Oleh : Ni Made Mutia Pradnyawangi dan Ni Luh Putu Eka Kumala Niti
Indonesia selalu menyanjung Bali dengan kemilau pantainya atau hijau sawahnya. Bahkan, banyak orang-orang luar negeri yang alisnya berkerut ketika ditanya Indonesia, namun langsung berganti jadi jingkrakan saat disinggung Bali. Turisme dan Bali bak sejoli yang selalu memadu kasih. Begitu sedekat nadi. Tapi kini, hadirnya COVID-19 membuat turisme dan Bali, seloah sejauh matahari.
Pulau Bali yang terkenal akan keindahan alam dan juga beragam budayanya ini menempati peringkat ke-5 sebagai destinasi wisata terpopuler versi Trip Advisor. Namun, sejak munculnya COVID-19 buru-buru sebagian dari negara di seluruh dunia melakukan lockdown untuk mencegah sergapan COVID- 19. Lantas bagaimana nasib Bali, yang dimanja sektor pariwisata selama ini?
Perekonomian di Bali sontak mengalami penurunan yang drastis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, ekonomi di Bali tepatnya pada triwulan I 2020, tercatat menyusut sebesar -1,14 %. Hal ini dapat diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp. 60,60 triliun dan berdasarkan atas dasar harga konstan (ADHK) yang tercatat sebesar Rp. 38,65 triliun.
Bahkan mimpi buruk ini terus belanjut hingga triwulan II 2020. Tersungkur lagi hingga -10,98 %, Bali mutlak alami resesi. Inilah potret ekonomi Bali yang paling tergolek layu, selama satu dasawarsa terakhir. Menurut data BPS, pariwisata Bali menyumbang setidaknya 48,3 % terhadap perekonomian Bali. Melihat kondisi ini, pemerintah Bali memang tidak diam saja. Namun, entah sadar atau tidak pemerintah seakan hanya terfokus di sektor pariwisata saja. Maka tak heran, bila hasil yang cukup signifikan untuk meningkatkan perekonomian Bali tak kunjung hadir.
Padahal, Bali memiliki potensi di sektor lain. UMKM sebetulnya dapat memantik ekonomi Bali jika betul dikelola dengan baik. Namun, jika ditelisik lebih lanjut, selama ini UMKM belum mampu didorong secara penuh untuk aktif memanfaatkan peluang media digital sebagai ajang promosi. Di satu sisi, pelaku usaha juga sebetulnya mesti sudah melirik peluang tersebut dari jauh-jauh hari. Ketika COVID-19 belum hadir, ketika Bali belum resesi. Ini saatnya orang Bali berinovasi dengan cakap teknologi. Dunia ekonomi digital sebetulnya telah lama menanti. COVID-19 hanya bak sekadar tiket kereta gratis. Yang terpenting, kapan orang Bali akan jadi penumpang kereta digitalisasi?

