Alam Murka, Manusia Menderita
Oleh : Ni Putu Meita Pradnyani
Perubahan iklim masa kini mulai mengancam kesejahteraan hidup makhluk hidup di bumi. Merujuk pada laporan the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), menyebutkan bahwa pada tahun 2011 - 2020, suhu permukaan global sudah meningkat rata-rata 1,09 derajat Celcius, dengan kenaikan suhu di permukaan daratan sebesar 1,5 derajat Celcius dan di permukaan lautan sebesar 0,89 derajat Celcius. Kondisi yang tanpa kita sadari kian memburuk, dapat memberikan dampak yang besar bagi anak cucu kita nanti.
“Apa yang kamu tabur itulah yang kamu tuai” Peribahasa yang tepat untuk menggambarkan hubungan manusia dan lingkungan saat ini. Manusia merupakan makhluk hidup
paling sempurna yang dibekali dengan akal dan budi oleh sang pencipta. Akal dan budi dapat menjadi pedang bermata dua, bergantung bagaimana manusia dalam menghendakinya. Hukum alam sebagai suatu kesatuan kosmos dipahami memiliki hubungan erat dengan berbagai fenomena alam yang dapat kita amati dan rasakan. Sungai tidak akan banjir jika manusia tidak membuang sampah sembarangan ke sungai, hutan akan tetap lestari bila kita tidak menebang nya secara berlebihan, udara akan segar ketika kita tidak menebar polusi di sekitarnya. Dari data riset Kementerian Kesehatan diketahui hanya 20 persen dari total masyarakat Indonesia peduli terhadap kebersihan dan kesehatan. Ini berarti, dari 262 juta jiwa di Indonesia, hanya sekitar 52 juta orang yang memiliki kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekitar dan dampaknya terhadap kesehatan. Miris memang. Karma dapat menimpa manusia kapan saja. Alam juga dapat murka bila kita bertindak seenaknya.
Ancaman berdatangan menimpa manusia, bencana hidrometeorologi jadi ancaman yang menanti kita yang sudah tidak sadar akan menjaga lingkungan. Banjir, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan, kualitas udara yang buruk, kebakaran hutan dan lahan memang sudah tidak asing menjumpai negeri kita. Tiap tangisan yang dirasakan manusia begitu juga dengan alam yang dirusak oleh manusia. Menurut The World Risk Index tahun 2019, Indonesia berada pada peringkat 37 dari 180 negara paling rentan bencana. Alangkah baiknya kita harus tetap waspada.
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat 237 peristiwa bencana alam di Indonesia sejak 1 Januari hingga 6 Februari 2023. Tercatat, bencana yang paling banyak terjadi adalah banjir, yakni 89 kejadian. Jumlah ini setara 37,5% dari total kejadian bencana nasional. Awal tahun yang membawa begitu banyak berita pilu.
Rencana penanggulangan bencana dari pemerintah perlu kembali dikuatkan, sudah kewajiban mereka untuk menjadi orang pertama yang peka terhadap masalah ini. Hal ini guna memenuhi Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 28H yang menyatakan bahwa negara harus menjamin kehidupan dan lingkungan yang layak bagi warga negaranya, inilah alasan utama yang mendasari komitmen Indonesia untuk perubahan iklim. Tapi dari tahun ke tahun tak kunjung membaik.
Waktu terus berjalan, mau tidak mau harus dihadapi dan diperjuangkan. Karena masa lalu tidak dapat diputar kembali. Begitu banyak harapan kepada generasi muda agar memberikan ide - ide baru yang dapat menyelesaikan permasalahan lingkungan ini.

