Oleh: I Gusti Ayu Agung Citra Perama Devhi
Bali merupakan salah satu destinasi wisata yang paling gencar diburu oleh wisatawan asing maupun domestik. Terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah dan budayanya yang unik, menjadikan Bali tak henti-hentinya kebanjiran para pelancong. Sektor pariwisata di Bali selalu meraup pundi-pundi rupiah dengan mudah tiap harinya. Melihat besarnya peluang bisnis di Bali, tak heran mengapa banyak orang luar Bali yang menyasar pulau ini sebagai target untuk berinvestasi.
Villa, hotel, bar, dan restoran kini dengan mudah kita jumpai di tiap jengkal wilayahnya. Semua tempat umum tersebut sebagian besar telah dilengkapi akomodasi terbaik untuk memberikan kenyamanan dan kepuasan bagi para pelancong yang datang. Namun sadarkah kita bahwa pemilik tempat-tempat tersebut bukanlah orang Bali itu sendiri? Justru yang kerap kita jumpai adalah resepsionis, para pengangkut barang di hotel, cleaning service, staff dapur dan para pekerja lainnya yang merupakan orang Bali asli. Kita orang Bali, namun seperti budak di negeri sendiri.
Bahkan warung makan seperti warung masakan Padang, lalapan, dan bakso yang telah menjamur di Bali turut milik para pendatang. Sedangkan orang Bali itu sendiri bekerja pada mereka. Jumlahnya melebihi warung yang menjual makanan khas Bali, seperti lawar, ayam betutu, nasi babi guling, dan masih banyak lagi. Mirisnya, kita sebagai masyarakat Bali malah lebih cenderung membeli makanan dari warung pendatang. Bukankah itu menunjukkan kita sendiri yang mematikan perekonomian masyarakat lokal? Tak heran jika kini pemilik warung makanan khas Bali memilih membuka outlet di luar Bali.
Turis asing kini turut gencar menyasar tanah-tanah di Bali yang letaknya masih asri, jauh dari perkotaan. Mereka bergerak cepat mencari makelar untuk menyewa tanah di Bali bahkan ada pula yang hingga membelinya. Sebagian besar tanah yang mereka cari berlokasi di wilayah pedesaan, sebab suasana alami pedesaan dan pemandangannya mendukung untuk dijadikan hotel, villa, maupun resort. Wilayah pedesaan yang sebagian besar dihuni oleh kaum lanjut usia biasanya memberikan tanah leluhurnya disewa investor karena mereka membutuhkan uang. Terlebih lagi, di situasi pandemi yang serba kesulitan ini, mereka tentu akan membiarkan tanahnya disewa asalkan cuan sampai di tangan. Para turis berlomba-lomba membangun villa, para tetua berlomba menyewakan tanahnya, sedangkan kita para generasi muda berlomba-lomba bekerja di villa mereka. Miris, namun para orang tua yang belum melek akan hal ini merasa bangga anaknya bekerja di tempat bergengsi. Padahal, tanah villa tersebut milik leluhur kita. Kita seperti kembali ke masa penjajahan. Tanah kita dijarah, sumber daya manusia kita dipekerjakan, dan alam kita di eksploitasi untuk keuntungan mereka.
Tak hanya di sektor pariwisata, dunia pendidikan dan kesehatan di Bali turut perlahan dikuasai oleh investor asing. Secara nyata telah kita jumpai banyak bertebaran sekolah-sekolah ekspatriat yang mempekerjakan warga lokal sebagai tenaga pengajar, bukan pada posisi top manajemennya. Sebagian besar rumah sakit bertaraf internasional juga meletakkan tenaga kerja asing sebagai pimpinan rumah sakit, sedangkan warga asli Bali lagi-lagi hanya sebagai pekerja biasa.
Tentu sangat berbahaya jika Bali terus menerus diperbudak di negeri sendiri. Lambat laun, warga lokal hanya bisa menonton keberhasilan orang luar yang mengeksploitasi sumber daya milik kita. Kita akan menjadi tidak berdaya dan mau tidak mau untuk tunduk dan patuh pada mereka. Agar tidak diperbudak, generasi muda Bali yang telah melek teknologi, informasi, dan komunikasi harus mampu menempatkan dirinya menjadi sejajar dengan sumber daya manusia di luar sana. Dengan demikian, warga lokal akan mampu berkompetisi dengan kaum pendatang dan investor asing dalam menata Bali ke depan.

