Satu kasus mencuat, detik selanjutnya satu berita sudah terbit. Begitu cepat, bak satu kedipan mata saja. Masyarakat yang terlanjur penasaran pun langsung terjangkit ke dalamnya. Membaca sesaat dan berkomentar tanpa banyak pikir. Nyatanya, masa kini berita yang kerap muncul ialah berita tanpa informasi, data, dan fakta yang kuat. Hanya mementingkan siapa yang lapaknya pertama kali dibaca masyarakat. Bodohnya pula, masyarakat langsung telan, tanpa pikir matang-matang.
Kritik demi kritik masyarakat mulai terlontar menanggapi berita tersebut. Sontak keadaan mulai memanas dan persoalan pun tak kunjung henti dibahasnya. Pers, selaku “pengedar” informasi mengandung edukasi. Tak luput berpedoman pada kebenaran yang tajam. Di era teknologi saat ini, berbagai informasi bermunculan begitu mudah. Salah satunya lewat media sosial yang tidak mengenal batas ruang dan waktu. Hampir seluruh masyarakat Indonesia memiliki akun di media sosial. Secara otomatis, berita tanpa 100% kebenarannya dengan mudah menjangkau mereka. Yang penting berita itu mampu memikat pandangan masyarakat. Begitulah warga net Indonesia. Satu saja gencar, terbuai sudah untuk berkomentar. Karena hal inilah prinsip seorang pers seakan luntur. Pers yang diyakini menjunjung tinggi kebenaran, kini perlahan merosot mementingkan ketertarikan masyarakat.
Berita yang sebatas “menarik” perhatian terasa begitu sepele di kalangan masyarakat. Yang mereka tahu hanya tampak luarnya saja. Jika informasi seorang pers sebatas itu, maka akan merugikan pihak di dalam berita tersebut. Selain terjadi pencemaran nama baik, fitnah pun tidak dapat terelakan. Di sinilah seorang pers harus cakap dalam memilah suatu informasi. Kita dapat mengambil contoh dari kasus Audrey yang masih hangat diperbincangkan saat ini. “Audrey, bocah SMP yang dikeroyok oleh 12 siswa SMA karena masalah cinta”. Saat itu keadaan memanas, karena tersebar isu bahwa area intim korban ditusuk dengan jari oleh salah satu pelaku. Pers berlomba-lomba menayangkan berita tersebut. Tapi, usut punya usut informasi itu tidaklah benar. Setelah polisi mengambil alih kasus penyelidikan, tidak ditemukan kerusakan pada alat kelamin korban. Ditambah lagi, penganiayaan korban berjumlah tiga orang tanpa melakukan aksi pengeroyokan. Maka, warga net yang awalnya menghujat pelaku, kini berbalik menyerang korban.
“Pengalaman adalah guru terbaik,” kalimat yang harus kita tanamkan dalam diri. Dari kasus itu hendaknya seorang pers lebih membuka mata. Tugasnya memang memberikan informasi terkini tetapi berlandaskan atas fakta yang mendalam. Ia harus menelaah demi mengetahui seluk beluk informasi tersebut. Niscaya, tidak ada lagi pihak yang merasa dirugikan karena sesosok pers. (ay)

