Oleh : I Gede Abhijana Prayata Wistara
Generasi milenial, mereka terlahir di tengah arus perkembangan teknologi yang begitu pesat. Sangat pesat, bahkan. 100 tahun yang lalu, orang-orang telah mencoba memprediksi akan seperti apa perkembangan teknologi saat ini. Masa depan dimana setiap orang memiliki mobil terbang pribadi, masa depan dimana mereka dapat mengendalikan cuaca sesuai keinginan hati. Sayangnya, tidak ada mobil-mobil yang kian beterbangan di angkasa.
Mengendalikan cuaca? Saya rasa tidak, melihat bagaimana cuaca yang kian tak menentu menjadi tantangan terbesar bagi penghuni masa depan. Tetapi di masa depan, ada suatu hal yang lebih canggih daripada mobil terbang atau alat pengendali cuaca. Sesuatu yang akan memengaruhi setiap jiwa penghuni masa depan, for better or for worse. Jangankan 100 tahun yang lalu, mereka yang hidup 10 tahun; tidak, 5 tahun yang lalu saja tidak dapat memprediksi bagaimana ‘sesuatu’ tersebut akan sangat berpengaruh di masa depan. Mungkin anda sudah menebak ‘sesuatu’ tersebut. Ya, ‘sesuatu’ tersebut adalah internet.
‘Milenial’, nama yang cocok untuk sebuah generasi yang akan membangun pondasi bagi kehidupan satu milenia ke depan. Sebuah tanggung jawab, atau beban, yang tidak semua dari mereka sadari. Dalam era digital, internet memengaruhi setiap gerak-gerik kehidupan manusia. Tetapi bukan berarti itu adalah hal yang buruk. Listrik misalnya, merupakan suatu hal yang memengaruh setiap gerak-gerik kehidupan manusia. Tentunya itu adalah hal yang wajar, mengingat listrik membantu menerangi kehidupan mereka. Dan, layaknya listrik, internet juga membantu ‘menerangi’ kehidupan manusia.
Di tengah arus perkembangan digital, sekelompok petinggi negara tengah memilih langkahnya dengan bimbang. Bagaimana mereka bisa menyaingi ‘penerangan’ yang dilakukan oleh internet, si pendatang baru ini. Karena selama ini, mereka lah yang telah melakukan ‘penerangan’ tersebut.
Generasi milenial merupakan generasi yang akan meneruskan Bangsa Indonesia dikemudian hari nanti, atau mungkin saat ini. Untuk itu, mereka perlu menjaga dan merawat Ke-Indonesiaan. Tetapi apa yang dimaksud dengan Ke-Indonesiaan? Menghargai jasa para pahlawan? Tentu saja, tetapi hal yang sama juga berlaku bagi bangsa-bangsa lain dengan pahlawan mereka tersendiri. Mencintai tanah air? Tentu juga, tetapi hal yang sama juga berlaku bagi bangsa-bangsa lain yang mencintai tanah airnya pula. Lantas, apa yang membedakan cinta kita ke Indonesia dengan cinta bangsa-bangsa lainnya? Apakah kita hanya mencintai bangsa karena kita lahir disana? Tentu saja tidak.
Ada suatu hal yang merupakan ciri khas Indonesia, sesuatu hal yang mendorong kita untuk menjaga dan merawat Indonesia. Bukan karena kita terlahir disana, melainkan karena kita mencintainya. Hal itu adalah aspirasi bangsa, cita-cita bangsa. Sesuatu yang dapat mempersatukan berbagai individu dari beragam kebudayaan, suku, dan agama. Kita mungkin tidak dipersatukan oleh etnis yang sama seperti Jerman. Kita mungkin tidak dipersatukan oleh budaya yang sama seperti Jepang, atau agama yang sama seperti Belgia. Tetapi jangan salah, kita memiliki sesuatu yang melampaui hal-hal tersebut. Melampaui batasan etnis, budaya, dan agama. Sebuah bangsa yang mampu bersatu teguh meski di tengah keberagaman. Itulah kekuatan aspirasi bangsa, cita-cita bangsa. Membentuk suatu ikatan tali persaudaraan tanpa adanya hubungan darah.
Itulah hal yang perlu kita jaga, kita rawat. Dan saat ini, itu pula tantangan bagi generasi milenial Bangsa Indonesia. Tantangan untuk menjaga dan merawat aspirasi bangsa di tengah arus kemajuan teknologi era digital. Tetapi generasi milenial tidak harus melawan kemajuan tersebut, melainkan mereka dapat memanfaatkannya. Karena arus perkembangan teknologi ini bisa saja membantu Bangsa Indonesia untuk semakin dekat dengan aspirasinya.
Perkembangan teknologi komunikasi dapat memudahkan lalu-lintas penyebaran informasi, tidak peduli apa informasi tersebut. Disinilah kemampuan critical thinking diperlukan. Maka dari itu, critical thinking merupakan salah satu kemampuan yang perlu diasah generasi milenial dalam perjalanannya untuk meraih aspirasi bangsa.
Dan generasi milenial juga bukan hanya kritis terhadap yang berseberangan saja, tetapi juga terhadap mereka dari arah yang sama. Mengkritik negara kita bukan berarti kita tidak mencintainya. Para jurnalis mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap sesuatu karena mereka mencintai Indonesia, meski mereka bertentangan dengan pendapat ‘Indonesia’ itu sendiri.
Kepiawaian generasi milenial untuk memanfaatkan teknologi mendorong peranan mereka dalam persoalan masyarakat dan bangsa. Era digital ini memudahkan mereka untuk menyuarakan aspirasi mereka kepada negara. Salah satunya adalah dengan mengajukan petisi secara daring. Petisi ini mereka gunakan untuk menyampaikan keinginan mereka terhadap kemajuan negara. Beberapa dari petisi-petisi tersebut berhasil menarik tanggapan dari pemerintah, bahkan beberapa sudah diterima dan diterapkan.
Kehadiran pandemi Covid-19 di Indonesia telah menunjukan dengan jelas seberapa besar peranan generasi muda terhadap keberlangsungan bangsa. Mereka yang berusia muda memiliki komplikasi yang lebih ringan dibandingkan yang berusia lebih tua. Sehingga mereka bisa saja melanjutkan aktivitas mereka seperti biasanya, dengan anggapan bahwa Covid-19 tidak akan menyebabkan komplikasi buruk kepada mereka. Tetapi kenyataan berkata lain. Saat hotel-hotel masih terbuka lebar bagi turis-turis asing, kegiatan sekolah dan universitas tempat mereka mengemban ilmu kian ditutup, pendidikan mereka diberlakukan secara daring.
Tentu saja kegiatan perekonomian itu penting bagi kemajuan negara, tetapi hal yang sama juga bisa dikatakan mengenai kegiatan pendidikan. Mereka, generasi muda saat ini, mempertaruhkan masa depan mereka saat mengikuti pembelajaran daring yang penuh dengan ‘coba-coba’ ini. Tetapi apakah mereka pernah koar-koar di jalanan menuntut pemberhentian pembelajaran daring? Anda tahu sendiri jawabannya.
Memang ini tidak berarti bahwa generasi milenial lebih serius menanggapi pandemi Covid-19 dibandingkan yang lain. Tetapi mungkin saja ada sesuatu yang menyebabkan mereka lebih menerima era new normal ini. Kata kuncinya adalah ‘terbiasa’. Mereka sudah terbiasa memanfaatkan jejaring-jejaring era digital dalam kehidupan mereka. Sehingga mereka tidak perlu beradaptasi lagi, mereka sudah kenal akan hal itu.

