Sudah empat bulan lamanya orang-orang meski bertahan di tengah pandemi COVID-19. Demi menjaga kesehatan, semuanya selalu menahan diri untuk keluar rumah. Satu hal yang menjadi masalah disaat seperti ini, yaitu sulitnya memenuhi kebutuhan. Bahkan pergi ke pasar pun rasanya dipenuhi rasa takut dan ragu. Tetapi, dengan adanya online shopping, kita tak perlu lagi mencemaskan hal tersebut. Cukup melalui ponsel saja, orang-orang sudah bisa membeli berbagai macam kebutuhan. Mulai dari pakaian, alat tulis, hingga bahan pangan pun sudah banyak yang dijual secara online. Maka tak heran, di masa pandemi ini online shopping semakin digandrungi khalayak umum. Semua orang dapat menggunakannya untuk membeli kebutuhan. Kendati begitu, boleh jadi yang dibeli sudah jauh diluar kebutuhannya.
Sebelum berbelanja online calon pembeli dapat melihat terlebih dahulu barang dan jasa yang hendak ia belanjakan melalui situs web atau pun media daring lain yang digunakan sebagai media promosi oleh penjual. Kegiatan belanja daring ini dapat dilakukan secara terpisah dari dan ke seluruh dunia melalui media notebook, komputer, ataupun handphone yang tersambung dengan layanan akses Internet. Kegiatan belanja online sebetulnya bukan hal yang baru, namun seiring berkembangnya zaman kegiatan belanja online semakin diminati orang-orang karena kemudahannya. Hingga saat ini, sudah sangat banyak aplikasi perbelanjaan daring yang dapat diakses bebas oleh masyarakat. Sangat banyak manfaat yang didapat dari belanja daring ini, terutama disaat pandemi seperti sekarang. Kita dapat mengurangi resiko terjangkit COVID-19, berbelanja dengan rasa nyaman, menghemat waktu, dan privasi pun tetap terjaga. Namun jangan sampai, belanja daring ini dilakukan berlebihan.
Berdiam diri dirumah dalam jangka waktu yang cukup lama ini mungkin memang menimbulkan rasa bosan, sehingga sebagian orang melampiaskannya dengan berbelanja. Dilansir dari www.edukasi.compas.com, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) Dr. Wisnu Wibowo mengatakan, aturan WFH dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan di sejumlah wilayah menyebabkan pola perilaku konsumsi masyarakat berubah. Hal tersebut, menurut dia, banyak dipengaruhi oleh bergesernya aktivitas luar jaringan (luring) menjadi dalam jaringan (daring) setelah adanya pandemi. Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan demonstration effect, yakni masyarakat terpengaruh secara psikologis karena banyak melihat etalase dan transaksi produk atau barang-barang yang secara luas ada di berbagai market place ataupun yang sifatnya online shop. Dengan begitu, adanya perilaku konsumsi masyarakat cenderung meningkat.
Maka pada dasarnya memang diri kita sendiri yang harus lebih berhati-hati dan bijak dalam berbelanja daring. Jangan sampai kita kesulitan mengontrol kondisi keuangan sendiri. Terlebih lagi ini merupakan masa pandemi, dimana ekonomi menjadi faktor yang sangat penting untuk kita dapat bertahan. Memang kelihatannya hanya masyarakat mampu yang beresiko menjadi semakin konsumtif, tetapi tetap saja siapapun bisa punya keinginan untuk menjadi konsumtif. Jadi pikirkanlah, dan pilah kembali mana yang kebutuhan, mana yang hanya sekedar keinginan. (scy)

