Kembali terlaksana, serangkaian acara Presslist 13 diawali dengan webinar “Asyiknya menjadi Reporter Radio” pada Jumat (9/12).
Desember pun telah tiba. Presslist 13 kembali hadir untuk mewadahi minat dan bakat insan muda Indonesia. Webinar “Asyiknya menjadi Reporter Radio” pada Jumat (9/12) pukul 15.00 WITA menjadi acara pembuka. Webinar yang diikuti oleh 11 peserta dari kalangan pelajar SMP dan SMA se-Bali ini menjadi salah satu kesempatan untuk menambah informasi dan wawasan baik bagi masyarakat awam maupun yang memang berkecimpung di bidang radio.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan tim Madyapadma dengan A. A. Istri Chandani Aura Pasha (17) selaku Ketua Desk Radio Madyapadma, kegiatan webinar reporter radio digadangkan bukan hanya untuk sekedar media edukasi terkait penyiaran radio, melainkan mulai dari segi teknis serta implementasinya.
Melalui pemaparan Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si (43) selaku pembicara webinar, reporter radio memiliki tugas yang berbeda dengan penyiar radio pada umumnya. Reporter radio berperan dalam penyaluran informasi audio layaknya penyiar berita. Berbeda dengan kebanyakan penyiar selama ini yang lebih fokus sebagai hiburan bagi para pendengar.
Salah satu peserta mengakui bahwa ia pun baru mengetahui bahwa reporter radio dan penyiar radio memiliki perbedaan yang cukup kontras. “Banyak informasi baru yang aku terima dalam kurun waktu dua jam itu, aku merasa puas banget,” ujar Aurakasih Cetaanjali Tanama Putra (15), salah satu peserta webinar.
Keadaan reporter radio yang kian menipis menjadi dorongan besar bagi Chandani Aura untuk mengusungkan kegiatan webinar reporter radio sebagai rangkaian dari Presslist 13. Dalam tuturannya tersebut, Chandani Aura menyadari bahwa stasiun radio saat ini jarang sekali menyiarkan sebuah berita. “Padahal reporter radio akan sangat berguna untuk menyiarkan informasi secara langsung, khususnya bagi orang yang setiap saat tidak bisa nonton TV atau misalkan sedang dalam perjalanan,” ujar Chandani Aura.
Informasi lain yang turut menjadi sorotan pada webinar kali ini adalah kurangnya biaya yang menjadi salah satu faktor menipisnya keberadaan reporter radio di Indonesia. Berdasarkan pengalamannya sebagai seseorang reporter radio ulung, Nengah Muliarta mengaku bahwa tak semua stasiun radio mampu untuk membayar seorang reporter.
Bak emas dalam kubangan lumpur, sebagian besar stasiun radio menganggap bahwa penyiar radio sudah lebih dari cukup. “Biaya yang perlu disiapkan untuk merekrut reporter radio itu sendiri senilai 50 USD yang dapat dikatakan jumlah yang tidak sedikit,” ujar Nengah Muliarta.
Besar harapan Chandani Aura (17) webinar reporter radio yang telah dilaksanakan dapat membangkitkan minat para insan muda dalam bidang radio, serta ia pun berharap agar Madyapadma dapat menjadi wadah yang terpercaya dalam penyaluran informasi melalui radio yang kini mulai jarang ditemukan. (skr, mp)

