Sudah menjadi rahasia umum, Bali disulap bak pulau mati pada hari raya Nyepi. Jalanan yang semula padat oleh lalu lalang kendaraan, berganti lengang tak bersisa. Bukan hanya roda kendaraan, roda perekonomian yang biasanya melaju kencang pun, serentak terhenti di Bali. Tepat di hari Nyepi, Bali merehatkan dirinya yang lelah terus diforsir mengais pundi-pundi.
Hanya tertidur sehari, namun Bali mampu mengurangi polusi di alam secara drastis. Selama satu hari penuh, asap kendaraan sama sekali tak berterbangan di langit Bali. Masyarakat benar-benar dapat menghirup udara segar, tanpa polusi. Polusi suara pun turut dapat diredam, lantaran toko, pabrik-pabrik, dan kendaraan bermotor terpaksa berhenti beroperasi.
Di saat semua semakin cepat, Bali berani berhenti. Merelakan jutaan omset yang semestinya dikantongi dalam satu hari itu. Masyarakat Hindu Bali sudah tak keberatan akan hal ini, sebab inilah tradisi. Karena memang, Nyepi sendiri memiliki makna sepi atau hening, yang mengajarkan kita untuk mengutamakan hidup dalam suasana damai yang hening dan harmonis. Melalui Nyepi, manusia mengevaluasi kembali relasi antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan alam. Atau yang dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.
Nyepi tak sekadar perayaan tahun baru Saka. Nyepi memiliki filosofi di mana umat Hindu memohon kepada Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, untuk melakukan penyucian Buana Alit (manusia) serta Buana Agung (alam dan seluruh isinya). Maka dari itu, manusia dan semesta sama-sama mencari keseimbangan dan memperbaiki diri dalam relasinya. Sebab jika manusia ‘rusak’, alam pun akan demikian. Begitu pula sebaliknya.
Berbeda dengan pergantian tahun baru Masehi yang disambut semarak, pergantian tahun baru Saka dimulai dengan menyepi dan melaksanakan Catur Brata Penyepian. Di antaranya, Amati Geni (tidak menyalakan api atau lampu), Amati Karya (tidak melakukan pekerjaan atau kegiatan fisik), Amati Lelungan (tidak bepergian), serta Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang).
Dengan dilaksanakannya pantangan–pantangan tersebut, Bali akan berujung menyisakan suasana yang sunyi dan senyap selama satu hari penuh, sehingga alam kemudian bebas bergerak sesuai rotasinya tanpa campur tangan manusia.
Tahun ini, hari raya Nyepi jatuh pada Kamis, 3 Maret 2022. Namun sebelum menduduki puncak, ada tahapan lain yang turut menjadi bagian dari hari raya Nyepi. Diawali dengan upacara Melasti, dimana umat Hindu akan melaksanakan persembahyangan di laut untuk menyucikan diri secara lahir dan batin, serta benda sakral seperti Arca dan Pratima.
Tepat sehari sebelum Nyepi, umat Hindu juga melaksanakan Pengerupukan. Dilansir dari Indobalinews, Upacara Pengerupukan dilaksanakan dengan membuat api atau obor untuk mengobori lingkungan rumah, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu sejenis bahan makanan, serta membunyikan atau memukul benda-benda apa saja seperti kentongan untuk menghasilkan suara ramai dan kegaduhan. Hal ini dilakukan untuk mengusir para Bhuta Kala dari pekarangan atau lingkungan rumah.
Dalam kepercayaan umat Hindu, Bhuta Kala digambarkan dalam seni patung yang kerap disebut ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh ini dianggap mewakili sifat buruk dan jahat manusia. Itulah mengapa bentuknya biasanya menyeramkan. Setelah pawai selesai, ogoh-ogoh tersebut akan dibakar sebagai lambang pembersihan sifat jahat manusia yang dilenyapkan dalam ritual Nyepi.
Udara segar sedikit berhembus dari Gubernur Bali Wayan Koster terkait pelaksanaan pawai ogoh-ogoh 2022. Gubernur Koster menyetujui aspirasi para yowana atau generasi muda Bali untuk mengadakan pawai, dengan beberapa catatan. Pengarak dibatasi 25 orang, wajib menggunakan masker, dan harus didahului dengan test antigen dengan hasil negatif dan wajib yang sudah dua kali vaksin. Yowana yang tidak memenuhi unsur tersebut diminta untuk tidak ikut mengarak ogoh-ogoh walau hanya di depan banjar.
Walau sempat menuai pro kontra, namun keputusan akhir ini membawa kabar baik bagi pemuda-pemudi Bali. Mereka menumbuhkan kembali kreativitas dan seni yang sempat tertimbun dua tahun lamanya. Antusiasme masyarakat tergambar jelas, pemuda-pemudi di beberapa daerah di Bali bahu membahu menciptakan karya seni terbaik. (cit/drd)

