Oleh : Agung Sri Anindya Swari
Indonesia, sebuah negara yang terletak di antara Benua Asia dan Benua Australia. Memiliki luas wilayah sekitar 7 juta dan jumah penduduk yang mencapai 200 juta jiwa membuat Indonesia memiliki modal untuk menjadi negara yang patut diperhitungkan di mata dunia. Berdirinya Indonesia tidaklah secepat seperti legenda Bandung Bondowoso membangun Candi Prambanan dalam waktu satu malam. Butuh waktu sekitar beberapa abad untuk menemukan Indonesia yang sesungguhnya yang dimulai dari zaman masuknya kerajaan Hindu-Budha, peristiwa proklamasi, hingga detik ini. Semua hal tersebut dilakukan oleh pendahulu kita demi mempertahankan eksistensi Indonesia.
Kini, 76 tahun sudah Indonesia menghirup aroma kebebasan dari belengu penjajahan. Hal ini dapat terjadi berkat rasa memiliki dan keinginann yang sama. Namun, tonggak perjuangan tidaklah berakhir pada masa itu saja, tetapi sebagai masyarakat Indonesia kini sudah saatnya kita mengambil “Tongkat estafet" pendahulu kita dan berlari menuju masa depan. Mengantarkan Indonesia mencapai tujuannya serta merawat apa yang diwariskan kepada kita.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia, Indonesia memiliki penduduk yang di dominasi oleh generasi milenial dan generasi Z. Menurut hasil sensus penduduk 2020 pada Jumat (22/01/2021), jumlah generasi Z yakni penduduk yang lahir pada periode tahun 1997-2021 menduduki peringkat pertama yakni sebesar 75,49 juta jiwa atau setara dengan 27,94 persen sedangkan posisi kedua ditempati oleh generasi milenial, generasi yang lahir diantara tahun 1981-1996 dengan total 69,38 juta jiwa atau sebesar 25,87 persen. Kedua generasi ini diharapkan akan membawa Indonesia mencapai bonus demografi pada 2045.
Sebagai generasi milenial, sudah seharusnya kita berperan sebagai agent of change dalam merawat Indonesia. Tidak seharusnya kita acuh dan menganggap negeri ini baik-baik saja. Pada kenyataannya negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Banyak hal yang melanda bangsa ini mulai dari isu radikalisme, separatisme, korupsi, dan masih banyak hal lainnya yang bisa kita saksikan dengan mata kepala kita sendiri dalam kehidupan nyata, Jika hal ini terus terjadi, Indonesia akan kehilangan jati dirinya seiring dengan berkembangnya zaman.
Merawat Indonesia sekarang tentu tidaklah mudah. Masalah yang dihadapi bangsa seperti radikalisme, korupsi, kemiskinan, krisis toleransi, pemberotakan, hingga lunturnya nilai-nilai adiluhur yang ditamkan oleh para founding father membuat jalan yang harus ditempuh untuk menjaga dan merawat Indonesia masih panjang dan memerlukan proses. Jika bercermin dari sejarah, karakter yang masih tertanam di diri masyarakat Indonesia adalah mental inlander dan mental ini sepertinya sudah menjadi ciri khas dari masyarakat Indonesia. Belum lagi masyarakat yang fanatik terhadap suatu hal dan berusaha mendahulukan kepentingan kelompoknya bahkan berusaha mendominasi masyarakat. Jika hal ini terus terjadi, Indonesia akan tentu kehilangan warnanya yang beragam. Sebagai generasi milenial, tentu kita tidak mau kehilangan warna tersebut bukan?
Secara teori, mungkin kita pasti sudah tahu bagaimana cara merawat Indonesia dan saya yakin kita semua pernah diajarkan hal ini disekolah. Namun, apalah jadinya jika sebuah teori tanpa ditimpali oleh praktik. Sama saja seperti sebuah kebohongan. Generasi milenial harus sadar bagaimana posisi dan peran mereka di masyarakat, tetapi mungkin kesempatan yang diberikan kepada generasi milenial terbatas dan hukum di Indonesia yang cenderung tajam kebawah dan tumpul keatas membuat mereka enggan untuk mengaspirasikan dan berpartisipasi dalam menjaga ke Indonesian. Padahal sebagai bagian dari masyarakat, peran mereka juga tidak kalah penting jika dibandingkan dengan generasi X dan generasi diatasnya.
Bukan berarti seluruh generasi milenial terbungkam. Di masyarakat sendiri, saya banyak melihat generasi ini mulai aktif menyuarakan hal-hal yang dianggap perlu diperhatikan oleh pemerintah. Terbukti dari banyaknya organisasi pemuda yang saya temukan di sosial media dan di kehidupan sehari-hari, Mereka khawatir terhadap isu politik, lingkungan, pendidikan, dll yang melanda negeri ini. Dan terkadang saya merasa iri kepada mereka, generasi milenial yang sudah berani bersuara di tengah kondisi masyarakat yang statis dan kaku ini, tetapi setiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam menjaga dan merawat keindonesiaan dan saya sangat meyakini hal itu. Lantas, apa yang bisa dilakukan generasi milenial dalam menjaga dan merawat Indonesia? Saya rasa jawaban yang tepat adalah perubahan pola pikir dan karakter dari masyarakat. Terdengar gampang bukan? Namun, kenyataannya sangat susah untuk merubah hal tersebut di tengah masyarakat yang konservatif. Jangankan merubah, untuk memulai saja sepertinya memerlukan usaha yang keras.
Menurut saya, generasi milenial adalah contoh dari masyarakat dinamis. Mereka mengalami perubahan yang cepat dan cenderung terbuka terhadap paham-paham baru. Hal tersebut tentunya sangatlah bagus, tetapi dengan catatan generasi milenial perlu berpegang teguh terhadap nilai-nilai yang masih dipegang bangsa ini. Jangan sampai, memasukkan paham-paham yang tidak sesuai dengan identitas bangsa dan malah menghancurkan bangsa ini. Sikap tegas juga diperlukan dalam menjaga bangsa ini dari ancaman-ancaman yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.
Ruang dialog pun juga harus diberikan pemerintah kepada generasi milenial dalam menanggapi isu-isu bangsa. Bukan berarti milenial tidak melek terhadap persoalan bangsa, siapa tahu, dari sekian juta jiwa generasi milenial dan Z akan muncul bibit-bibit baru yang unggul yang nantinya akan mengantarkan Indonesia menuju masa keemasannya. Kritis, generasi milenial perlu menanamkan sikap ini. Sikap kritis diperlukan untuk menanggapi dan menyelesaikan setiap persoalan di Indonesia. Selain itu sikap ini diperlukan dalam menyikapi perkembangan zaman.
Saya yakin, generasi milenial bukan generasi sembarangan dan abal-abal. Meskipun usia mereka masih terbilang muda, tetapi lahir dan tumbuh diantara persoalan bangsa ini membuat mereka terbiasa dan terbentuk sesuai dengan kepribadian bangsa ini. Dan sekarang yang perlu mereka sadari adalah identitas asli mereka sebagai bagian dari Indonesia dan juga semangat perjuangan yang ditanamkan oleh para pejuang bangsa ini . Sudah saatnya mereka bangkit, mereka bukanlah generasi pasif dan pemalas. Kalaupun mereka begitu, itu adalah kesalahan dari pola asuh dan pendidikan yang diberikan. Maka dari itu pendidikan juga perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Pendidikan juga sebagai bekal bagi generasi milenial dalam menjaga bangsa ini, mengisi diri mereka, dan tentunya hasil pendidikan ini akan menciptakan golongan-golongan unggul yang mampu memberikan inovasi dan ide-ide mereka terhadap negeri ini. Menjadikan mereka pemimpin di negeri mereka sendiri bukan sebagai budak dari globalisasi.

