(Oleh: Kanka Sarahswati)
Topik yang tidak asing lagi di telinga, terlebih di kalangan pelajar maupun mahasiswa. Apalagi di situasi seperti saat ini, pendidikan menjadi salah satu aspek yang terkena dampak pandemi Covid-19 yang menginfeksi seluruh dunia.
Ketika kita membahas mengenai pendidikan di Indonesia. Terlepas dari masalah pendidikan yang baru muncul akibat pandemi, mengingat sebelum permasalahan Covid-19 ini muncul pun sudah banyak permasalahan pendidikan lainnya. Apakah tingkat dan sistem pendidikan di Indonesia sudah membaik?
Banyak program yang telah dilaksanakan untuk pendidikan Indonesia. Namun, hal itu tdak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya yang nyatanya belum bisa tercapai. Indonesia menduduki posisi keempat dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Namun, dari jumlah yang besar ini hanya 8,5 persen berhasil lulus pendidikan tinggi. Hal ini, disampaikan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo.
Selain rendahnya jumlah lulusan pendidikan tinggi, menurut Survei kemampuan pelajar yang dirilis oleh Programme for International Student Assessment (PISA), pada Selasa (3/12/20) di Paris, menempatkan Indonesia di peringkat ke-72 dari 77 negara. Data ini menunjukkan Indonesia berada di peringkat enam terbawah, masih jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Survei PISA merupakan rujukan dalam menilai kualitas pendidikan di dunia, yang menilai kemampuan membaca, matematika dan sains.
Dari data-data di atas dapat kita lihat bahwa tingkat pendidikan Indonesia begitu rendah. Dibanding dengan pendidikan negara lain yang tergolong baik, ada banyak perbedaan dari sistem pendidikan Indonesia.
Pertama, pendidikan usia dini di Indonesia. Hal ini sejatinya baik untuk motorik anak. Namun, di Indonesia pendidikan usia dini yang dimulai sejak usia 4-6 tahun sudah dilakukan dengan mengajarkan anak menulis dan membaca serta berhitung. Di Indonesia porsinya lebih banyak belajar daripada bermain dan sudah dibiasakan dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah, sementara di Luar Negeri fokus belajar anak di usia dini lebih menekankan pada bermain dan belajar berinteraksi juga mengeksplorasi lingkungan sekitar, sehingga berfokus pada melatih perkembangan motorik anak.
Kedua, waktu belajar yang padat full day untuk belajar membuat siswa jenuh dan kurang konsentrasi. Beda halnya di luar negeri, pelajaran di kelas rerata dilakukan hanya sebesar 30-40 persen saja, selebihnya adalah waktu bermain dan berinteraksi dengan siswa lainnya di luar kelas sehingga dapat memicu kegembiraan para siswa. Ketiga, beban tugas dan pekerjaan rumah bagi siswa malah menekan siswa dan membuat mereka semakin malas.
Keempat, Ujian Akhir Yang Paling Menentukan. Di Indonesia, penentuan kelulusan didasarkan pada ujian akhir yang dilaksanakan serentak secara nasional. Sementara di luar negeri penentuan hasil akhir dilakukan dari akumulasi pembelajaran yang dilakukan dalam keseharian. Tentu saja, ujian akhir nasional akan menjadi beban tersendiri bagi siswa dan tak jarang siswa yang memiliki prestasi atau juara kelas terpaksa harus gigit jari saat tidak mampu melalui ujian nasional.
Pendidikan tidak hanya berbicara mengenai kognitif (yang lebih berorientasi pada nilai), karena pendidikan itu luas tidak hanya berbicara mengenai nilai yang tertera di rapor. Setelah mendapat nilai bagus, bangga, dan ya sudah selesailah semua itu.
Tidak! Pendidikan itu berbicara mengenai tindakan nyata yang positif, akibat ilmu dan pengalaman yang didapatkan selama proses pembelajaran berlangsung. Percuma saja jika hanya pintar berteori. Tanpa mempraktikkan ilmu yang selama ini di dapat di sekolah atau di lingkungan pendidikan lainnya. Bukan bermaksud untuk merendahkan bangsa sendiri, namun pernyataan di atas jelas membuktikan bahwa tenaga kerja lokal memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan tenaga kerja asing.
Kelima, di Indonesia pengenalan pendidikan dilakukan sejak usia dini, sementara di luar negeri pengenalan pendidikan dimulai sejak usia 7 tahun. Dalam berbagai penelitian menyebutkan masa produktif atau matang pengenalan pendidikan yang paling baik adalah saat usia sudah mencapai 7 tahun. Permasalahan lain yang juga sangat berpengaruh adalah biaya pendidikan atau biaya sekolah. Sudah terbukti banyak anak yang putus sekolah karena tidak bisa membayar biaya sekolah mereka. Hal itu menjadi alasan bagi hampir semua anak yang tidak melanjutkan sekolah.
Hasto menyebutkan ada strategi untuk mencetak SDM berkualitas. Yakni, strategi Human Capital Life Cycle. Ada lima fase dalam strategi ini, yang bisa digunakan untuk mencetak SDM unggul.
Fase pertama, pemerintah terus memberikan penguatan intervensi paket gizi ibu hamil dan balita, termasuk revitalisasi posyandu, pendidikan holistik, penguatan pendidikan karakter. Fase kedua, memeratakan akses pendidikan dasar hingga menengah melalui wajib belajar 12 tahun. Termasuk menyediakan Kartu Indonesia Pintar, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan pemerataan mutu revitalisasi kurikulum, serta revitalisasi SMK.
Fase ketiga, memberikan kemudahan akses pendidikan tinggi berupa KIP kuliah, Beasiswa LPDP dan revitalisasi pendidikan tinggi vokasi dengan penggunaan 500 politeknik baru. Fase keempat, bagi lulusan perguruan tinggi disediakan kartu prakerja, kemudian disediakan pula pendidikan pra nikah. Fase kelima, perlindungan kesehatan, keamanan, dan kenyamanan bagi masyarakat. “Fase ini semua, cara agar mencetak SDM unggul dari segi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi," jelas dia

