Oleh : Ni Ketut Ayu Fitarini
Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, dan beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia. Begitu kutipan Ir. Soekarno. Bapak Proklamator Indonesia yang namanya tentu sudah dikenal oleh seluruh masyarakat Indonesia. Tepat 76 tahun Indonesia berdiri. Berdiri sebagai negara yang terbebas dari jeratan kolonialisme para penjajah. Mengapa orang-orang terdahulu itu bisa meraih kemerdekaan? Meraih kemenangan untuk Bangsa Indonesia? Mengapa mereka “rela berkorban” untuk bangsa? Atau sesungguhnya mereka “rela berjuang” untuk Indonesia?
Kemerdekaan Indonesia saat ini tidak pernah luput dari peran para pemuda terdahulu. Pergerakan yang berani dan peristiwa-peristiwa perjuangan untuk kedaulatan bangsa, semua itu didorong dengan semangat golongan muda dulu yang membara. Sebagai contoh, peristiwa Rengasdengklok yang diprakarsai golongan muda Indonesia. Para pemuda sampai mengancam Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan. Diskusi dilakukan antara Ir Soekarno, Mohammad Hatta, dan golongan muda. Mereka bersepakat akan memproklamasi kemerdekaan Indonesia di Pegangsaan, Jakarta.
Bukan hanya itu, peristiwa sumpah pemuda juga menggambarkan bagaimana para pemuda dari seluruh wilayah Indonesia, dari berbagai Jong di Indonesia saling berkolaborasi atau bersama-sama menciptakan tujuan dan cita-cita para pemuda Indonesia agar dapat terwujudnya persatuan dan kesatuan Indonesia. Jangan salah, pahlawan Indonesia yang berjuang di medan perang hingga darah penghabisan juga para pemuda Indonesia. Martha Christina Tiahahu yang terjun langsung melawan kolonial Belanda dalam perang Pattimura. Daan Mogot yang menjadi instruktur Pembela Tanah Air (PETA), mendirikan akademi militer Tangerang di usia muda, dan tetap berjuang bertahan menembak penjajah Belanda untuk menyelamatkan bawahannya walaupun dirinya sudah tertembak di dada (idntimes.com). Mereka berdua sama-sama meninggal di saat remaja, yaitu 17 tahun.
Begitulah perjuangan pemuda Indonesia dulu. Mereka bersama-sama menyatukan Indonesia. Indonesia negara beribu pulau, berjuta jiwa, beragam budaya dan rasa. Mereka menyerahkan semuanya untuk bangsa Indonesia. Seiring berjalannya waktu, perjuangan para pemuda Indonesia tidak lagi dengan pedang dan bilah bambu. Namun, tetap dan selalu sama perjuangan pemuda tidak akan pernah terlepas dari makna berkolaborasi itu sendiri. Tidak ada pahlawan Indonesia yang berjuang sendiri-sendiri untuk kepentingan pribadi mereka. Mereka bersatu padu, bersama-sama, berkolaborasi untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Mereka bukan rela berkorban, tapi rela berjuang. Jika dipikir-pikir kata “korban” sendiri saja sudah tidak enak didengar. Saya yakin pemuda Indonesia dulu tidak ada yang mau menjadi korban kolonialisme penjajah. Tapi, mereka rela untuk berjuang. Mereka tidak berpikir apakah mereka akan tetap mati atau hidup. Asalkan mereka bersama-sama bersemangat untuk memperjuangkan Indonesia dengan peran mereka sendiri-sendiri. Organisasi-organisasi kepemudaan oleh pemuda Indonesia dahulu juga mengerti peran mereka itu seperti apa. Mereka berjuang sesuai dengan keahlian mereka. Tidak semua pahlawan muda Indonesia mengangkat senjata, tapi ada juga yang menuangkan isi pikiran, gagasan, dan ide mereka untuk persatuan bangsa Indonesia.
Perjuangan bukan selalu soal mengucurkan tenaga dan keringat untuk bersama-sama melawan penjajah, mempersatukan Indonesia, perang berdarah, ancaman, dan semacamnya. Perjuangan kita saat ini lebih mengarah ke kemampuan kita melihat peluang dan peran dalam diri kita untuk Indonesia. Kemampuan kita sebagai generasi milenial dalam menjaga dan merawat apa yang sudah menjadi milik kita selami ini, yang merupakan hasil dari perjuangan terdahulu, yaitu kemerdekaan bangsa Indonesia. Lalu, kemampuan para pemuda Indonesia saat ini untuk menyatukan tujuan bersama tanpa adanya intrik-intrik dan tujuan pribadi di dalamnya juga merupakan tantangan besar dalam perjuangan pemuda Indonesia di abad ke-21 ini.
Peranan pemuda terdahulu juga terlihat jelas. Ada yang bergabung di PETA (Pembela Tanah Air) ada juga yang bergabung di PPPI (Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia). Dalam dunia kepemimpinan Indonesia juga memiliki peran-peran serta keahlian yang berbeda. Seperti Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta. Ir. Soekarno merupakan pemimpin eksekutor Indonesia yang memberi orasi-orasi membara semangat nasionalisme dan patriotisme pemuda Indonesia. Ir. Soekarno juga pandai dalam pelaksanaan rencana-rencana untuk memperjuangkan Indonesia. Di sisi lain, Mohammad Hatta merupakan pendamping yang konseptor. Dirinya banyak menghabiskan waktu untuk berpikir dan belajar, merencanakan dan merumuskan teks proklamasi. Eksekutor dan konseptor saling bergotong royong memberi yang terbaik untuk bangsa Indonesia. Membentuk ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila.
Perbedaan peranan kepemimpinan eksekutor dan konseptor juga dapat terlihat dari kepemimpinan di Indonesia yang berubah seiring zaman yang dinamis, yaitu kepemimpinan di masa BJ Habibie dan Soekarno. Mereka sama-sama berjuang dengan peran dan zamannya masing-masing. Soekarno memimpin di zaman perjuangan bangsa Indonesia untuk melepas diri dari jeratan penjajah, sedangkan B.J.Habibie memimpin untuk menjaga dan mengembangkan nama Indonesia itu sendiri. Habibie membawa nama Indonesia dengan inovasi-inovasinya yang dapat membuka mata dunia. Dirinya bahkan disebut Mr. Crack karena Habibie termasuk orang pertama yang bisa memperlihatkan cara menghitung crack of propagation on random sampai ke atom-atomnya (kompas.com). Dalam hal ini, peranan itu sendiri tidak dapat dipaksakan. B.J. Habibie tidak harus mengangkat senjata dan berorasi dengan lantang untuk Indonesia, tapi dengan karya-karyanya Habibie mampu mengharumkan nama Indonesia. Sehingga pada kata pepatah “keluar dari zona nyaman” sebenarnya tidak 100% tepat bagi saya. Namun, bagaimana cara kita mengembangkan dan melebarkan zona kita. Itu yang tepat menurut saya. Jika keluar zona nyaman hanya untuk menyerupai seseorang yang dikagum-kagumkan, sama saja kita masih belum tau apa peran diri kita sendiri sebenarnya.
Indonesia membutuhkan kita, generasi muda milenial Indonesia. Yang mampu berjuang menjadi diri kita sendiri, tidak terpengaruhi oleh tren-tren negatif. Hanya kita yang saat ini memahami perkembangan teknologi dan seluk beluknya. Hanya pemuda lah yang memiliki waktu dan kekuatan fisik yang lebih untuk berjuang dan belajar berbagai hal lebih banyak lagi. Generasi muda memiliki spirit untuk selalu mengembangkan inovasi mereka. Hanya anak-anak muda yang tahu bagaimana cara menghindari diri dari berita palsu atau hoax. Selain itu, para pemuda juga tahu mudahnya berinteraksi, nongkrong, ngobrol, dan berkolaborasi terhadap orang-orang di sekitarnya. Kita generasi muda, sekarang berjuang untuk merawat keIndonesiaan ini.
Kian Indonesia termakan usia, Indonesia yang dulunya merupakan negara demokrasi berubah sedikit demi sedikit menjadi negara industrialisasi. Sudah memudar bagaimana kolaborasi pejuang terdahulu untuk satu tujuan yaitu Indonesia. Kini, masyarakatnya berdiri sendiri untuk memenuhi kebutuhan maupun kepuasan pribadi. Elit-elit besar semakin bertambah hartanya, sedangkan masyarakat pekerja semakin kesulitan. Mereka bermain-main dengan politik yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu. Sehingga kesejahteraan Indonesia saat ini, diperjuangkan penuh dengan kepalsuan dan tujuan-tujuan tersembunyi hanya untuk kepentingan kelompoknya. Lalu, bagaimana sikap kita menghadapi tantangan Indonesia saat ini?
Sederhana. Sikap kita sebagai pemuda Indonesia kembali lagi seperti dulu. Pemuda Indonesia yang berkolaborasi dan bersama-sama berjuang mencari “apa cita-cita kita saat ini?”. Sedari awal Indonesia adalah bangsa Komunal, yang hidup berdampingan dan bersama-sama menghadapi sebuah tantangan. Sikap saling berkolaborasi inilah yang penting bagi pemuda Indonesia sekarang. Dengan berkolaborasi, pemuda Indonesia dapat membentuk tujuan bersama mereka. Perjuangan melawan elit besar tidak hanya dengan berdemo atau unjuk rasa. Unjuk rasa yang dilakukan pemuda Indonesia saat ini memberi sedikit dampak, bahkan memberi dampak buruk. Seperti merusak fasilitas hingga memakan korban jiwa. Unjuk rasa sekarang dilakukan oleh sebagian anak muda hanya dengan kekerasan fisik. Maka dari itu, pemuda Indonesia harus memiliki sikap peka untuk melihat perubahan-perubahan. Sehingga kita tahu, apa solusi dari polemik atau permasalahan yang terjadi di negeri kita ini.
Sikap saling menghargai dan menghormati juga penting. Dengan sikap ini, pemuda Indonesia juga mampu menerima keberagaman di Indonesia. Baik itu keberagaman suku, agama, ras, adat istiadat, pendapat, dan masih banyak lagi. Sikap ini juga mampu menjauhkan para pemuda Indonesia dari keegoisan pribadi dan dapat menumbuhkan sikap untuk saling memahami, bahwa selama ini 76 tahun Indonesia berdiri, perjuangan tidak ada yang dilakukan secara sendiri dan untuk diri sendiri. Perjuangan untuk Indonesia ya untuk Indonesia. Hanya pemuda-pemuda dari seluruh lapisan Indonesia lah yang masih memiliki kesempatan besar untuk mengembalikan nilai-nilai keIndonesiaan yang sudah diperjuangkan oleh pendahulu kita.

