Oleh: Luh Nitya Sawitri
Hitam dan putih. Utara dan selatan. Air dan Api. Demi menjaga keseimbangan, dunia terdiri dari unsur-unsur yang berlawanan. Hal ini dijelaskan dalam filosofi Yin Yang. Unsur yang berlawanan tersebut malah menyempurnakan hal-hal dan membuatnya menjadi lebih indah. Seseorang tidak bisa memaksakan pendapatnya terkait satu sisi mata uang. Sebab, faktanya ada dua sisi mata uang. Filosofi ini juga tercermin dalam menjelaskan dampak dari kemajuan teknologi. Ada baik dan buruk. Lantas, mana yang benar? Baik atau buruk?
Seiring berjalannya waktu, teknologi berkembang semakin pesat. Teknologi bak kompas dan peta untuk mengarahkan tindakan masyarakat. Bila diperhatikan, sudah seperti “Buku Panduan” dalam menjalankan kehidupan. Salah satu contoh perkembangan teknologi adalah sosial media, atau kerap disapa sosmed. Dewasa ini, masyarakat semakin mengagung-agungkan media ini. Sosmed dihiasi dengan update kehidupan para pengguna. Mulai dari foto kuliner, fashion, hewan peliharaan, keluarga, dan masih banyak lagi. Tidak terbatas pada generasi milenial, generasi X dan Z juga mulai belajar mengoperasikan sosial media.
Meskipun marak digunakan, penggunaan salah satu contoh kemajuan teknologi ini mengundang pro kontra masyarakat. Bila direnungkan kembali, hal semacam ini tidak dapat dihindari. Pro dan kontra akan selalu ada untuk menghiasi kehidupan masyarakat. Tergantung bagaimana cara seseorang menghadapi dan menyikapi hal tersebut. Tidak hanya sosial media, tapi juga contoh perkembangan teknologi lainnya.
Sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat, bahwa kemajuan ini bak pisau bermata dua. Dampak baik teknologi, siap memberikan euforia bagi masyarakat. Tapi, dampak buruknya juga ikut mengintai. Contohnya, keberadaan Covid-19. Kondisi pandemi memaksa Indonesia untuk maju di bidang teknologi. Mau tidak mau, sebagian besar sektor kehidupan, harus dijalankan dengan basis teknologi. Contohnya, belajar secara daring, menyimpan dan mengirim uang secara daring, dan masih banyak lagi.
Meski dilanda kesedihan akibat pandemi, kemajuan teknologi dapat menjadi pelipur lara bagi masyarakat. Kenyamanan yang ditawarkan saat melakukan aktivitas secara daring, menenangkan masyarakat dari terjangan panik akibat Covid-19. Kemudahan dalam beraktivitas juga dapat ditawarkan secara daring. Jika dilihat dari sisi ini, dampak baik kemajuan teknologi terdengar jelas, bukan?
Bila dilihat dari sisi lain, majunya teknologi juga dapat meningkatkan sifat individualis pada seseorang. Mereka yang senang mengoperasikan alat-alat digital, cenderung akan mengurung diri di kamar. Mereka lebih memilih untuk membaca dan berinteraksi melalui layar ponsel, dibandingkan harus bertemu secara langsung. Didukung pula dengan adanya ojek makanan online. Hanya perlu pesan melalui aplikasi, kemudian makanan akan dikirim ke rumah. Tidak perlu berjalan ke warung.
Coba digali lebih dalam. Perkembangan teknologi juga memicu meningkatnya tingkat kejahatan siber. Seperti, meretas identitas masyarakat, melakukan penipuan, dan kejahatan lainnya yang dapat dilakukan secara daring. Kejahatan macam ini dilakukan menggunakan perangkat teknologi dan jaringan internet. Sehingga, memberikan kemudahan dan peluang lebih besar kepada pelaku untuk melancarkan aksinya. Kejahatan siber memungkinkan pelaku untuk menyembunyikan identitasnya dan menghapus jejak digital. Dengan begitu, mereka lebih sulit untuk dilacak oleh para penegak hukum.
Dari penjabaran tersebut, dapat disimpulkan, keberadaan teknologi tetap akan mengundang pro dan kontra. Semaju apapun teknologi tersebut. Akan selalu ada baik dan buruk. Seperti filosofi Yin dan Yang. Kembali lagi, semua yang terjadi, bergantung pada sikap para pengguna. Apakah mereka bijaksana dalam mengoperasikan teknologi tersebut, atau malah semena-mena?
Jangan lupa bahwa satu langkah yang ceroboh, dapat berpengaruh besar. Mungkin terlihat sepele, tapi teknologi juga dapat menyebabkan perpecahan bangsa. Dapat dibuktikan dengan maraknya berita bohong di berbagai media. Bukan hanya berita bohong, tapi juga berita yang mengandung ujaran kebencian. Hal ini tentu akan mengundang amarah pihak terkait. Akan lebih baik jika amarah dan masalah diselesaikan secara damai. Tapi, bagaimana jika mereka malah kembali mengejek, atau memulai perkelahian?
Disinilah muncul peran generasi milenial untuk mengemudikan kapal teknologi di Indonesia. Terlebih lagi, di tengah derasnya arus informasi. Menurut Data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2020, generasi milenial terdiri dari 25,87% dari populasi manusia di Indonesia. Sedangkan, generasi Z yang ada di Indonesia adalah sebesar 27,94% dari total penduduk Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa generasi milenial menempati posisi tertinggi kedua sebagai populasi terbanyak di Indonesia, setelah generasi Z. Dari persentase tersebut, terlihat bahwa generasi milenial berpengaruh dalam mengenalkan kepada masyarakat tentang penggunaan teknologi dengan bijaksana.
Orang tua mungkin menganggap hal itu sebagai dampak buruk. Tapi, anak muda malah menganggapnya sebagai dampak baik. Dampak perkembangan teknologi bagi kehidupan manusia tidak dapat dipukul rata. Tidak sepenuhnya buruk, tidak pula sepenuhnya baik. Maka dari itu, generasi milenial memegang peran besar sebagai nahkoda kapal teknologi.
Melalui sosial media, generasi milenial dapat menyosialisasikan tentang baik buruknya teknologi. Salah satu hal penting, tentang bagaimana cara menggunakan teknologi dengan bijaksana. Contohnya, mengenalkan metode saring sebelum sharing, untuk mencegah penyebaran berita hoax. Dengan menuangkan sedikit kreativitas, sosialisasi tersebut dapat kemas dalam bentuk yang lebih unik. Seperti kartun, video kreatif, poster, dan lainnya.
Sebagai generasi penerus bangsa, milenial tidak boleh diam saja melihat dampak buruk yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi. Apalagi sampai menyebabkan kericuhan massa. Jangan sampai, kemajuan yang kita pandang baik, malah menjadi penyulut perpecahan bangsa. Maka dari itu, generasi milenial berperan penting dalam mengendalikan derasnya arus teknologi di Indonesia.

