Oleh : Cokorda Istri Niti Laksmi Dewi
Bali, pulau dengan sejuta keindahan, telah banyak mencuri perhatian banyak kalangan. Bali telah populer hingga ke mancanegara dan rata-rata orang asing mengetahui Pulau Bali. Bahkan karena saking populernya Pulau Bali, terkadang orang asing menganggap Bali merupakan wilayah atau negara tersendiri dan bukan bagian dari wilayah negara Indonesia.
Keindahan pantainya, alam pegunungannya, keramahtamahan warganya, dan keseniannya menjadi pengingat seseorang terhadap Bali. Selain hal tersebut, terdapat tradisi yang kental juga menghiasi keindahan Bali. Tradisi telah menjadi salah satu wajah Bali yang memikat banyak kalangan. Bagaimana tidak, setiap tradisi memiliki keunikan dan nilai tersendiri. Banyak upacara agama diselenggarakan dan setiap upacara pasti ada maknanya.
Lantas bagaimana tradisi dijalankan pada masa pandemi? Pandemi telah melanda Indonesia selama satu tahun, mulai dari dinyatakannya pasien pertama positif pada 2 Maret 2020 hingga sekarang. Semakin banyak yang berstatus positif setiap harinya. Kondisi tersebut membuat masyarakat mau tidak mau harus membatasi kegiatannya dengan banyak orang agar laju penyebaran virus dapat ditekan. Tentu kondisi ini dapat dikatakan menghambat masyarakat Bali menjalankan tradisi atau upacara keagamaan. Mengingat tradisi atau upacara agama di Bali yang identik dengan banyaknya orang yang ikut serta.
Dahulu, setiap ada bencana atau masalah yang melanda, masyarakat Bali pasti menggelar upacara, entah itu besar atau kecil demi memohon keselamatan dan perlindungan. Sekarang, upacara yang seperti itu disederhanakan dan dibatasi. Dengan sedikit orang dan tidak ada kerumunan. Apakah salah? Tidak, selama tidak mengurangi makna dari upacaranya.
Apakah masyarakat Bali sudah mampu beradaptasi dengan keadaan seperti ini? Jawabannya ada yang sudah dan belum. Nyatanya masih banyak yang melangsungkan upacara, seperti upacara pernikahan yang besar dengan mengundang banyak tamu untuk hadir. Tentunya hal tersebut bisa menjadi ladang penyebaran virus. Memang upacara pernikahan merupakan upacara penting, membutuhkan banyak orang, yang paling ditunggu-tunggu, dan menjadi momen bahagia. Tetapi kembali lagi dengan kondisi yang tidak mendukung. Risiko menyelenggarakan upacara pernikahan di masa pandemi. Upacara bisa disederhanakan, melibatkan hanya keluarga dan kerabat dekat, serta pendeta yang memimpin upacara. Urusan tamu undangan bisa dipikirkan lagi, tetapi yang terpenting upacaranya berjalan sesuai dengan tujuan dan tidak mengubah makna dari upacara tersebut.
Contoh lain yaitu persembahyangan di pura. Sebelum pandemi, persembahyangan di pura dipastikan selalu ramai. Tetapi hal tersebut tampaknya harus ditunda dahulu selama masa pandemi. Hanya para pengurus pura dan beberapa umat saja yang diizinkan untuk datang dan bersembahyang langsung di pura. Namun, terkadang masih banyak umat yang beramai-ramai datang ke pura agar bisa sembahyang langsung tetapi tidak mengindahkan protokol kesehatan. Sekali lagi hal tersebut tidak salah, bukankah bagus bersemangat untuk sembahyang? Ya, tetapi kondisi tidak memungkinkan. Tidak ada yang tahu siapa yang membawa dan bagaimana virus itu akan menyebar.
Masyarakat Bali sangat dekat dengan tradisi dan upacara-upacaranya. Saat pandemi pun masyarakat Bali tetap menjalankan tradisi walaupun harus dengan berbagai penyesuaian. Agar bisa meminimalisir penyebaran virus, hendaknya umat yang menjalankan tradisi atau upacara agama patuh dengan protokol kesehatan, jika bisa, upacara tersebut disederhanakan namun tidak menghilangkan maknanya, agar tidak melibatkan banyak orang.

