Papan-papan ucapan ulang tahun penuhi pintu masuk SMAN 3 Denpasar. Panggung megah nan besar berdiri kokoh di luasnya lapangan hijau Trisma. Namun, hal itu pun tak mengubah fakta bila Trisma senantiasa menyelipkan unsur kesederhanaan di setiap acaranya.
Langit rupanya sedang bersuka cita, tampilkan warna biru cerahnya. Siswa-siswi Trisma mulai berdatangan. Seragam batik andalan Trisma membalut tegas raga mereka. Jumat (17/01), area lapangan kini tampak berbeda. Tenda putih berdiri di tengah hamparan hijau itu bertugas memayungi berbagai hal di bawahnya. Area podium juga tampak disulap dengan berbagai ornamen-ornamen ukiran Bali yang tersusun indah. Berbagai gamelan Bali juga turut menghiasi pinggiran panggung. Tentunya semua itu dilakukan untuk merayakan hari ulang tahun ke-43 Trisma, yang bertemakan “Dengungan sastra dalam irama budaya dan sains”.
Tari Trismaya menjadi pembuka pada puncak acara ulang tahun ini. Pada puncak acara ulang tahun ini, dibuka dengan penampilan Tari Trismaya sebagai tari kebesaran SMA Negeri 3 Denpasar. Kemudian acara dilanjutkan dengan doa dan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Lagu Mars dan Hymne SMA Negeri 3 Denpasar yang dibawakan oleh VOG (Voice of Generation) TRISMA. Tak lupa pula sambutan selamat datang yang diberikan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Denpasar. “Semua pencapaian yang kita dapatkan tentunya tak lepas dari kolaborasi dan komunikasi dengan keluarga besar di SMA Negeri 3 Denpasar,” tutur Drs. Ida Bagus Sudirga, M.Pd.H.(58). Ia juga menambahkan bahwa perayaan HUT TRISMA dapat dijadikan sebagai media refleksi untuk meningkatkan kekuatan dari empat pilar plus satu TRISMA.
Dalam hari yang berbahagia ini, dilakukan pula penandatanganan kerja sama simpanan pelajar BPD bali dan penyerahan hadiah berupa piagam kepada siswa dan guru berprestasi. Lantas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Provinsi bali, Drs. KN. Boy. Jayawibawa pun turut hadir dalam hari bahagia ini. “SMA Negeri 3 Denpasar merupakan sakah satu sekolah yang banyak menghasilkan orang-orang sukses dan murid-muridnya yang berkarakter,” ungkap Boy Jayawibawa dengan santai.
Tak terasa sederetan acara pun telah berlalu, hingga akhirnya Gelar Budaya pun dipentaskan sebagai puncak acara. Dengan mengangkat potongan kisah dari Mahabharata yang lantas disulap menjadi sebuah drama tari bertajuk Wira Satya. Tak terelakkan lagi, Gelar Budaya Trisma memang selalu mampu menyedot seluruh atensi warga SMA negeri 3 Denpasar. Beberapa kali pun sorakan dan tepuk tangan dari penonton, menyelip di antara drama Wira Satya. Tak tanggung-tanggung pilihan iringan musik yang dipakai, sukses membuat bulu kuduk merinding.
Di setiap tahunnya, meskipun tema yang diangkat dan ragam kegiatannya berbeda-beda, namun menurut salah satu Guru Pendidikan Agama Hindu SMA Negeri 3 Denpasar, I Wayan Phala Suwara, S.Pd.H.,M.Pd.(26) konsep kesederhanaanlah yang masih tetap diterapkan dalam perayaan-perayaan yang dilaksanakan di SMA Negeri 3 Denpasar. Sekeping haapan juga terbit di relung hati guru ini, “Kedepannya semoga perayaan HUT atau siswa dapat selalu mempertahnkan 4 pilar + 1 TRISMA.” (krn)

