Dewasa ini masyarakat Indonesia sudah mulai menggunakan bahasa Indonesia yang dapat dibilang kurang benar. Pemakaian bahasa di Indonesia dipergunakan semaunya dan dicampuradukkan oleh bahasa lain.
Kenyataan itu akan menyudutkan penggunaan bahasa Indonesia. Kalau bahasa Indonesia tidak segera diperbaki penggunaannya, bahasa Indonesia tidak akan mampu menunjukkan gengsinya, baik di negara sendiri (nasional) maupun internasional (Sri Indrawati, 2008).
Masyarakat Indonesia terpengaruh oleh bahasa-bahasa yang sering di gunakan di media sosial, bahasa plesetan, bahasa gaul, ataupun bahasa singkatan lainnya yang digunakan untuk mengirim SMS. Hal ini bisa jadi akan makin parah dengan telah dimulainya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang akan mendatangkan banyak pekerja asing ke Indonesia. Tentunya mereka tidak akan langsung mahir menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa asing pun pasti akan menyeruak. Terutama jika disatukan dengan mental anak muda Indonesia yang mudah sekali terpengaruh dengan hal-hal baru. Berbagai bahasa mungkin jadi akan tercampur aduk penggunaanya. Jika penggunaan bahasa Indonesia yang amburadul ini terus berlanjut, maka bisa saja bahasa Indonesia yang merupakan bahasa tersulit ke 3 di Asia dan tersulit ke 15 di dunia ini akan tergantikan perannya oleh bahasa asing.
Oleh karena itu kita sebagai generasi muda harus mulai mebiasakan diri dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar baik untuk komunikasi maupun penggunaan di media sosial, SMS dan lainnya. Dengan itu juga pekerja akan lebih mudah mengadapi MEA dan sekaligus mengajarkan Bahasa Indonesia yang benar kepada orang asing yang datang untuk bekerja di Indonesia. Sebagai generasi muda kita memang memerlukan kemampuan berbahasa asing, namun sudah seharusnya kita melestarikan bahasa persatuan kita yaitu Bahasa Indonesia. (adk)

