Perhitungan sasih di Bali dipercaya turut mempengaruhi suhu. Sementara, usut punya usut penyebaran COVID-19 pun dipengaruhi suhu juga kelembapan udara. Lantas, bagaimana persepsi remaja mengenai pengaruh sasih pada peningkatan pasien positif dan meninggal akibat COVID-19?
Setiap sasih memiliki karakteristiknya sendiri. Seperti misalnya sasih karo ngunya sadha yang jatuh pada Selasa (21/7) hingga Selasa (18/8) mendatang. Biasanya udara saat sasih karo ngunya sadha akan terasa dingin. Sebab kelembapan berjalan selaras dengan suhu, maka saat sasih tersebut kelembapan udaranya juga akan rendah. Kondisi dingin serta kelembapan rendah cenderung membuat virus Sars-CoV-2 kian gesit penyebarannya. Kendati begitu, banyak remaja beranggapan bahwa sasih dan perkembangan kasus COVID-19 tak ada sangkut pautnya. Hal tersebut terungkap dari hasil polling pada Jumat (7/8) yang dilaksanakan Madyapadma kepada 100 remaja dengan rentang usia 14 hingga 20 tahun. Dimana 4% diantaranya merupakan siswa SMP, 82% merupakan siswa SMA, dan sisanya 14% adalah mahasiswa. Karakteristik responden lainnya yakni 75% perempuan serta 25% laki-laki.
Tim Madyapadma online melaksanakan survei dengan memanfaatkan google form menggunakan metode acak sederhana. Berdasarkan hasil survei, mayoritas remaja yakni sebanyak 74% mengetahui mengenai sasih. 11% mengaku tidak tahu menahu mengenai sasih. Sebagian kecil yaitu 2% responden sangat tidak mengetahui apa itu sasih. Berbanding terbalik dengan 5% responden sangat mengetahui sasih. Sedangkan sisanya 8% memilih untuk tidak menjawab. Sementara itu, hanya 3% responden yang merasa perhitungan sasih di Bali sangat berhubungan dengan COVID-19. Made Widiadnyani (18) pun membagikan pandangannya “Menurut saya ketika perhitungan sasih jatuh pada musim pancaroba dimana biasanya kondisi cuaca tidak menentu, menungkinkan adanya kenaikan grafik dari penyebaran COVID-19 dimana hal tersebut disebabkan oleh menurunnya imunitas tubuh manusia pada musim-musim tersebut,” kata Widiadnyani. Rupanya Widiadnyani tidak sendiri, sebab 15% lainnya juga beranggapan perhitungan sasih dan badai pandemi memang memiliki hubungan. Berbeda dengan tanggapan 30% remaja yang merasa COVID-19 dan sasih tak memiliki hubungan. 7% berpikiran COVID-19 dan sasih merupakan dua hal yang sangat tidak berhubungan. Mayoritas, 45% merasa ragu-ragu dan enggan menjawab.
Di sisi lain, 32% responden beranggapan perhitungan sasih tidak berpengaruh pada peningkatan pasien positif COVID-19. “Sebenarnya menurutku lebih ke perilaku masyarakatnya soalnya udah mulai keluar-keluar rumah. Jadinya kasusnya juga makin banyak. Mungkin kalau sasih bisa berpengaruh sedikit,” ujar Ni Nyoman Lavanya Iswari Devi. Meski kalah jumlah, 19% merasa sasih memiliki pengaruh pada lonjakan-lonjakan pasien terjangkit COVID-19. Seperti halnya yang diuangkapkan Widiadnyani “Misalnya pada perhitungan sasih kanem yang dipercaya akan menyebabkan mudahnya manusia terjangkit virus maupun penyakit dari luar,” ucap Widiadnyani. Angka yang cukup banyak memilih untuk enggan berpendapat yakni berjumlah 41%. 7% lainnya merasa sasih sangat tidak memiliki pengaruh pada peningkatan pasien positif COVID-19. Lain hal dengan minoritas remaja sebanyak 1% yang merasa perhitungan sasih akan sangat berpengaruh pada peningkatan pasien terinfeksi virus Sars-CoV-2.
Lantas, 17% responden juga merasa catatan kematian COVID-19 juga dipengaruhi oleh sasih. “Menurut saya berpengaruh karena setiap perubahan sasih setiap bulannya akan berpengaruh terhadap iklim/perubahan cuaca. Jadi secara tidak langsung kematian akibat COVID-19 bisa meningkat pada sasih sasih tertentu, salah satu contohnya sasih kasadha. Pada sasih ini hawa dingin mulai menyelimuti. Banyak orang yang akan mulai terjangkit penyakit seperti pilek, demam serta penyakit yang lainnya. Akan banyak masyarakat yang akan meninggal karena penyakit COVID-19 yang diperparah oleh penyakit musiman yang diderita masyarakat pada sasih ini, terutama orang yang sudah tua,” papar Putu Dipta Wikananda (18). Bahkan, bagi 1% remaja, sasih punya pengaruh sangat besar pada jumlah korban jiwa karena COVID-19. Berbanding terbalik dengan 35% responden yang beranggapan perhitungan sasih di Bali tidak akan mempengaruhi jumlah kematian akibat COVID-19. Berikutnya, 8% berpikiran bahwa perhitungan sasih di Bali sangat tidak akan berpengaruh pada pasien yang tutup usia dikarenakan virus Sars-CoV-2. Sedangkan, sisanya sebanyak 39% enggan untuk turut berpendapat.

