Media sosial kini jadi salah satu bagian yang miliki peran besar dalam kehidupan masyarakat era modern. Media daring mampu menyatukan masyarakat dari berbagai belahan dunia. Kemudahan dalam mengakses dan berbagai fitur menarik didalamnya tentu menjadi nilai tambah media sosial. Maka tak heran, dari tua hingga muda, semuanya menggandrungi media sosial. Di media sosial kita dapat bertukar pesan singkat, pesan suara, foto digital, video, dan berbagai konten lainnya secara online. Dilansir dari www.teknoia.com, banyak pengguna media sosial di tahun 2020 ini mencapai 3,8 milyar atau sekitar 50% dari populasi bumi. Penggunanya pun bervariasi, mulai dari orang dewasa, remaja, hingga anak-anak.
Sejak tahun 1995 dimana media sosial pertama kali diluncurkan, media ini sudah banyak membantu kehidupan manusia. Mulanya belum ada vitur seperti pertemanan virtual yang marak digunakaan saat ini. Seiring berjalannya waktu, media sosial terus berkembang, hingga ditahun 2004 ditemukanlah Facebook, yang menjadi salah satu jejaring sosial terpopuler sampai sekarang. Kini, telah banyak jejaring sosial yang dikenal masyarakat luas seperti Twitter, Instagram, WhatsApp, Line, dan masih banyak lagi. Ya, bertahun-tahun lamanya media sosial telah menjadi platform yang dapat membantu milyaran penggunanya. Manusia yang semulanya sulit menjangkau satu sama lain, bisa tetap saling terhubung meskipun tak harus bertemu. Tugas sekolah, ataupun pekerjaan kantor juga dapat dengan mudah dibantu oleh berbagai situs web di internet.
Pagi, siang, malam, kapanpun dan dimanapun, nampaknya semua orang tanpa henti menggunakan media sosial. Sekadar mengecek update terkini atau menghubungi kerabat, yang entah mengapa dirasa menyenangkan. Media sosial memanglah platform yang menyediakan informasi dan peristiwa nyata, tetapi janganlah kita terlalu terpaku kedalamnya. Tak jarang, pengguna sosial media justru menyalahgunakan media ini. Entah konten kurang mendidik, ujaran kebencian, hingga yang paling sederhana saja, pamer. Semua orang pasti berusaha untuk terlihat sempurna di media sosial. Makin hari, memperlihatkan kemewahan sudah menjadi hal yang wajar. Memang tidak ada salahnya kalau ingin berbagi, membagikan kehidupan sehari-hari, karena memang itu salah satu tujuan media sosial. Namun jika dilakukan berlebihan, entah namanya berbagi atau hanya ingin memamerkan kelebihan semata.
Dikutip dari www.techno.okezone.com, sebuah survei oleh Royal Society for Public Health di Inggris pada Mei 2017 menunjukkan sekira 1.479 orang berusia antara 14 dan 24 tahun yang menghabiskan lebih dari dua jam sehari di situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter atau Instagram lebih cenderung menunjukkan gejala kecemasan dan depresi. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh perilaku membanding-bandingkan yang tak jarang kita lakukan. Melihat orang disekitar hidup bahagia, bergelimang harta, dan sukses bisa-bisa membuat diri kita merasa tertekan. Padahal apa yang diposting seseorang pada media sosial sebetulnya hanyalah bagian-bagian terbaik dalam hidupnya. Kita tak akan pernah tau apakah mereka hidup dalam kebohongan. Konten-konten seperti itu tentu tak mudah kita hentikan. Maka bijaklah kita dalam penggunaan media sosial, gunakan sewajarnya untuk hal-hal positif (scy).

