun tetap gadis itu sanggupi demi lancarnya acara.
Namun, wajah gadis kelahiran Denpasar itu kini nampak sayu, sesekali menampilkan senyum yang membuat matanya melengkung seperti bulan sabit. “Jujur, pasti kecewa sih, 50% dari diri aku pasti kecewa ya,” beber gadis yang terus menahan Handy Talky hitam ditelinganya. Rintik air memang sempat turun kala langit masih nampak gelap, dan itu sempat menghambat para panitia yang bertugas.
Tetapi, gadis yang akrab disapa Chelsea ini tak patah semangat, ia tetap bergerak dengan gesit kesana-kemari dengan baju merah yang ia kenakan. Meskipun sempat kecewa, profesionalitas ia pertahankan agar tak mengecewakan peserta yang telah hadir.
Perjuangan ini terbukti, dengan hadirnya 3 peserta lomba dari kota pendidikan Bali yakni Singaraja. Hujan sempat menghampiri perjalanan jam 4 pagi, yang dilalui oleh 3 orang siswa tersebut. Meskipun demikian, terdapat banyak kisah unik, dalam perjalanan 3 jam itu, mulai dari rok yang sobek, ketiduran, hingga mabuk perjalanan, semua masalah mereka hempas demi kemenangan.
“Aku yang tersiksa, mabuk soalnya,” curhat Putu Arya Putrawan, salah satu peserta EPT dari SMPN 6 Singaraja. Remaja berambut hitam tersebut menertawakan penyiksaan yang dialaminya selama perjalanan menuju SMA Negeri 3 Denpasar. Made Grainnetia Cenchilova Adijaya, turut mengungkapkan luapan emosinya selama perjalanan.
“Pengennnya, saya bisa duduk di tengah, mereka di belakang, ternyata sama aja, saya selalu ngalah,” tutur gadis yang akrab disapa Lova tersebut. Tak kalah lucu, Gede Varesa Bagasditya menampik ungkapan gadis tersebut “cewek harus ngalah sama cowok, kan sesekali lah.” Kalimat yang keluar tersebut, berhasil memicu gelak tawa orang-orang sekitar.
Namun, dibalik tawa ceria tersebut, terdapat berbagai masalah. Mulai dari guru yang tak memberi dispen, pendamping yang bertukar-tukar, hingga omongan busuk dari rekan-rekan, membuat mereka sempat merasa ragu. “Intinya gak semua guru itu terima buat muridnya dispensasi,” keluh gadis dengan rambut kepang 2 tersebut
Cukup memprihatinkan, wajah ke-3 remaja tersebut seketika merengut, menghapus senyum manis yang sempat tampak. “Sebenernya kita mau ikut lomba, tapi pembina dari dalam sekolah yang kurang mendukung,” ujar Vares yang tak ingin cerita kisah ini berhenti. Persiapan yang seharusnya dapat mereka lakukan selama 2 bulan, jadi terpangkas menjadi 2 minggu karena permasalahan ini.
Tak cukup dari masalah pendamping, pada lomba pun mereka terpelanting fakta dan harus menerima kekalahan dalam lomba cerdas cermat yang mereka ikuti. Namun hal tersebut tak membuat mereka menekuk alis seharian. Semua permasalahan ini menjadi pembelajaran bagi mereka, untuk terus berjuang dan tidak menyerah. (nlv)

