Oleh: Ni Wayan Kusuma Putri
Banyak orang sering menganggap vaksinasi dan imunisasi sebagai hal yang sama. Padahal sebenarnya vaksinasi dan imunisasi memiliki makna yang berbeda. Perbedaan vaksinasi dan imunisasi sering diabaikan karena keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit tertentu.
Ya, keduanya adalah dua hal yang berbeda. Bagi orang tua yang memiliki anak di bawah usia 9 bulan, umumnya hampir tiap bulan akan bertemu dengan dokter anak untuk pemeriksaan kesehatan si kecil. Pemeriksaannya meliputi penimbangan berat badan, pengukuran panjang badan dan lingkar kepala, serta vaksinasi. Mengenai vaksinasi, sebagian besar orang juga menyebutnya imunisasi. Padahal, vaksinasi dan imunisasi merupakan dua hal yang tak sama.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), vaksinasi adalah kegiatan memasukkan vaksin ke tubuh seseorang untuk menghasilkan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Sementara itu, imunisasi adalah suatu proses ketika seseorang menjadi kebal terhadap penyakit tertentu melalui vaksinasi. Sebagian besar vaksin dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan, tapi ada juga yang melalui jalan lain seperti vaksin polio yang diteteskan ke dalam mulut anak.
Imunisasi terbagi menjadi dua yakni imunisasi aktif dan pasif. Vaksinasi termasuk dalam imunisasi aktif sebagai upaya untuk memicu tubuh mengeluarkan antibodi terhadap penyakit tertentu. Berbeda dengan imunisasi pasif yang berarti tubuh diberikan antibodi dan bukan dipancing untuk menghasilkan ketahanan tubuh, misalnya suntikan imunoglobulin. Imunisasi aktif dapat bertahan lebih lama untuk jangka panjang hingga seumur hidup, sedangkan imunisasi pasif hanya bertahan dalam hitungan minggu hingga bulan.
Metode pemberian vaksin dalam imunisasi berbeda-beda. Sejumlah vaksin ada yang hanya diberikan sekali untuk seumur hidup dan ada juga yang perlu diberikan secara berkala agar kekebalan tubuh terbentuk dengan sempurna. Meski lebih sering diberikan kepada anak-anak melalui imunisasi di puskesmas, sebetulnya vaksin bisa diberikan kepada orang dewasa sebagai bentuk imunisasi lanjutan, atau dengan jenis yang berbeda.
Saat seseorang terkena penyakit, sistem kekebalan tubuhnya akan “berperang” untuk melawan penyakit tersebut. Hal serupa juga terjadi pada imunisasi. Setelah vaksinasi, maka komponen dari vaksin akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk bersiap menghadapi penyakit tertentu. Dengan demikian, apabila di masa depan kita terinfeksi penyakit tersebut, sistem kekebalan tubuh sudah siap untuk melawan dan mengalahkannya, sehingga kita menjadi kebal atau tidak tertular.
Meski secara definisi berbeda, tetapi keduanya sama-sama dibutuhkan untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit, terutama pada anak yang masih tumbuh dan berkembang.

