Semenjak virus SARS-CoV-2 menyerang Indonesia, segalanya jadi berubah. Belum lagi hingga kini telah tercatat 55.092 pasien positif COVID-19 di Indonesia. Angka yang begitu besar tersebut tentu saja membuat masyarakat terbelenggu oleh kekhawatiran. Karena itulah, sedapat mungkin mengurangi pertemuan tatap muka di berbagai bidang. Tak terkecuali pada bidang pendidikan, dalam sekejap para pelajar mesti menyesuaikan diri untuk belajar dari rumah dengan memanfaatkan sambungan internet.
Pembelajaran di rumah menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mencegah meluasnya persebaran COVID-19. Selain itu, kebijakan ini dilaksanakan agar para pelajar tetap mendapat edukasi di tengah wabah COVID-19 ini. Benar saja tak ada hal yang langsung berjalan mulus tanpa rintangan. Seperti halnya kegiatan belajar online yang tuai pujian juga keluhan.
Dengan bentuk pembelajaran jarak jauh, diharapkan kasus COVID-19 perlahan-lahan akan berkurang. Di tengah-tengah pembelajaran pun, para pengajar acap kali menyelipkan ajaran agar anak didiknya senantiasa menerapkan perilaku hidup sehat dan tidak pergi keluar rumah kecuali ada kepentingan yang mendesak. Di sisi lain dengan sekolah online kita juga lebih dekat dengan keluarga kita. Hal ini bisa dilihat selama anak sekolah online, orang tua akan memiliki waktu lebih untuk mendampingi anaknya serta membantunya jika ada masalah dalam proses pembelajarannya.
Namun, tak sedikit pula pelajar yang mengeluhkan perihal pembelajaran via daring. Apakah benar sekolah online itu malah menyusahkahkan pelajar? Apakah sekolah online justru memberi dampak negatif pada anak? Untuk turut serta dalam proses pembelajaran daring, tentunya para pelajar membutuhkan alat komunikasi seperti handphone dan laptop sebagai penunjang. Tentunya tak semua anak memilikii perlengkapan yang memadai. Tak cukup sampai disitu, agar pembelajaran dapat berjalan lancar maka jaringan internet juga harus memadai. Pasalnya, tatkala ekonomi tengah terombang-ambing, orang tua tetap harus menyisihkan uangnya untuk membeli paket internet. Ditambah lagi tak semua daerah memiliki jaringan internet yang lancar.
Lantas, bagaimana dengan pemberian tugas sekolah kepada anak? Guru-guru akan memberikan tugas berupa foto atau video kemudian murid mengerjakannya tugasnya lalu difoto dan dikirim kembali. Beberapa guru meberikan tugas yang banyak sehingga murid akan merasa kelelahan dan cenderung untuk malas mengerjakannnya. Tetapi justru itu yang terkadang malah sangat membantu anak untuk memahami materi yang diberikan oleh gurunya secara mandiri. Di tengah badai pandemi ini, memang betul pembelajaran jarak jauh dinilai lebih baik dijalankan demi kesehatan semua orang (kp).

