Tumbuh besar di tengah hiruk pikuk perkotaan mungkin terasa bising, ramai, dan sesak. Kendati demikian, perkotaan memiliki akses yang mudah, transportasi yang beragam, fasilitas dan sarana umum yang begitu banyak juga pendidikan yang terjamin. Tak sulit untuk mencari tempat mengemban pendidikan di tengah perkotaan. Bahkan, beberapa sekolah di perkotaan telah mengadopsi sistem belajar serupa dengan negara-negara maju. Namun, pernahkah terbesit dipikiran kita bagaimana nasib pendidikan anak-anak pedalaman? Mengingat Indonesia merupakan wilayah yang begitu luas dan tak semua wilayahnya memiliki akses jalan juga fasilitas pendidikan yang baik.
Hanya untuk sekadar memperoleh pendidikan, anak-anak pedalaman harus menempuh waktu yang panjang, menyusuri jalan-jalan kecil agar sampai ke sekolahnya. Bahkan terdapat anak-anak yang harus beranjak dari rumahnya pagi-pagi buta melewati akses jalan yang tak bisa dibilang aman demi mendapatkan ilmu. Tak dapat dipungkiri, akses sekolah di pedalaman memang sulit dijangkau. Tak hanya itu, fasilitas dan tenaga pengajar di sekolah pedalaman pun minim. Kebanyakan sekolah pedalaman hanya terdapat ruangan kelas yang bahkan jumlahnya terhitung sedikit. Berbeda dengan sekolah-sekolah di perkotaan yang ditunjang fasilitas perpustakaan, lapangan olahraga, laboratorium, ruang komputer, dan lain sebagainya.
Selain itu, mencari pengajar untuk sekolah-sekolah di pedalaman tergolong sulit. Di dalam satu sekolah pedalaman jumlah keseluruhan guru hanya hitungan jari. Lagi-lagi berbeda dengan kondisi di perkotaan yang tenaga pendidiknya mencapai puluhan orang. Inilah yang menyebabkan pendidikan anak-anak di pendalaman kurang maksimal karena banyaknya faktor yang kurang mendukung seperti dari segi akses juga tenaga pendidik. Padahal setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang baik tentunya dapat menjadi salah satu hal yang mempengaruhi kualitas seseorang. Maka, pemerataan pendidikan merupakan hal yang begitu penting.
Walaupun penunjang pendidikan bagi anak pedalaman sangatlah kurang, semangat belajar anak pedalaman tetap berkobar. Meski banyak hal jadi penghalang, anak-anak di pedalaman tak mengeluh demi menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Terus belajar demi masa depan (kp).

