Oleh : Ni Wayan Kusuma Putri
Toxic relationship sepertinya sudah menjadi istilah yang tidak asing lagi di telinga kita. Toxic relationship atau pola hubungan yang merusak antara dua orang atau lebih seringkali dikaitkan dengan hubungan percintaan antara sepasang manusia. Padahal, toxic relationship bisa mencakup hal yang lebih luas. Misalnya terjadi pada hubungan pertemanan, kakak beradik, maupun orangtua dan anak. Lalu bagaimana bila toxic relationship ini terjadi pada hubungan orangtua dan anak?
Menjadi orangtua bukan hal mudah. Sejak kelahiran anak, para ibu rentan mengalami baby blues hingga depresi pasca melahirkan. Kondisi ini ditandai dengan perubahan suasana hati (mood) yang tak jarang memengaruhi perilakunya pada anak dan suami. Tantangan semakin besar seiring dengan tumbuh kembang anak yang hidup pada generasi berbeda. Tiap orangtua mengharapkan kehidupan terbaik bagi anaknya. Itu mengapa banyak orangtua yang tanpa sadar bersikap protektif, menyalahkan pilihan anak, hingga susah diajak kompromi. Jika dibiarkan, hubungan semacam ini dapat berkembang menjadi toxic dan berdampak negatif pada tumbuh kembang anak.
Tak selamanya keluarga dapat digambarkan sebagai mutiara atau harta yang paling berharga. Sebab, bagi sebagian orang, keluarga justru dapat menghambat perkembangan diri individu. Situasi demikian dikenal dengan disfungsi keluarga, yang awalnya diharapkan menjadi hubungan harmonis, malahan berujung tekanan mental yang melelahkan. Istilah toxic memang terdengar kasar, apalagi menggambarkan hubungan orangtua-anak. Namun, hal ini tidak boleh dianggap sepele karena bisa menimbulkan trauma yang berdampak negatif pada tumbuh kembang anak. Misalnya menurunkan rasa percaya diri, membuatnya takut bertemu orangtua, menyebabkan stres, memengaruhi kemampuan sosialisasi, dan mengganggu kondisi psikisnya.
Dilansir dari laman gustavus.edu, pola asuh buruk juga berimbas pada cara anak memandang identitas dirinya hingga persepsinya terhadap keluarga ideal yang dapat berujung sikap benci kepada orang tua. Orang tua hampir tidak pernah menunjukkan empati pada anak-anak mereka. Mereka kerap mengomentari anak maupun anggota keluarga lainnya dengan komentar yang tidak menyenangkan maupun kritik yang keras terhadap penampilan, perbedaan pola asuh, hingga persoalan sekolah, pekerjaan dan hubungan sosial.
Menghadapi situasi sulit, wajar jika diluapkan dengan rasa marah. Namun marah dibarengi tindakan kasar itulah yang salah. Seseorang yang hidup dalam keluarga yang toxic secara sadar maupun tidak, akan berpotensi mengulang pola hubungan yang sama pada orang lain ketika dewasa atau saat membina rumah tangga. Ini dikarenakan perilaku tersebut sudah meresap ke dalam kebiasaan hidupnya. Itulah mengapa baik ayah maupun ibu harus memiliki waktu untuk diri sendiri untuk mengelola diri dari banyaknya pikiran, sehingga rasa lelah akan hilang. Maka dari itu anak pun tak jadi sasaran emosi kemarahan dan mampu memutus lingkaran pola asuh yang buruk.

