(Oleh : Putu Jyotira Dias)
Bali dikenal dengan sejuta adat dan tradisinya yang unik dan beragam. Tradisi-tradisi di Bali, khususnya tradisi Hindu tak luput dari berbagai sesajen atau kerap disebut dengan 'banten' oleh masyarakat Hindu di Bali. Banten yang disiapkan untuk upacara adat ini pun jumlahnya tak dapat dibilang sedikit, sehingga perlu disiapkan beberapa hari sebelumnya.
Upacara adat di Bali rumit. Mungkin begitulah anggapan orang-orang yang tak terlalu paham adat Bali ketika akan mempersiapkan suatu upacara. Bagaimana tidak dibilang rumit? Banten-banten yang harus disiapkan cukup banyak. Belum lagi cara membuatnya tidak dapat dibilang mudah.
Jangankan orang non-Hindu, sejumlah penganut agama Hindu di Bali sendiri juga ada yang merasakan hal serupa, khususnya perempuan. Banyak perempuan Bali yang dituntut harus pandai membuat banten. Jika tidak pandai, jadilah buah bibir mertua dan keluarga suami. Orang tua yang memiliki anak perempuan mewanti-wanti anaknya harus dapat mejejahitan, metanding, maupun mebanten. Konon agar saat sudah bersuami tak menjadi bahan olokan mertua dan sanak keluarga. Pertanyaannya, mengapa hanya perempuan yang dituntut harus dapat melakukan hal itu?
Di zaman modern ini, anggapan bahwa perempuan ‘harus’ dapat melakukan semua pekerjaan rumah tangga termasuk membuat banten merupakan pemikiran kuno. Anehnya pemikiran seperti ini masih cukup terbawa hingga masa sekarang. Biasanya orang tua-orang tua yang masih percaya pemikiran inilah yang sering memandang sebelah mata perempuan. Terutatama perempuan yang tidak dapat melakukan pekerjaan rumah tangga.
Dalam adat Hindu, banten di setiap upacara pasti memiliki makna dan simbol tertentu. Akan tetapi, tak sedikit orang-orang yang memegang teguh pemikiran itu tidak mengetahui makna dan filosofi dari banten yang mereka buat. Yang penting bantennya ada, dihaturkan, dan upacara berjalan lancar. Lantas apa hak mereka menghakimi perempuan yang tidak dapat mebanten? Padahal mereka sendiri juga tidak tahu banyak tentang banten. Justru yang awalnya tidak pandai seharusnya diajarkan supaya terbiasa dan pada akhirnya dapat melakukan sendiri. Bukan justru dijadikan bahan gosip semata.
Di Bali, masih cukup sering dielu-elukan wanita idaman itu yang pandai mengerjakan urusan rumah tangga, rajin mebanten. Terutama yang dapat mempersiapkan banten untuk upacara adat. Padahal, memangnya yang beragama Hindu dan turut dalam upacara adat hanya perempuan? Jawabannya tentu tidak. Ibaratnya kemampuan memasak, tak hanya perempuan yang harus dapat melakukannya. Laki-laki juga sepatutnya dapat melakukan sendiri. Sebab, yang perlu makan tidak hanya perempuan bukan?
Sama dengan perihal banten dan upacara adat. Sebagai sesama penganut agama Hindu, mengadakan upacara agama yang sama, maka laki-laki dan perempuan juga harus dapat melakukannya. Dapat mempersiapkan, menghaturkan, dan menyelesaikan. Tidak perlu rumit-rumit, yang penting memenuhi syarat yadnya dalam agama Hindu. Antidepressant Drugs
Jadi, sedari kecil tak seharusnya hanya anak perempuan saja yang dituntut belajar mejejahitan, metanding, mebanten, anak laki-laki juga perlu diajarkan. Di masa sekarang ini sudah tak zaman lagi diskriminasi wanita. Bahasan tentang kesetaraan gender juga sudah bukan hal baru lagi. Adat Bali tak akan menjadi rumit jika banten dan persiapannya dilakukan bersama-sama baik laki-laki maupun perempuan. Tentunya yang utama dilaksanakan dengan niat yang tulus.

