Kunci pintu, tutup kaca jendela, lalu tarik gorden sampai sinar mentari gagal menyelinap. Biarkan gelap, toh anak itu matanya sudah ditutup Tuhan sedari dulu. Biarkan dikurung, toh anak itu hanya dapat duduk diam di kursi rodanya. Ditinggal sendiri, juga mereka tidak akan sadar. “Ah biarkan saja di rumah, daripada nama keluarga jadi bahan gosip tetangga sebelah, bikin malu.”
Pola pikir macam itu nyatanya masih saja berkeliaran di beberapa benak orang tua. Tidak ingin dunia tahu rupa istimewa darah dagingnya sendiri. Risih dengan macam-macam tatapan yang orang lain lemparkan. Rasanya hati kecil masih menjerit menolak hadiah yang diberikan Tuhan. Tidak adil katanya, malu katanya. Lebih memilih menyimpan anak di rumah daripada mengenalkannya pada dunia luar untuk menyicipi manis pahitnya dunia pendidikan. Seolah dunia luar tak menerima kelebihan spesial yang anak disabilitas miliki, padahal nyatanya pihak orang tua saja yang masih dilanda rasa malu. Bahkan data hasil survei yang dilakukan Kelompok Kerja UU Disabilitas pada tahun 2015, menyatakan dari 21 juta penyandang disabilitas di Indonesia, hanya 12% atau 2,5 juta yang dapat mengenyam pendidikan. Belum lagi dibalik angka 21 juta itu masih banyak anak disabilitas yang belum terlacak akibat kekangan untuk menampakkan diri ke dunia luar.
Padahal data miris ini seharusnya tidak menjadi kenyataan, sebab UU No 8 Tahun 2016 tepatnya pada pasal 6 tentang hak pendidikan bagi kaum disabilitas telah siap menjadi tameng kuat. Namun, apalah daya bila ingin memperjuangkan hak, tapi justru dijerat oleh rasa malu orang tua lebih dulu. Ir. Ida Ayu Pradnyani Manthara membeberkan bila masih saja ada orang tua kategori cuek yang datang ke Yayasan Pendidikan Dria Raba, tempatnya mengabdi. Walau termasuk ke dalam angka yang kecil. Tetap saja sangat disayangkan masih ada pola pikir orang tua macam itu. Giliran talenta terpendam si anak baru ketahuan dan borong sederetan prestasi, mendadak jadi perhatian publik, pihak orang tua yang dulunya cuek pun matanya baru terbuka. Langsung mengumbar identitas dan berbangga diri. Buru-buru katakan “Itu lho anak saya,”.
Begitu banyak pertanyaan yang berputar. Kenapa baru sekarang? Kenapa rasa bangga itu baru muncul? Kemana saja dulu? Bak menjilat ludah sendiri, orang tua yang kurang rasa syukur itu kini baru menempel. Sana sini berbangga diri, hingga dapat saja satu kampung akhirnya tahu. Sebenarnya dari awal siapa yang bikin malu? (tik)

