Oleh : Ni Luh Nitya Sawitri
Menanggapi tulisan : Ni Ketut Ayu Fitariani, Putu Jyotira Dias, dan I Gusti Ayu Agung Citra Perama Devhi
Warna warni kanvas lukisan selalu indah untuk dipandang. Namun, dalam kenyataan bukan warna-warna itu yang akan menuai pujian. Melainkan pelukis handal yang berhasil memadukan warna-warna tersebut. Sama halnya dengan Indonesia. Indonesia terdiri dari 17 ribu pulau, 34 provinsi, beragam suku bangsa, bahasa, budaya, dan adat istiadat. Perbedaan tersebut membuat Indonesia terlihat lebih indah. Budaya yang melebur jadi satu, akan menghasilkan budaya baru yang lebih unik. Sejak dahulu, pahlawan bangsa Indonesia sudah bersatu untuk menyatukan Indonesia demi meraih kemerdekaan. Mereka mengesampingkan perbedaan dan mengutamakan persatuan. Sikap itu seharusnya menjadi panutan bagi masyarakat di abad ke-21 ini.
Dalam tulisan Ni Ketut Ayu Fitarini yang berjudul “Indonesia Dulu dan Kini: Perjuangan Tidak Pernah Berdiri Sendiri”, disampaikan bahwa sebagai bangsa dengan keberagaman, masyarakatnya selalu bersatu padu demi mencapai cita-cita dan tujuan bangsa, yaitu Persatuan dan Kesatuan Indonesia. Bahkan dari masa penjajahan, rakyat Indonesia dengan perpedaan suku bangsa, bersatu demi melepaskan diri dari belenggu penjajah. Menanggapi hal tersebut, saya rasa menyatukan Indonesia tidak semudah kedengarannya. Kini, bangsa Indonesia harus melanjutkan perjuangan mereka dalam mempertahankan persatuan Indonesia. Nyatanya, hal itu jauh dari kata mudah. Sebab, masyarakat Indonesia mulai ternodai dengan sikap yang memicu perpecahan.
Dalam menyikapi ‘noda’ tersebut, kini bangsa Indonesia memiliki visioner yang diharapkan dapat menjaga dan merawat ke-Indonesiaan. Dalam tulisan yang berjudul “Membentuk yang Terbentuk, Milenial untuk Indonesia”, Putu Masayu Cahyaning Lestari menyebutkan bahwa berdasarkan Data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2020, generasi milenial terdiri dari 25,87% dari populasi manusia di Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa generasi millennial menempati posisi tertinggi kedua sebagai populasi terbanyak di Indonesia, setelah generasi Z. Dengan hal tersebut, generasi milenial berperan penting dan berpotensi untuk memberikan pengaruh terhadap keberlangsungan hidup bangsa Indonesia. Generasi ini memiliki semangat yang kuat untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Mereka tidak mudah puas dengan keputusan yang dibentuk. Akan ada pertanyaan lanjutan atas hal yang mereka dapat.
Sikap semangat dan kritis generasi milenial menjadi kunci persatuan bangsa Indonesia. Mereka bersatu demi mencapai suatu keputusan. Adanya perbedaan, tidak menjadi halangan bagi mereka untuk berjuang. Dalam menghadapi perbedaan tersebut, mereka melakukan koordinasi dan kolaborasi. Dalam tulisannya, Ni Ketut Ayu Fitarini juga menyebutkan bahwa kolaborasi sudah dilakukan oleh pahlawan bangsa Indonesia demi mencapai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Sayangnya, kini tidak semua masyarakat menyadari pentingnya persatuan. Bukankah bekerja sendiri lebih mudah? Bukankah diri sendiri paling hebat? Mungkin begitu pikir mereka. Satu, dua golongan, masih saja ada yang menganggap diri paling hebat. Padahal kita berdiri di satu tanah, Tanah Air Indonesia.
Selama 350 tahun suku bangsa Indonesia dikekang oleh rantai kolonialisme belanda, 3,5 tahun oleh bangsa Jepang, 86 tahun oleh bangsa Portugis, dan masih ada bangsa-bangsa lainnya. Tapi, kenapa mereka baru berhasil memerdekakan Indonesia pada tahun 1945? Padahal sudah sejak lama mereka berkeinginan untuk menyatukan Indonesia agar terbebas dari belenggu penjajah. Saya rasa, karena awalnya mereka masih bersifat kedaerahan. Hanya sebagian kecil yang mengerti pentingnya persatuan dalam mengusir penjajah dari tanah Indonesia.
Hal ini juga berlaku bagi generasi milenial yang sedang menghadapi ancaman di negara sendiri. Meskipun ada beberapa individu yang tidak menyadari petingnya hal ini, tidak sedikit pula dari mereka yang berkeinginan kuat untuk melanjutkan perjuangan pahlawan bangsa Indonesia. Generasi milenial bisa menjadi perisai bagi Indonesia dari peluru pemicu perpecahan. Perbedaan dijadikan sebagai peluru yang dapat menyakiti bangsa sendiri. Satu persatu peluru mulai melayang untuk mengancam keberadaan negara Indonesia. Menyakitkannya lagi, peluru tersebut ditembakkan dari dalam Indonesia, menuju ke dalam Indonesia. Bukan ancaman yang datang dari luar.
Masyarakat Indonesia kerap menjadikan perbedaan budaya sebagai sebuah dalih untuk terpecah belah. Budaya nenek moyang yang seharusnya menjadi keunggulan bangsa Indonesia, malah menjadi alasan perpecahan bangsa Indonesia. Budaya ini bahkan mulai luntur. Motif lilin di kain batik, tidak lagi menjadi gambar yang bermakna. Mulai terlupakan, tapi menimbulkan perpecahan. Betapa miris situasi negeri ini. Apabila budaya lama yang indah mulai luntur, mengapa budaya lama seperti korupsi malah semakin merajalela? Bukankah terkesan seperti pilih kasih? Budaya yang lebih menguntungkan akan lebih diutamakan.
Keterikatan masyarakat Indonesia dengan budaya korupsi dituangkan oleh Putu Jyotira Dias dalam tulisan berjudul “Generasi Milenial Tonggak Perubahan Indonesia”, yang menjabarkan bahwa pandemi tidak menjadi pengahalang bagi oknum tidak bertanggung jawab untuk melancarkan ‘aksi’ Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Berdasarkan hal ini, harus kita akui bahwa korupsi sudah menjadi budaya bangsa Indonesia. Korupsi menjadi suatu rahasia umum yang sudah diketahui oleh banyak orang. Tidak hanya korupsi uang, masyarakat Indonesia juga seringkali melakukan korupsi dalam bentuk lainnya. Mulai dari menunda-nunda pekerjaan, terlambat untuk datang dalam suatu pertemuan, sampai mencontek.
Korupsi bak ulat yang memakan daging apel. Bagian luar terlihat indah, sementara bagian dalamnya tidak jauh dari kata ‘busuk’. Apabila tidak ‘dimusnahkan’, maka Indonesia bersifat racun bagi diri sendiri. Oleh karena itu, penyelesaian dari masalah tersebut tidak dapat dilakukan dengan cara yang kuno. Dibutuhkan kontribusi dari generasi millennial untuk memberikan solusi yang lebih kreatif dan inovatif. Terlebih lagi, sebagian besar masyarakat Indonesia terdiri dari generasi milenial. Sehingga, generasi ini memiliki posisi yang kuat untuk memberikan pengaruh di masyarakat.
Tidak hanya kreatif dan inovatif, generasi milenial juga pandai dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Telah kita ketahui bahwa generasi milenial hidup di zaman yang modern. Karena hal ini, mereka memiliki kecapakan teknologi yang lebih tinggi, dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Selaras dengan pendapat I Gusti Ayu Agung Citra Perama Devhi dalam tulisannya yang berjudul “Milenial, Nahkoda Kapal Indonesia”, generasi milenial tidak dapat dipisahkan dari teknologi. Namun, kemajuan teknologi bak pisau bermata dua bagi penggunanya. Ia dapat ‘memulihkan’ Indonesia, dan juga dapat ‘meruntuhkan’ Indonesia. Maka dari itu, mereka sebaiknya menggunakan teknologi dengan bijak, agar tidak berakibat buruk bagi bangsa Indonesia.
Sebagai generasi yang cakap teknologi, mereka bisa mengajak masyarakat Indonesia untuk bersatu padu menjaga dan merawat ke-Indonesiaan. Dalam tulisan tersebut, disebutkan bahwa unjuk rasa bukan solusi ‘pandai’ yang dapat digunakan untuk mengkritisi sistem di Indonesia. Melainkan, dengan karya-karya kreatif yang masih memperhatikan batasan. Bisa melalui konten di sosial media, ataupun tulisan di media massa. Selain itu, menurut saya menyampaikan surat secara langsung ke pemerintah bukan salah satu solusi yang efektif. Apakah mereka memperdulikan sepucuk surat yang menyuarakan penderitaan rakyat kecil? Mungkin belum tentu. Sebagian besar dari mereka hanya akan mengambil keputusan yang menguntungkan diri pribadi. Maka dari itu, akan lebih baik jika generasi milenial menggunakan teknologi dengan kreatif untuk menyalurkan kritik-kritik tersebut. Tidak hanya sekadar menulis dengan bentuk tulisan. Melainkan bentuk tulisan yang menarik perhatian banyak orang. Seperti, komik lucu, poster, video kreatif, dan konten kreatif lainnya yang akan menarik perhatian pemerintah.
Semakin banyak generasi milenial yang menjadi kepala dari aksi tersebut, masyarakat lain juga akan tergugah untuk melakukan hal yang sama. Mengingat belakangan ini konten di media sosial sangat mudah untuk dipopulerkan. Dengan mengikuti tren tersebut, mereka akan perlahan menyadari bahwa masih banyak hal di Indonesia yang harus dijaga dan dirawat. Sehingga, generasi milenial dan kemajuan teknologi dapat menjadi penggerak untuk menjaga dan merawat ke-Indonesia.

