Emansipasi wanita telah berhasil didobrak oleh sosok yang tak lain ialah RA Kartini. Wanita hingga kini berkedudukan sejajar dengan para pria yang dahulu posisinya amat menonjol. Pada masa lampau, wanita seakan dikelilingi pagar-pagar besi yang bila disentuh dapat membakar jiwa. Di masyarakat, peran dan aktivitas mereka sangat terbatas. Bukan main, sedikit pergerakan saja mereka diperlakukan secara tidak adil bahkan tergolong kejam. Caci maki menghantam psikis wanita yang sesungguhnya amat mulia. Ketika keberadaannya belum mendapat pengakuan yang berarti, wanita tak punya banyak kuasa. Kepala tertunduk, berderai air mata, patuh pada perintah yang mengarah kepadanya.
Zaman telah menjelma menjadi begitu modern. Wanita telah cukup memperoleh hak-haknya di masyarakat. Sudah banyak tembok-tembok pembatas yang runtuh seiring berkembangnya waktu. Akan tetapi, yang dapat disaksikan memang belum seluruhnya mampu dipatahkan oleh peradaban. Tak sedikit wanita yang merasakan penindasan. Bahkan tak jarang luka batin yang wanita rasakan berasal dari sanak keluarga.
Misalnya saja, kejadian yang terekam dan dapat diamati di Bali. Wanita akan menapaki masa dimana mereka harus meninggalkan orang tua, anggota keluarga lainnya, untuk memulai kehidupan berumahtangga. Penyesuaian diri pasti perlu dilakukan. Terlebih Bali kental dengan adat istiadat serta beragam sarana upacara, yang bukan tidak mungkin berbeda dengan daerah asal mereka. Banyak yang wanita pertaruhkan. Tak sepele pula pertimbangan mereka. Pemikiran yang telah berbaur dengan era globalisasi, tidak semestinya dikesampingkan. Bukankah sebelum menyetujui tambahan anggota keluarga dengan menyandang predikat anak, harus lapang dada dan menerima segala sesuatu terkait dirinya?
Kebanyakan wanita telah dituntut untuk dapat melakukan segala sesuatu dan memahami seluk beluk keluarga pasangannya. Tak bertindak sesuai kemauan mertua, khususnya ibu, seorang wanita bukan tidak mungkin dibentak. Menyerang sisi paling halus seorang wanita, menimbulkan luka begitu membekas. Sosok ibu mertua sesungguhnya juga wanita biasa. Apakah perlakuan itu adalah bentuk balas dendam atas apa yang telah dialaminya dulu?
Saat balas dendam sebagai motivasinya, tentu takkan pernah berakhir. Emansipasi wanita artinya belum sepenuhnya benar implementasinya. Wanita perlu mengekspresikan diri. Seandainya ia wanita karir, tentu tak mudah baginya untuk tinggal di rumah, melaksanakan setumpuk kegiatan adat. Memutuskan menikah pasti tak sedikit persiapannya. Walau belum utuh dan sempurna, mereka telah berusaha. Memaklumi dan membantunya untuk memahami dunia barunya, bukankah tidak sulit? Dengan menerima keberadaan 'wanita baru' dalam sebuah keluarga, perlahan akan mengikis anggapan dan ketakutan terhadap sosok mertua. Beri mereka ruang. Dorongan berupa semangat juga perlu datang dari pasangan. Kedepannya, pagar pembatas hubungan menantu dan mertua yang dingin akan hancur diterpa keharmonisan. (rik)

