Oleh : Ni Made Naina Maitria Wicaya
Mendengar pertanyaan itu, seketika terlintaslah 1 kalimat di benak kita, “wah iya juga ya”. Jika dipikir-pikir lagi hal ini memang aneh. Bukankah dalam bidang akademik, secara teknis siswa/i di Indonesia sudah mendapat ilmu mata pelajaran secara penuh berdasarkan mata pelajaran yang telah dipilih dengan guru yang sudah siap sedia menjalankan tugasnya sebagai seorang guru? Untuk apa justru menambah les bimbingan belajar akademis di luar sekolah? Bukannya hanya buang-buang uang dan waktu? Apakah bimbingan belajar di luar jam sekolah menjadi indikasi dan bukti bahwa sistem pendidikan kita telah gagal menunaikan tugasnya?
Pendidikan di Indonesia adalah seluruh pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia, baik itu secara terstruktur maupun tidak terstruktur. Pendidikan di Indonesia menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud). Di Indonesia, semua penduduk wajib mengikuti program wajib belajar pendidikan dasar selama sembilan tahun, enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah menengah pertama.
Setiap sistem pendidikan di Indonesia memiliki konsep yang berbeda beda mulai dari SD, SMP, dan SMA yang harus ditempuh selama 9 tahun. Sistem pengajaran yang ada di Indonesia terbagi menjadi beberapa kategori. Salah satunya yang banyak diterapkan yaitu sistem yang berorientasi pada nilai. Para pelajar akan ditekankan bagaimana bersikap jujur, disiplin terhadap waktu, tanggung jawab, dan juga diberikan motivasi yang tinggi untuk mencapai cita-cita.
Sistem pendidikan di Indonesia saat ini sedang menerapkan kurikulum merdeka, evaluasi dari kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum 2013. Dengan mengandalkan proyek dari kurikulum merdeka saat ini yaitu P5, P5 merupakan singkatan dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila merupakan salah satu inovasi dalam kurikulum merdeka dengan 6 elemen yang harus dipahami di antaranya berakhlak mulia, berbhineka global, mandiri, gotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Benarkah P5 memberikan kebebasan pada siswa? Faktanya justru banyak siswa yang mengeluh tentang P5 ini. "Serius nanya kurikulum merdeka itu, Merdeka-nya Dimana?", kalimat yang sering terlontar dari bibir siswa/i Indonesia saat ini.
Namun di luar itu semua, kurikulum merdeka tidak membuat siswa/i Indonesia merasa merdeka. Justru di kurikulum ini, para siswa/i cenderung merasa waktu dan tenaganya jauh lebih banyak terkuras di penerapan P5. Sudah susah payah berfokus di proyek P5, mereka harus tetap mengejar ilmu di bidang akademis. Penerapan P5 cenderung lebih memakan waktu daripada bidang mata pelajaran akademis. Selain itu, dengan tiadanya P5 bukan berarti seluruh permasalahan yang terjadi juga akan tiada. Sebagian besar siswa/i Indonesia menganggap belajar di sekolah saja tidak cukup, hal tersebut terjadi karena beberapa faktor. Di jenjang Sekolah Menengah Akhir terdapat minimal tiga belas mata pelajaran yang meliputi mata pelajaran agama, Pendidikan Kewarganegaraan, bahasa Indonesia, matematika, sejarah, bahasa Inggris, seni budaya, olahraga, bahasa daerah, fisika, kimia, biologi, dan ekonomi. Dengan mata pelajaran yang sebanyak itu memahami keseluruhannya adalah hal yang mustahil dengan guru-guru yang belum tentu memiliki performa kemampuan mengajar yang berkualitas, juga dengan kendala lainnya. Saat ini, masih saja banyak sekolah dengan guru-guru yang sangat jarang masuk kelas. Yang seharusnya, mengajar merupakan kewajiban dari guru itu sendiri. Disebabkan oleh itu, para siswa merasa kebingungan saat ujian akhir. Bagaimana mereka akan belajar, sedangkan tenaga pengajar itu sendiri tidak pernah memberikan materi.
Pendidikan di Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai tantangan. Kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh dari harapan karena kesenjangan akses dan pendidikan antar wilayah, distribusi guru yang tidak merata, serta banyaknya kualitas lulusan yang rendah.
Kalimat ini adalah mimpi buruk bagi seluruh siswa/i di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perasaan tertekan dimana mereka harus mengejar standar kesuksesan para murid SMA saat ini. Masuk ke jajaran peringkat 10 teratas di sekolah dan masuk universitas ternama, namun apakah hal itu dapat memastikan mereka adalah lulusan yang berkualitas? Belum tentu juga. Tetapi, hal tersebut tidak dapat dihindari. Prioritas siswa/i SMA saat ini adalah, bisa masuk di universitas yang mereka inginkan. Segala cara akan dilakukan demi hal tersebut dan cara yang mereka butuhkan saat ini adalah les tambahan akademis.

