Kasus positif COVID-19 di tanah air kian meningkat. Situasi ini mau tak mau membuat orang-orang berdiam diri di rumah demi mengurangi interaksi sosial. Dampak badai COVID-19 ini pun dapat dirasakan dalam berbagai bidang kehidupan. Segalanya jadi terombang-ambing.
Akibatnya banyak sektor penting terganggu seperti perekonomian, pendidikan, pariwisata, dan masih banyak sektor yang terdampak. Hal tersebut juga turut menimbulkan masalah sosial seperti kelangkaan barang, tindakan kriminal, meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja (PHK), dan disorganisasi dan disfungsi sosial. Lantas, sampai kapan hal ini akan terjadi? Apakah seharusnya kita menunggu situasi kembali normal barulah dapat beraktivitas kembali? Namun, tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan situasi akan kembali normal kembali. Kapan virus yang tengah menginfeksi satu dunia ini mengibarkan bendera putih tanda perdamaian. Solusi sementara yang diberikan pemerintah adalah dengan diberlakukannya new normal. Apa itu new normal?
Dikutip dari kompas.com. Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmita menjelaskan new normal merupakan perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan COVID-19. Hingga saat ini sudah ada 4 provinsi dan 25 kabupaten/kota yang bersiap menerapkan new normal. Lantas mengapa pemerintah ingin menerapkan new normal? dikutip dari finance.detik.com saat ini angka indikator perkonomian Indonesia sudah parah. Meningkatnya angka pengangguran juga memiliki hubungan dengan tingkat pergerakan konsumsi dalam negeri. Selain itu sekian juta pekerja sudah di PHK dan dirumahkan. Jika hal ini terus berlanjut maka semakin banyak masyarakat yang akan mendekati garis kemiskinan dan pemerintah tidak dapat terus menerus memberikan bantuan sosial bagi masyarakat. Untuk itu langkah new normal dirasa perlu diambil untuk meningkatkan aktivitas ekonomi kembali.
Tentu saja keputusan untuk melaksanakan new normal menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Di satu sisi langkah yang diambil pemerintah ini dinilai baik dalam membangkitkan sektor yang sempat terpuruk akibat COVID-19. Namun, di sisi lain masyarakat masih belum sepenuhnya yakin dengan langkah yang diambil oleh pemerintah. Pemerintah dianggap belum benar-benar dapat menangani virus ini. Mengingat hingga saat ini kasus COVID-19 di Indonesia masih terus meroket. Jumlah pasien positif yang meningkat setiap harinya pun tak dapat dikatakan sedikit jumlahnya. Dalam sehari setidaknya terdapat ratusan penduduk Indonesia yang terjangkit COVID-19.
Memang new normal ini sah-sah saja dilakukan untuk membangun kembali perekonomian Indonesia. Masyarakat pun perlu kembali bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kendati begitu, sebelum new normal ini diterapkan, ada baiknya jika pemerintah menetapkan aturan yang jelas dan tegas terlebih dahulu. Selain itu, kesadaran masyarakat dalam mengikuti protokol kesehatan juga perlu ditingkatkan kembali. Sehingga masyarakat dapat beraktivitas dan sektor-sektor perekonomian mampu bangkit secara perlahan (nin).

