Oleh : Ni Made Naina Maitria Wicaya
Hari tahun baru, juga disebut sebagai tahun baru dirayakan pada tanggal 1 Januari, adalah hari pertama dimulainya tahun pada kalender Gregorian modern dan juga kalender Julius. Tahun baru adalah hari permulaan tahun dimana dilakukan suatu budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Tahun baru biasanya ditandai dengan upacara atau suatu kegiatan yang melambangkan membuang tahun lama dan bersukacita menyambut tahun baru. Ada banyak perayaan unik yang dilakukan oleh setiap negara di seluruh belahan dunia.
Menengok belakang, menelisik lebih dalam, perayaan pesta malam tahun baru 2023 begitu meriah setelah tidak ada lagi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Pergantian 2023 menjadi momen yang berbeda karena Indonesia resmi tidak lagi menerapkan PPKM. PPKM ditiadakan karena pertimbangan kondisi kasus Covid yang melandai. PPKM ini dicabut H-1 jelang pergantian tahun. Hal itu membuat perayaan pergantian malam tahun baru 2023 menjadi berbeda. Tidak ada lagi pelarangan perayaan malam tahun baru. Perayaan pergantian tahun terjadi di sejumlah titik di seluruh provinsi. Masyarakat berbondong-bondong datang bersama keluarga dan kerabat untuk merayakan pergantian tahun baru. Pesta kembang api pun digelar di berbagai kota.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyatakan bahwa pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan khusus untuk mengantisipasi kerumunan di malam tahun baru 2023. Ia mempersilahkan masyarakat untuk bergembira merayakan Tahun Baru 2023. Sungguh mengharukan mengetahui kenyataan bahwa akhirnya perayaan yang amat sangat bermakna ini bisa kita dan seluruh dunia rayakan kembali setelah 2 tahun lamanya kita mendekam, menutupi diri dari ganasnya wabah virus Covid-19. Lantas bagaimanakah perayaan tahun baru 2024 kali ini yang disambut dengan tahun politik dan berdekatan dengan PEMILU (Pemilihan Umum)?
Indonesia, negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, akan menggelar pemilihan umum yang diklaim terbesar di dunia pada 2024 mendatang. Jumlah total pemilih diperkirakan mencapai 74% dari total populasi Indonesia, sebagian di antaranya adalah pemilih pemula. Tak kurang dari tiga bulan mendatang, tepatnya 14 Februari 2024, segenap warga negara Indonesia yang telah memiliki hak pilih akan melakukan pemungutan suara dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2024 guna memilih presiden dan wakil presiden, serta para anggota legislatif (DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD kabupaten/kota) untuk periode 2024-2029.
Dalam persiapan menghadapi Pemilihan Umum atau Pemilu pada 2024 yang semakin dekat, pembicaraan mengenai calon presiden serta jajarannya semakin banyak disuarakan di lingkungan masyarakat. Pemilihan Umum 2024 dapat menjadi tonggak penting dalam sejarah politik negara, di mana peran dan pengaruh Generasi Millennial menjadi penentu arah masa depan politik dan tata kelola negara. Dengan nilai-nilai yang mereka usung, generasi ini memiliki potensi untuk menciptakan perubahan yang signifikan, membentuk perdebatan politik, dan merespons tuntutan masyarakat secara lebih efektif. Apakah PEMILU akan mempengaruhi perayaan tahun baru 2024?
Saat ini hal yang paling dihindari oleh seluruh rakyat Indonesia adalah “Potensi gesekan antar pendukung calon presiden pada perayaan tahun baru 2024”. Sebagian rakyat Indonesia memandang bahwa di saat perayaan yang menggebyar ini, beberapa oknum pendukung capres akan memanfaatkan kesempatan untuk cari gara-gara. Oleh karena itu, pemerintah menghimbau masyarakat agar tidak terlalu ramai merayakan perayaan tahun baru 2024 guna menghindari kemungkinan tersebut.
Seperti diketahui, kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 akan digelar sebentar lagi. Pesan damai dalam perayaan Natal kali ini pun ikut disuarakan. Beberapa gereja menyampaikan pesan agar Pemilu tahun depan tak berujung pada perpecahan antar umat di tengah perbedaan pandangan politik.
Ketua Majelis Jemaat GPIB Immanuel, Abraham Ruben Persang mengimbau agar para jemaat tidak saling menghakimi meski berbeda pilihan dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Hal tersebut disampaikan Abraham ketika memaknai perayaan Natal yang berlangsung di tengah-tengah tahun politik.
Kesuksesan pemilu serentak 2024 menjadi momen penentu masa depan bangsa, khususnya dalam kurun lima tahun mendatang. Kematangan demokrasi Indonesia kembali akan diuji di masa perhelatan pemilu 2024.

