Oleh: Pande Putu Puspaningayu Agustin
Pers bekerja layaknya sebuah chip yang serba tahu dan merekam segalanya. Dimanapun, kapanpun, dan apapun permasalahannya, selalu tercium oleh pers. Salah satunya pandemi Covid-19. Dua tahun sudah virus ini menghantui Indonesia, khususnya Bali. Tentu dalam hal ini pers sangat berperan dalam menyiarkan pemberitaan Covid-19 di Bali. Dari awal penyebaran hingga saat ini. Tak henti-hentinya informasi mengenai Covid-19 berselancar di sosial media, koran, majalah, televisi, juga media massa lainnya.
Di masa krisis seperti saat ini, pers sangat diharapkan untuk dapat menyajikan informasi yang informatif dan edukatif, bukan menggiring opini masyarakat. Pers juga mesti memberikan informasi yang berimbang, tak berat sebelah. Juga penting untuk selalu melakukan check and recheck dalam pemberitaan. Memang tidak dapat dipungkiri, dewasa ini banyak informasi yang bermunculan yang kerap menimbulkan kebingungan dan kesalahpahaman. Kesalahpahaman tersebut merupakan dampak bila informasi yang diperoleh tidak dicek kebenarannya sebelum dimuat oleh media.
Pers harus mampu mengedukasi masyarakat. Didukung pula oleh pemerintah yang mau terbuka dengan data kasus Covid-19, tanpa ditutup-tutupi ataupun dimanipulasi. Berkat pers, banyak orang menyadari bagaimana berbahayanya Covid-19. Berkat pers pula, orang-orang menjadi terbantu di tengah krisis ekonomi dan krisis kesehatan. UMKM ataupun usaha lain, khususnya yang bergerak di sektor pariwisata, tentu merasa seperti dilindungi dan disokong. Bagaimana tidak, dengan adanya pers, wisatawan menjadi tahu bagaimana situasi sebenarnya di Bali. Dengan begitu, membuat mereka tak ragu lagi untuk datang ke Bali. Tak hanya itu, keberadaan pers membantu siswa-siswi mengetahui kebenaran informasi kasus positif Covid-19 di sekolah-sekolah. Meskipun masih ada saja sekolah yang tidak mau terbuka.
Pers layaknya CCTV berjalan. Merekam dan menyiarkan segalanya. Kita tak akan tahu berapa banyak kasus positif Covid-19, sudahkah ada vaksin Covid-19, apakah di luar sana berbahaya atau tidak, dan lain-lain tanpa adanya pers. Meskipun sebegitu besar yang pers lakukan, ada saja stigma negatif yang bermunculan. Tak lain tak bukan, ini disebabkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab yang membuat rasa kepercayaan masyarakat terhadap pers berkurang.
Serba salah, industri pers nasional mengalami tekanan luar biasa berat. Khususnya di masa-masa seperti ini. Selain mengatasi tekanan akibat pandemi, pers nasional juga menghadapi tekanan akibat disrupsi digital, dan tekanan dari berbagai platform raksasa asing yang menggerus potensi ekonomi dan pengaruh media-media arus utama. Perubahan drastis lanskap persaingan media melahirkan berbagai persoalan yang pelik. Munculnya sumber-sumber informasi alternatif, tumbuh suburnya tren informasi yang semata mengejar jumlah klik atau views, membanjirnya konten-konten yang hanya mengejar viral, masifnya informasi yang menyesatkan bahkan adu domba sehingga menimbulkan kebingungan dan bahkan perpecahan.
Begitulah pers, sangat riskan. Salah berbicara sedikit pun akan sangat berbahaya. Karena cakupan atau jangkauannya yang sangat luas. Terlebih lagi kecepatan menyebarluasnya bagai kilat. Di luar dari beberapa oknum-oknum tak bertanggung jawab, namun tentu masih ada oknum-oknum pers yang peduli bahkan sangat amat peduli dengan kondisi masyarakat. Bekerja dari pagi hingga malam meskipun sebagian besar mungkin penghasilannya tidak sepadan dengan tenaga yang dikeluarkan. Namun begitulah pers. Apa adanya, bekerja dalam diam dan membantu yang sulit dibantu.

