Oleh : Ni Kadek Dewi Citra Lestari
Menjelang akhir tahun, kita sering mencium aroma kasus - kasus tidak mengenakan yang terjadi. Sering mencium aroma kasus - kasus itu membuat kita kurang menghirup udara sehat lagi. Udara sehat sering kali hanya dipahami secara harfiah sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kualitas lingkungan bersih, segar, dan bebas polusi. Namun, jika kita menilik lebih dalam, konsep “udara sehat” dapat juga mencakup kondisi mental dan moral manusia. Di dunia yang penuh dengan segala bentuk godaan dan perbuatan keji, kita sering kali “mencium” aroma kejahatan yang bisa mempengaruhi cara kita berpikir, bertindak, dan bahkan mempengaruhi lingkungan sosial di sekitar kita.
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak terlepas dari pengaruh sekitarnya. Ketika kita terpapar pada tindakan-tindakan yang buruk, mulai dari perilaku korupsi, manipulasi, kebohongan, hingga tindakan kekerasan, tanpa sadar kita menghirup "udara" yang terkontaminasi oleh kejahatan dan keburukan. Sama halnya dengan udara yang berpolusi, perbuatan-perbuatan buruk ini meracuni cara kita berpikir dan berperilaku. Ketika kita berulang kali berhadapan dengan kejahatan, kita mungkin saja terlena, menganggapnya sebagai hal yang normal atau bahkan ikut terlibat di dalamnya.
Kita coba bayangkan ada seorang anak yang sedang memanggang kue bersama ibunya. Tanpa sadar si anak juga akan memakan. Hal ini dapat menunjukkan betapa kuatnya pengaruh lingkungan terhadap diri kita. Sering kali, manusia tidak hanya terpengaruh oleh apa yang mereka lihat atau dengar, tetapi juga oleh “aroma” tindakan buruk yang ada di sekitarnya. Pada awalnya mungkin hanya mencium sedikit bau kebusukan, tapi perlahan-lahan menjadi terbiasa dan tidak merasa terganggu. Bahkan merasa nyaman dengan kondisi yang ada. Inilah bentuk polusi moral yang tak kasat mata, tapi nyata dampaknya.
Lebih parah lagi, ketika seseorang sudah terlalu lama terpapar pada perilaku yang tidak sehat, mereka bisa dengan mudah terjerumus untuk ikut menyebarkan atau membeberkan kejahatan tersebut. Apa yang awalnya hanya dilihat sebagai penonton, lambat laun bisa berubah menjadi pelaku. Contoh kecil yang sederhana, misalnya ada seorang anak yang melihat teman sebangkunya menyontek saat ujian berlangsung. Ia menyadari perbuatan tersebut tetapi memilih untuk diam dan tidak melaporkannya. Ketika hasil ujian keluar, anak itu mendapat nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan teman sebangkunya yang memperoleh nilai besar. Dalam hati mungkin ia merasa tidak adil, tetapi di saat yang sama, ia juga terpapar oleh godaan untuk melakukan hal yang sama di ujian berikutnya agar bisa meraih nilai yang lebih tinggi. Tanpa sadar, ia mulai mencium aroma ketidakjujuran yang dapat merusak integritasnya.
Situasi ini menjadi cerminan tentang bagaimana polusi moral dapat mulai menyusup ke dalam pikiran kita. Apa yang awalnya tampak sebagai perbuatan kecil, seperti mencontek dapat menjadi pintu masuk bagi tindakan yang lebih besar jika dibiarkan tanpa ada upaya untuk menolaknya. Jika anak tersebut terus-menerus menyaksikan dan membiarkan hal-hal seperti ini terjadi, bukan tidak mungkin di kemudian hari ia akan tergoda untuk ikut serta dan menganggapnya sebagai hal yang wajar. Dalam situasi ini, menjaga udara sehat berarti berani untuk tetap jujur, meski kadang harus menghadapi kenyataan bahwa nilai yang didapat lebih kecil daripada yang seharusnya bisa dicapai dengan cara curang. Sama seperti kita membutuhkan udara bersih untuk bernafas, kita juga butuh lingkungan sosial yang sehat untuk menjaga kesehatan moral kita. Menciptakan dan mempertahankan udara sehat ini bukanlah tugas yang mudah karena akan selalu ada godaan untuk melakukan hal-hal yang menyimpang. Namun dengan kesadaran akan dampak buruk dari lingkungan yang tercemar moralnya, kita bisa mulai melindungi diri dengan berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dan kejujuran.
Langkah kecil untuk menjaga udara moral yang sehat bisa dimulai dari diri sendiri seperti menghindari gosip, menolak ikut serta dalam perilaku curang, dan berani menegur kesalahan yang ada di sekitar kita. Sebab, jika kita terus membiarkan diri kita terpapar oleh perbuatan keji, kita bisa saja menjadi terbiasa dan ikut-ikutan. Sadarilah bahwa kita butuh udara sehat bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga untuk jiwa dan moral kita.

