Oleh: I Gusti Ayu Agung Citra Perama Devhi
Istilah generasi milenial tentu tak asing lagi di telinga kita. Kelompok generasi muda kelahiran tahun 1980 - 1995 ini acap kali digadang-gadang sebagai aktor terdepan dalam membawa perubahan bangsa. Kerap pula di-cap sebagai nahkoda kapal Indonesia. Sang pemegang kemudi setir penentu arah masa depan.
Generasi milenial atau yang juga dikenal dengan sebutan generasi Y ini lahir di tengah perkembangan arus teknologi informasi dan komunikasi modern yang telah mendominasi. Sehingga pola berinteraksi dan komunikasi cenderung banyak memanfaatkan jaringan internet khususnya media-media sosial yang berkembang dewasa ini.
Pesatnya kemajuan teknologi sejatinya menjadi salah satu pemegang peranan vital dalam menjaga dan merawat ke-Indonesiaan. Ke-Indonesiaan sendiri berarti segala hal yang bersangkut paut dengan Indonesia. Baik dari segi ekonomi, politik, pendidikan, sosial budaya, dan lain-lain. Melesatnya laju perkembangan teknologi informasi turut mampu menentukan nasib bangsa. Namun kembali lagi, kemana arahnya, bergantung pada kemudi sang nahkoda.
Kita ketahui bahwa milenial dan teknologi ibarat dua sejoli. Apapun langkah milenial mengemudikan kapal Indonesia, tak akan terlepas dari peran serta teknologi. Berbasis teknologi, sang nahkoda mampu “memulihkan Indonesia”. Misalnya dalam hantaman pandemi seperti ini. Keterpurukan sektor ekonomi menjadi salah satu bencana besar yang melanda setiap jengkal wilayah Indonesia di kala pandemi, terutama Bali. Hanya bertumpu pada sektor pariwisata membuat roda perekonomian Bali sulit berputar, bahkan nyaris tak berfungsi.
Dalam kegelapan ini, generasi milenial diharapkan hadir membawa lilin penerang. Pemberi harapan bangkitnya perekonomian dari jurang resesi. Salah satunya dengan melahirkan bisnis start up. Dilansir dari Katadata.co.id, start up adalah sebuah istilah yang merujuk pada suatu bisnis atau perusahaan rintisan. Perusahaan rintisan merupakan perusahaan yang baru beroperasi dan masih berada pada fase pengembangan untuk menemukan pasar dan mengembangkan produk. Saat ini, istilah start up lebih dikerucutkan lagi menjadi perusahaan rintisan yang mengacu pada bisnis berbasis teknologi atau lebih dikenal dengan sebutan start up digital.
Start up digital inilah yang cocok dilakoni oleh kaum milenial. Dengan berbasis teknologi, milenial akan lebih mampu merintis dan mengembangkannya. Terlebih, pandemi tak menghambat intensitas penggunaan gawai dan media sosial masyarakat. Justru sebaliknya, jumlah pengguna internet kian meningkat di kala pandemi. Dengan begitu, usaha yang dirintis memiliki peluang yang besar untuk maju dan berekspansi. Kehadiran aktor-aktor muda pelaku bisnis start up inilah yang diharapkan mengambil peran guna membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebab kehadirannya di masyarakat akan membuka peluang kerja dan perlahan membangkitkan perekonomian yang tengah merangkak.
Jika terus digeluti dan didalami, ada banyak hal yang dapat dilakukan sang nahkoda kapal dalam berlayar menuju kemerdekaan Indonesia yang sesungguhnya. Kemerdekaan 76 tahun silam yang dikumandangkan Bapak Proklamator Indonesia belum mencapai esensi yang sempurna dalam pelaksanaannya. Nyatanya kini marak terjadi tindak perpecahan, kemiskinan, korupsi, dan masih banyak lagi. Kemunculan berbagai polemik dalam kehidupan bernegara sering kali dipicu oleh pengguna media sosial yang tak arif bijaksana. Misalnya menjamurnya hoax ke permukaan, pertikaian antar umat beragama, serta sikap etnosentris yang menjadi tren. Bayangkan bagaimana wajah Indonesia dalam 15 tahun ke depan apabila ketiga hal tersebut menjadi wajar adanya? Dalam hal ini, milenial tak boleh tinggal diam atau bahkan menjadi salah satu di antara pelaku. Cerdas menerima informasi dan saring sebelum sharing adalah upaya sederhana yang dapat dilakukan guna mencegah dan meminimalisir perpecahan bangsa. Sederhana, namun bermakna.
Kemudian, kemiskinan dan korupsi. Sesungguhnya keduanya berkaitan. Rakyat kecil yang miskin adalah akibat dana bantuan sosial (bansos) yang dikorupsikan. Sedangkan tindak korupsi yang terjadi adalah karena mereka, para koruptor, muak dengan kemiskinannya dahulu. Dua hal tersebut seolah telah membudaya di negara kita. Namun yang mengherankan, situasi pandemi tidak melunturkan “semangat” para tikus berdasi untuk korupsi. Bahkan situasi ini dimanfaatkan untuk meraup lebih banyak cuan dengan mempermainkan harga tes PCR, mengurangi jumlah bantuan sosial yang turun, bahkan parahnya sama sekali tidak menyalurkan dana yang cair kepada masyarakat. Tak heran mengapa jalanan sekitar gedung pemerintahan belakangan kerap ditutupi oleh para demonstran yang menuntut keadilan.
Jika dipikir-pikir, daripada membuang-buang energi, mari ubah kebiasaan lama. Pepatah mengatakan, generasi muda itu penuh karya. Menuangkan kritisi-kritisi atas sistem perpolitikan Indonesia dalam sebuah karya akan jauh terasa lebih elegan dibandingkan berbondong-bondong turun ke jalan dan menggencarkan aksi spionase. Aksi unjuk rasa itu percuma. Teriakan rakyat kecil tak mampu menembus tebalnya tembok gedung-gedung pemerintahan. Tak mampu pula mengetuk pintu hati pemangku jabatan untuk bersimpati. Akan lebih baik bila mengemas kritik tersebut dalam secarik surat yang ditujukan langsung pada pemerintah. Dapat pula melalui sebuah gambar karikatur dan konten-konten media sosial yang mengkritik namun menggelitik. Atau bahkan langsung melakukan mediasi dengan pemerintah bersangkutan. Cara-cara itu jauh lebih berkelas, namun harus tetap memperhatikan koridor batasan.
Aksi milenial turun ke jalan juga akan jauh lebih berkelas bila barang yang digenggam bukanlah batu, kayu, beling, ataupun sebentang kain bertuliskan kata-kata menuntut keadilan. Melainkan menggenggam beberapa kantong makanan untuk dibagikan kepada yang membutuhkan. Itu generasi muda yang sesungguhnya. Yang langsung terjun mengatasi persoalan bangsa, bukannya hanya berkoar-koar di sosial media. Ibaratnya, bila ada kebocoran kapal, nahkoda bersinergi dengan awak kapal untuk langsung mengatasi kebocoran. Bukan hanya memarahi awak kapal atas kebocoran yang terjadi, namun nahkoda diam tanpa aksi.
Menjadi nahkoda kapal Indonesia tak boleh sekedar saja. Sang pengemudi mesti arif dan bijaksana. Juga mahir dalam mengemudikannya. Sebab kapal ini rawan terjangan badai. Kerap dihadang batu besar dan petir yang tak terduga. Salah dalam memutar kendali, nasib Indonesia menjadi taruhannya. Maka dari itu, nasib bangsa berada di tangan generasi milenial, sang nahkoda kapal Indonesia.

