Hingga kini, isu-isu rasisme masih saja hangat dibincangkan. Kembali terangkat akibat tragedi kematian George Floyd asal Amerika Serikat, nampaknya kini seluruh dunia telah menganggap rasisme ini sebagai masalah serius. Belum lama ini masyarakat khususnya di Amerika Serikat kembali mengangkat kasus-kasus rasisme yang selama ini belum sempat disuarakan. Aksi unjuk rasa BLM (Black Lives Matter) pun kembali dilakukan. Tak terlewat, Indonesia pun kembali memprihatinkan persoalan ini. Kampanye #PapuaLivesMatter masih terus berjalan dengan berbagai petisi hingga donasi untuk menyuarakan hak warga papua.
Dikutip dari id.m.wikipedia.org, rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya. Paham rasisme ini nyatanya bukanlah menyerang orang-orang tak berpendidikan. Rasisme bisa tumbuh pada siapapun, apapun status sosialnya. Dan tak hanya dari perbedaan warna kulit, rasisme ini juga bisa muncul akibat adanya perbedaan kebudayaan. Apabila ada kaum minoritas diantara suatu kaum mayoritas, terkadang kaum mayoritas disini merasa dirinya lebih superior, maka terbentuklah rasisme. Dilansir dari nationalgeographic.grid.id, satu hasil penelitian psikologi rasisme di Afrika Selatan menunjukkan bahwa pembentukan ide yang menyatakan orang kulit putih memiliki kedudukan yang istimewa mengantarkan pada hegemoni politik sejak masa poskolonialisme pada tahun 1900-an di negara tersebut.
Di Indonesia sendiri, rasisme sudah terbentuk sejak jaman kolonial. Belanda dahulu membuat beberapa stratifikasi sosial pada masyarakat jajahannya. Ditambah lagi pada masa Orde Baru, pemerintah melakukan represi terhadap etnis Tionghoa. Perilaku rasisme ini sudah tentu sangat merugikan bagi mereka yang dipandang 'rendah'. Hanya karena berbeda, kaum minoritas tak dihargai dan dianggap buruk. Prasangka buruk inilah yang melahirkan berbagai tindak diskriminasi. Diskriminasi ini juga bisa disebabkan stereotype yang sudah ada sejak lama. Jadi apabila seseorang tumbuh di lingkungan yang dipenuhi orang-orang rasis, bisa saja tanpa sadar ia akan menjadi seseorang yang rasis pula. Karena informasi itulah yang diserapnya dari awal dan dikiranya benar. Akibatnya, kaum minoritas akan sangat sulit mendapatkan hak mereka dan tidak diterima di masyarakat.
Rasisme memang sulit untuk diputus begitu saja. Bahkan berbagai gerakan unjuk rasa pun nampaknya belum cukup juga untuk menyadarkan semua orang. Pemikiran yang salah ini nampaknya sudah tertanam di sebagian orang dan membutuhkan usaha ekstra untuk mampu menyadarkannya. Sekarang yang dapat kita lakukan untuk memutus hal ini adalah mengedukasi diri sendiri dan orang-orang disekitar sebaik mungkin. Terutama generasi muda, karena dengan edukasi yang kuat tentu mereka akan terhindar dari perilaku rasisme (scy).

