Oleh : Ni Komang Ayu Ananda Sri Savitri
Pendidikan merupakan suatu pilar yang sangat penting dalam pembangunan masyarakat dan negara. Pendidikan sendiri memiliki tujuan untuk mempersiapkan individu agar dapat berfungsi dengan baik dalam masyarakat dan mencapai potensi mereka kedepannya. Lembaga pendidikan tentu akan terus mencari cara untuk meningkatkan mutu pendidikan mereka. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan kegiatan P5 di kurikulum merdeka yang dimana dapat menarik perhatian besar dari para siswa di SMA Negeri 3 Denpasar. Program kurikulum merdeka sendiri merupakan kurikulum yang diisi beragam kegiatan sekolah dengan muatan yang lebih optimal sehingga siswa mempunyai waktu yang cukup untuk mengeksplorasi konsep secara mendalam dan meningkatkan keterampilan.
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) telah menjadi topik perdebatan yang panjang dan kontroversial di kalangan siswa. P5 adalah suatu mata pelajaran yang dirancang untuk mengajarkan nilai-nilai Pancasila, kewarganegaraan, dan etika kepada siswa di seluruh jenjang pendidikan. P5 sendiri sangat penting bagi kalangan pelajar, karena pendidikan ini membantu generasi muda memiliki pemahaman yang kuat tentang Pancasila dan ideologi dasar negara Indonesia. Selain itu, P5 juga membantu memupuk rasa cinta tanah air, meningkatkan kesadaran kewarganegaraan, dan norma-norma moral seseorang dalam kehidupan sehari hari. Oleh karena itu, pelajar di seluruh Indonesia diharapkan dapat berpartisipasi dalam pembangunan global yang berkelanjutan serta tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan.
Profil Pelajar Pancasila memiliki berbagai macam kompetensi yang dirumuskan menjadi enam dimensi kunci, dimana keenamnya saling berkaitan dan menguatkan sehingga dibutuhkan berkembangnya keenam dimensi kunci tersebut secara bersama untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila yang utuh. Keenam dimensi kunci tersebut diantaranya, yaitu:
1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berahlak mulia
2. Berkebinekaan global
3. Bergotong-royong
4. Mandiri
5. Bernalar kritis
6. Kreatif
Dimensi-dimensi tersebut menunjukkan bahwa Profil Pelajar Pancasila tidak hanya fokus pada kemampuan psikologi, tetapi juga sikap dan perilaku sesuai dengan jati diri sebagai bangsa Indonesia sekaligus warga dunia.
Dengan adanya kegiatan P5 ternyata memberikan dampak terhadap kesehatan mental pada siswa, hal ini dikarenakan banyaknya persepsi-persepsi yang dikemukakan oleh siswa. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan mental adalah kemampuan untuk melakukannya penyesuaian diri seseorang terhadap dirinya sendiri dan lingkungan alam secara keseluruhan, sehingga ia merasa senang, bahagia, hidup bebas, berperilaku sosial dengan normal, serta mampu menghadapi dan menerima kenyataan hidup yang berbeda.
Setelah melakukan survei terhadap 20 siswa SMA Negeri 3 Denpasar, didapatkan hasil bahwa dengan diberlakukannya kegiatan P5 memberikan dampak terhadap kesehatan mental siswa. Adapun salah satu contoh dampak positif yang diberikan, misalnya membantu mereka untuk mengembangkan bakat yang ada, yaitu berwirakeusahaan. Manfaat yang dapat diambil dari contoh tersebut adalah kita menjadi lebih mengetahui bagaimana cara membuat video promosi usaha yang benar, dan mengerti cara menjalin kerja sama dengan pemilik toko. Kegiatan P5 ini mengenalkan siswa mengenai kearifan lokal yang dimana mereka diajarkan tentang budaya-budaya yang ada di Bali, seperti membuat projek video mengenai budaya di suatu daerah. Adanya P5 juga akan mendorong siswa untuk lebih berani bersosialisasi dengan orang lain dan terbuka, serta siswa dapat belajar menghormati perbedaan, menjaga persatuan, dan bekerja sama dalam keragaman.
Namun, disisi lain ternyata dengan diberlakukanya kegiatan P5 juga memberikan dampak negatif, seperti siswa harus bisa beradaptasi dengan banyaknya projek dan tugas yang diberikan. Siswa diharuskan untuk bersosialisasi dengan orang lain, tentunya hal ini akan membuat sebagian siswa merasa cemas mengenai apakah mereka akan diterima dengan baik atau tidak. Selain itu, siswa juga akan merasa takut apabila nantinya mereka akan kesulitan memahami atau terlambat dalam mengerjakan projek itu sendiri. Sebagian siswa menganggap bahwa waktu yang digunakan untuk P5 dapat mengganggu kurikulum akademis inti, seperti matematika, bahasa, ataupun yang lainnya, sehingga akan lebih sulit mengatur waktu dan memiliki lebih sedikit kesempatan untuk mempelajari mata pelajaran lain yang mungkin lebih relevan dalam persiapan mereka untuk masa depan. Hal tersebut akan menyebabkan berkurangnya kualitas pendidikan siswa. Selain merampas waktu siswa, dalam pengerjaan projek dari kegiatan P5 ini, tentunya akan membutuhkan biaya yang lebih besar, hal tersebut akan menyebabkan timbulnya suatu tekanan pada siswa. Dalam beberapa kasus tidak sedikit siswa yang mengeluh akan adanya kegiatan P5 yang dapat menyebabkan kesehatan mental mereka terganggu.
Berdasarkan konteks yang telah dipaparkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa kesehatan mental siswa merupakan aspek yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Dengan adanya kegiatan P5 mempunyai dampak positif dan negatif terhadap kesehatan mental siswa. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil yang maksimal, kegiatan P5 harus dikelola dengan baik dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari program sekolah, serta diperlukan dukungan dari sekolah, guru, dan orang tua juga diperlukan. Sehingga kita dapat mengharapkan hasil yang positif dalam bentuk kesehatan mental yang lebih baik dan perkembangan siswa yang lebih seimbang secara emosional.

