Langkah yang memprioritaskan sektor pendidikan mulai diambil saat ini. Serentak pada 1 April mendatang, pembelajaran tatap muka (PTM) kembali digelar di Pulau Dewata. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster pada 11 Maret 2022, lalu.
Dilansir dari berita berjudul “Pembelajaran Tatap Muka Akan Berlangsung Serentak 1 April di Bali” yang diunggah pada 11 Maret 2022 dalam laman Tribun Bali, keputusan tersebut diambil karena Gubernur Koster melihat adanya penurunan kasus Covid-19 secara konsisten. Peningkatan angka kesembuhan pun kini telah mencapai 96 persen.
Namun benarkah penurunan kasus disebabkan oleh Bali yang kian ‘aman’? Atau justru karena masyarakat yang mulai menyepelekan keberadaan Covid-19? Sehingga mereka tak lagi mempedulikan swab test, antigen, PCR, dan lain sebagainya. Padahal, dalam tubuh mereka sejatinya telah bersemayam virus ini. Jika demikian, tak heran mengapa media massa memberitakan bahwa Bali seolah-olah perlahan sembuh.
Pawai ogoh-ogoh yang terlaksana dengan semarak dan jauh dari kata taat akan protokol kesehatan pada 2 Maret lalu seharusnya menjadi tanda tanya besar. Tidak kah situasi tersebut menjadi klaster baru penyumbang kasus Covid-19? Sekolah tatap muka yang jauh lebih ketat dalam menerapkan protokol kesehatan ketimbang pawai ogoh-ogoh saja menjadi klaster utama melonjaknya kasus Covid-19 pada akhir Januari 2022. Mungkin kah selepas pawai, Corona hilang begitu saja dari Pulau Dewata? Atau lebih tepatnya, hilang dari benak warga. Nyatanya Covid-19 masih ada, mengintai kita kapan saja.
Baik guru maupun siswa sudah bosan, metode pembelajaran terus tanpa kepastian. Baru saja merasakan suasana lingkungan sekolah yang sebenarnya, kini mesti kembali terhalang jarak. Dan pada 1 April nanti, konon akan kembali duduk di bangku sekolahan. Seperti tak ada kejelasan akan dunia pendidikan dari para atasan.
Untuk benar-benar berani mengadakan kembali pembelajaran tatap muka, pemerintah mestinya mengeluarkan aturan dimana seluruh warga sekolah wajib menyertakan bukti tidak terjangkit virus Covid-19. Hal ini guna mencegah pembelajaran di Indonesia yang terus saja ditarik ulur. Sepekan luring, tak berselang lama kembali daring. Dan lagi-lagi, media massa ramai memberitakan bahwa sekolah menjadi klaster penyebaran Covid-19 yang meroket.
Di tengah kambangnya keputusan pemerintah akan metode pembelajaran yang mesti dilakoni, tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan siswa mulai terbiasa dan menikmati pembelajaran daring. Tak menutup kemungkinan, kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbentuk begitu lama semasa pembelajaran daring akan menghambat kondusivitas pembelajaran tatap muka nantinya.
Misalnya saja kebiasaan ‘bersembunyi’ di balik layar hitam dan dalih “gangguan koneksi”, yang menyebabkan pasifnya siswa-siswi selama proses pembelajaran. Jika hal ini tidak diubah dan diatasi, akan terjadi penurunan kualitas pada generasi muda ke depannya. Seperti melemahnya mental berani dan jiwa bersosialisasi, akibat terlalu lama berlindung di balik ‘perisai’. Harapan yang sudah ditaruh kepada generasi saat ini akan tersia-siakan begitu saja.
Kerjasama dari diri sendiri dan pemerintah merupakan langkah terbaik yang dapat dilakukan saat ini. Pemerintah telah mengeluarkan keputusan pembelajaran tatap muka pada 1 April mendatang. Dengan itu, baik guru maupun siswa mesti berbenah, guna menciptakan pembelajaran tatap muka yang kondusif dan juga aman. (cit/ryd)

